Sang Guru (15)

by Bu Wiwik on Monday, October 24, 2011 at 7:24pm

Pada tahun pertama aku ikut kegiatan pondok, sering sekali aku mendengar komentar sinis tentang Sang Guru. Di bawah ini aku kutipkan beberapa komentar dari beberapa orang yang berbeda dan dari beberapa  kesempatan yang berbeda pula.

” Bu wiwik itu kok bisa-bisanya ikut dia?…. orang tidak berpendidikan….”.

” Kita ini sarjana-sarjana….. masak manut sama kyai yang kita nggak tahu di mana ngajinya….”

” Kalau cari guru itu mbok lihat-lihat….. apa dia pantas jadi guru apa tidak….”

” Memang dia itu mondoknya di mana sih?……”

” Bukannya bu wiwik lebih pinter daripada dia?……”

” Berani taruhan, kalau dia bisa ngaji, tak kasihkan  semua kekayaanku…. ungkapan Jawa ”(tak wenehno sak leker genthongku)”

Aku menduga,  komentar itu muncul karena wawasannya yang sempit yang memahami pendidikan hanya dari bangku sekolah atau pondok pesantren. Dia tidak melihat ada pendidikan alam. Allah, dalam posisinya sebagai Tuhan Pencipta dan Penguasa Alam, juga sebagai pendidik bagi makhluqnya. Aku juga melihat, komentar itu muncul karena karakternya yang sombong, merasa dirinya paling pintar dan paling baik sehingga tidak mudah mengakui orang lain itu “pintar dan baik”. Yang model begini bisa juga karena dia tidak jujur terhadap dirinya sendiri atau iri karena ada orang lain yang lebih pintar atau lebih baik.  Dan yang ketiga, aku melihat komentar itu muncul karena dalam kerangka berfikirnya dia lebih didominasi oleh penglihatan dan penghayatan fisik. Citra fisik yang buruk berdampak pada pemikiran dan penilaian yang buruk juga.

Kadang aku menaruh iba kepada Sang Guru. Kok bisa-bisanya mereka memberi komentar demikian buruknya kepada Sang Guru. Padahal aku melihat sesuatu yang istimewa dalam dirinya. Aku melihat keindahan akhlaq dibalik penampilannya. Aku melihat kecerdasan dibalik kesederhanaannya. Aku juga melihat kepasrahan kepada Tuhan dibalik kerja kerasnya. Anehnya beliau sendiri  tidak pernah marah atau tersinggung oleh komentar-komentar buruk itu. Dan memang,  hanya orang-orang  kecil yang mempermasalahkan hal-hal kecil.  Beliau punya motto ” halangan, rintangan, ujian dan cobaan adalah konsumsi harian. Fitnah dan lawan adalah hiburan…”.

Jadi, aku melihat beliau, sepertinya, “biarlah segala sesuatu berjalan menurut ukurannya…..”

Namun di luar itu semua, aku tetap saja ingin mencari tahu bagaimana perjalanan hidupnya selama ini. Melalui obrolan dengan istrinya, adik kandungnya dan beberapa teman masa kecil dan teman lamanya yang pernah hidup bersama di perantauan aku mendapatkan cerita seperti ini :

Sang Guru lahir di Desa Plosorejo Kecamatan Gondang Kabupaten Sragen pada tahun 1961 ( versi lain tahun 1959). Menurut adiknya yang saat ini bekerja di kantin pondok, beliau adalah anak yang “beda” dari saudara lainnya.  Misalnya, pada musim kering penggunaan air sangat dibatasi. Air dipisahkan antara air untuk mandi dan air untuk konsumsi.  Beliau tidak mau mengikuti aturan itu sehingga air untuk konsumsi pun dipakainya untuk mandi. Tidak peduli saudaranya marah, beliau tidak mau mandi dengan air “kotor”. Demikian juga soal makan dan minum. Semua anak diberi jatah piring seng tetapi beliau maunya  piring beling yang bagus.

Dari teman masa kecilnya yang sekarang buka warung di pinggir jalan dekat pondok, ada cerita bahwa saat masih sekolah di SD (dulu SR) ada pembagian susu gratis seminggu 2 kali. Ibu guru selalu menyerahkan tugas membagi susu itu kepada Sang Gurul. Anak-anak yang lain tinggal antri membawa cangkir yang sudah disiapkan dari rumah masing-masing.

Pada usia 10 tahun beliau meninggalkan rumah. Menurut cerita, sesudah sembuh dari khitan, suatu malam atau tepatnya saat dini hari beliau dibangunkan dan diajak pergi oleh  seorang kakek tua  berjubah hijau. Esok paginya terdengar kabar bahwa beliau “hilang” dari kampung Plosorejo. Berkaitan dengan hal ini Sang Guru pernah menyampaikan kisah bahwa ketika kecil ditugasi oleh ibunya untuk menggembala kambing, kemudian ganti kerbau, kemudian ganti lagi dengan sapi. Ibunya menjanjikan kalau sapinya sudah melahirkan, maka beliau akan mendapatkan seekor anak sapi. Tetapi ketika tiba saatnya sapi itu melahirkan, ibunya mengingkari janji. Beliau kecewa lalu  pergi dari rumah.

Beliau menjalani pengembaraan dengan kondisi tanpa nama, tanpa bekal dan tanpa surat identitas. Dengan kondisi seperti itu, beliau dilarang meminta-minta. Kalau ada orang yang memberi, beliau hanya boleh mengambil sebagian saja. Beliau juga menjalani “laku mbisu lan mbudeg”  –  pura-pura bisu dan pura-pura tuli.

Beberapa kota dan wilayah yang pernah disinggahi bahkan bermukim selama waktu tertentu antara lain Kediri, Surabaya, Madura, Banten, Jakarta  dan beberapa kota di luar Jawa. Bahkan ada cerita pada tahun 1979 beliau berada di Spanyol. Pernah juga bermukim di beberapa hutan belantara yang salah satunya adalah Alas Purwo di Banyuwangi. Selama di hutan beliau makan dan minum dengan daun dan buah serta air yang ada di hutan. Untuk membedakan  buah yang aman dan yang beracun beliau belajar dari ulah binatang di sekitarnya. Dan karena bergaul dengan binatang beliau juga tahu bedanya bekas cakaran harimau apakah horizontal atau vertikal. Kalau bekas kuku harimau itu horizontal maka dia dalam posisi siap menyerang.

Pekerjaan yang pernah dijalani  juga beragam. Pernah menjadi tukang  becak, kernet angkot,  kuli bangunan, kuli angkut di pasar, kuli angkut  di pelabuhan , pedagang mainan anak-anak, dan buruh tani atau buruh perkebunan.

Beliau juga berguru kepada beberapa “orangtua”. 3 nama yang sering aku dengar langsung dari beliau adalah Mbah Mualip dari Kediri, Mbah Hamid dari Kajoran Magelang dan Mbah Marzuki dari Yogya.

Mbah Mualip Kediri punya keistimewaan antara lain suka nraktir orang di rumah makan. Kalau kebetulan beliau makan di rumah makan maka semua orang yang sedang makan di tempat  itu ditraktir semua. Beliau juga gemar bagi-bagi uang. Temanku yang pernah diajak Sang Guru sowan Mbah Mualip pernah bercerita, dia ditawari uang tunai sebanyak dia mau. ” mau uang?….” tanya Mbah Mualip. Temanku tidak menjawab. ” ambil tuh di lemari…” kata Mbak Mualip lagi sambil menunjuk sebuah lemari di ruang tengah rumahnya. Temanku bergeming. ” coba buka lemari itu…lihat…” Temanku berjalan mendekati lemari itu. ” buka saja…” kata Mbah Mualip lagi saat melihat temanku kelihatan ragu. Lalu temanku membuka lemari itu. Dia terkejut bukan main. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Dia melihat tumpukan uang ratusan ribu  yang masih baru bahkan masih diikat dengan kertas identitas sebuah bank. ” ambil…..”  kata Mbah Mualip lagi. Dengan gemetar temanku menjawab, ” mboten….mboten…..” sambil menutup  lemari itu lalu melangkah kembali ke tempat duduk semula.

Mbah Mualip juga suka sekali memberikan barang atau sesuatu yang dimilikinya jika suatu saat diinginkan oleh seseorang. Misalnya, dia pakai baju bagus, lalu ada orang yang tertarik, langsung baju itu dilepasnya dan diberikan kepada orang itu.

Mbah Hamid  Kajoran Magelang. Aku tidak mendengar sesuatu tentang beliau kecuali bahwa  Mbah Mangle, tokoh politisi PPP di tahun 80-an adalah salah satu muridnya. Dari suamiku yang kebetulan pernah juga berguru ke sana aku mendengar suamiku menirukan  kata-kata Mbah Hamid ” saiki ora ana wong iman Ron, sing ana kyai endog kabeh….”

Kemudian pada suatu kesempatan aku diperkenalkan oleh Sang Guru dengan salah seorang putrinya yang tinggal di Yogya yang saat itu sedang berkunjung ke pondok. Dia adalah isteri  Kyai Daldiri (alm) Hafidzul Qur’an yang biasa semaan di Keraton Yogya.

Pada kesempatan yang lain di tengah obrolan tentang banyak hal, Sang Guru pernah berucap ” dia dapat anaknya, aku dapat ilmunya”. Maka ada yang mengatakan, pelajaran dari Sang Guru ini banyak yang mirip dengan pelajaran dari Mbah Hamid.

Mbah Marzuki Yogya, menurut beliau adalah kyai yang keras dan tegas dalam pendirian. Dari beliau Sang Guru mendapatkan pelajaran tentang politik pemerintahan. Beliau tidak segan-segan menempeleng kyai atau tokoh yang ada di hadapannya jika kepribadiannya buruk.  Mbah Marzuki adalah gurunya Hamengku Buwono IX dan juga gurunya Bapak Suharto (alm).

Ada lagi cerita tentang Sang Guru yang aku dapatkan dari teman yang  sama-sama bekerja di sebuah  perkebunan di Lampung. “Sepanjang yang saya kenal dia itu orang yang baik.  Kalau bicara dia selalu mengajak ke arah kebaikan. Perilakunya juga baik. Tidak pernah menyakiti hati orang lain. Jika terjadi konflik atau perdebatan dia  lebih sering mengalah.” …..  ” Dia sangat disiplin menjalankan ibadah sholatnya. Sholat wajib, sudah pasti. Sholat  malam tidak pernah dilewatkannya. Setiap menjelang tidur dia  menyiapkan air dalam kendi  untuk persediaan wudlu. Maklum, jarak bedeng kami dengan sumur cukup jauh. Ketika bangun di tengah malam, saya dibangunkan pula, lalu dia minta tolong agar saya  membantu  mencurahkan air kendi itu untuk wudlu. Saya tidak bisa menolak. Walaupun dengan setengah ngantuk saya  laksanakan juga permintaannya.  Tapi saya  ikhlas . Saya tahu itu ibadah kepada Allah. Anehnya, setelah tugas saya  selesai saya  tidur lagi.”…… ” kadang saya juga heran, tahu ada kebaikan kok saya tidak mau mengikutinya …..hehehe….. mungkin karena saya memang bukan kelasnya…..”

Ada lagi cerita yang bisa menggambarkan tentang kedisiplinan Sang Guru  terhadap sholat. Teman ” seprofesinya” itu bercerita,…” waktu itu malam Kamis, kami berangkat  menuju ke areal perkebunan yang jaraknya hampir 10 jam jalan kaki.  Kamis pagi di areal perkebunan  kami bekerja seharian. Malamnya, karena khawatir terlambat sholat Jum’at esok siangnya,  dia tidak mau istirahat seperti teman lainnya, melainkan langsung pulang lagi jalan kaki semalaman. Memang, masjid yang digunakan untuk sholat Jum’at hanya ada dekat lokasi bedeng kami…. dia tidak mau ketinggalan sholat Jum’at “….

15 tahun setelah mengembara Sang Guru kembali ke kampung halaman. Itu dilakukannya untuk memenuhi perintah para gurunya. Kampung Plosorejo “geger” karena mengira anak kecil yang dulu hilang itu sudah mati. Beliau kembali dengan rupa dan tingkah laku yang jauh berbeda dari orang-orang di sekitarnya.  Beliau “babat alas” mendirikan Pondok Pesantren Nurul huda yang sekarang sudah berusia 26 tahun. Sedikit demi sedikit, kampung yang semula ” gelap karena budaya maksiat ” menjadi terang. Gurunya Sang Guru yang dulu memberinya perintah untuk pulang dan mendirikan pondok pesantren, satu demi satu ” dipanggil  ke-haribaan Allah Yang Maha Rohman dan Maha Rohim”.

2 thoughts on “Sang Guru (15)

  1. 13 taun kepungkur aku pernah nyantri ten mriku mbak…tapi mbuh di akoni opo ora…kiro-kiro 2 taun aku mondok….tentrem rasane urip neng pondok , ben d
    ino ngaji, macul neng sawah, mecahi watu nggo mbangun pondok…lamun mung mangan sak eneke tp ati iki ayem..tp bareng aku saiki urip neng jakarta, maksiat tak lakoni ben dino..malah ndemeni bojone uwong barang….aku jane tansah kelingan dosa lan kelingan abah angger nglakoni maksiat tp tetep ae tak lakoni…aku lng lan tobat paling suwe 2 sasi..bar kui maksiat maneh…aku pengen nyantri maneh neng gone abah tp isin lan wedi…tulung solusine mbak …salam nggo kancaku pondok.. kang sidik, rohim, imam, saipul, syapi’I, rohman, nur… :-(

  2. 13 taun kepungkur aku pernah nyantri ten mriku mbak…tapi mbuh di akoni opo ora…kiro-kiro 2 taun aku mondok….tentrem rasane urip neng pondok , ben dino ngaji, macul neng sawah, mecahi watu nggo mbangun pondok…lamun mung mangan sak eneke tp ati iki ayem..tp bareng aku saiki urip neng jakarta, maksiat tak lakoni ben dino..malah ndemeni bojone uwong barang….aku jane tansah kelingan dosa lan kelingan abah angger nglakoni maksiat tp tetep ae tak lakoni…aku lng lan tobat paling suwe 2 sasi..bar kui maksiat maneh…aku pengen nyantri maneh neng gone abah tp isin lan wedi…tulung solusine mbak …salam nggo kancaku pondok.. kang sidik, rohim, imam, saipul, syapi’I, rohman, nur… :-(

Komentar ditutup.