Amanah

” Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan amanah kepada yang berhak ”        (An-Nisa: 58)

   Menunaikan amanah adalah salah satu PERINTAH Allah, yang WAJIB untuk dilaksanakan dan dalam surat Al Mu’minuun dijanjikan Allah dengan surga sebagai balasan bagi mereka yang berlaku amanah.

   Amanah adalah nilai fitri, yang setiap hati merah manusia, baik Muslim ataupun kafir mengakuinya.  Inilah ciri akhlaq islami, ciri yang tak dipunyai kaum munafiq.  Rasulullah bersabda; Ciri munafiq itu ada 3, jika bicara dia berdusta, jika berjanji dia ingkar, jika dipercaya dia berkhianat    (H.R. Bukhari, Muslim).

   Di awal masa tegaknya risalah Allah ini, Rasulullah Muhammad telah mencontohkan keharusan menegakkan amanah. Meski dalam keadaan sulit, sehubungan dengan persiapan hijrah ke Madinah, Rasulullah tetap menjaga amanah dan mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau melalui Ali. R.A. Di tengah kondisi yang terjepit dan mendapat incaran para pembunuh bayaran, menjaga dan mengembalikan barang yang di amanahkan orang lain tetap merupakan hal yang utama.

   Inilah diinul Islam.  Dia tegak di atas sendi-sendi aturan”langit”, di atas nilai-nilai luhur, dan berkembang dalam basis fitri kemanusiaan.  Apalah artinya hijrah kalau amanah dilanggar; apalah artinya persiapan teliti untuk suatu perjuangan islam kalau amanah diabaikan ?  Sesungguhnya Islam tegak dan ditegakkan untuk dan melalui nilai-nilai luhur yang datang dari Allah, bukan menegakkan kekuasaan untuk kekuasaan.  Dan bukan pula meraih kekuasaan dahulu baru menegakkan nilai-nilai samawi. Sejak panji risalah ini dikibarkan, maka nilai-nilai “langit” ditegakkan di bumi dengan kekuasaan ataupun tidak.  Karenanya dalam titik ini, menegakkan amanah, menegakkan satu nilai islami dalam diri seorang Muslim berarti menegakkan Islam dan memancarkan keharumannya. Inilah agama yang lurus.

   Islam adalah agama yang mulia.  Hanya dengan kemuliaan dia ditegakkan dan untuk kemuliaan dia tegak. Hanya orang-orang yang berhati mulia ikut dalam barisannya dan tidak untuk mereka yang munafiq.  Maka dalam pemahaman aqidah ini kekuasaan hanyalah alat bukan tujuan, perangkat kekuasaan dan politik adalah sarana bukan ghoyyah. Qiadah (kepemimpinan) muncul dari tegaknya nilai-nilai islami dalam dada setiap Muslim, dan nilai-nilai itu yang ingin ditegakkan dengan ataupun tanpa kekuasaan dan perangkatnya.  Sesungguhnya qiadah itu akan muncul dengan sendirinya, manakala kondisi islami telah tercipta.  Ibarat buah, manakala tepung sari sudah menempel pada putik, secara alamiah sunatullah, buah akan muncul perlahan tapi pasti.  Inilah diinul islam dengan misi tunggal rahmattan lil alamiin.

“Sesungguhnya Allah telah menawarkan amanah itu kepada langit, bumi dan bebukitan, namun semuanya menolak untuk menanggungnya karena khawatir mengkhianatinya, lalu dipikulah amanah itu oleh manusia.  Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh”    ( al-Ahzab: 72)

   Seperti juga kewajiban memelihara amanah dari manusia, maka memelihara amanah dari Allah, Tuhan manusia, adalah juga kewajiban yang mesti dijalankan manusia yang beriman. Adalah tidak logis kalau seorang manusia menjaga amanah dari sesamanya namun mengingkari amanah Allah.  Bahkan dalam sudut pandang aqidah ini, menjalankan amanah yang datang dari Allah adalah kemuliaan, karena Allah telah mempercayai kita, Allah mengakui kelebihan kita dibanding makhluk yang lain.  Suatu karunia yang amat besar.

   Tugas itu, amanah itu adalah untuk menegakkan diinullah di alam ini.  Tugas yang teramat berat, langit, bumi, dan bebukitan menolak tugas ini. “sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat”   (al-Muzzammil: 5). Perkataan yang berat, berat dalam arti konsekuensi yang harus diterima dalam meniti jalan itu.

   Itulah jalan kemuliaan, jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi ni’mat, jalan para Nabi, shiddiqiin, syuhada dan para shalihiin, jalan yang sukar lagi mendaki, jalan ketaqwaan.

   Amanah itu mesti dipenuhi agar tidak ada lagi fitnah, agar tidak ada lagi penyembahan manusia pada manusia, penyembahan manusia pada materi dan kekuasaan, pada pangkat dan nafsu syahwat.  Semua penyembahan hanya untuk Allah Rabbal’alamiin.  Dalam skala individual amanah ini menjadi tanggung jawab pribadi Muslim.  Dalam skala global adalah menjadi tugas qiyadah islamiyah (kepemimpinan islam) untuk mewujudkannya.

   Tugas dalam skala global itu kini praktis terbengkalai. Bukan hanya fitnah menghegemoni jagad, namun kondisi ummat  sangat memperihatinkan.  Umat Islam terhina dan dihinakan, baik di Bosnia maupun Palestina.  Tiada qiadah islamiyah yang mempersatukan, membela, dan menegakkan izzah (harga diri) Islam dan ummatnya.  Inilah azab atas kelalaian menjaga amanah Allah.

   ” Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh “

zalim terhadap dirinya sendiri dan bodoh terhadap diin yang telah dituntunkan Allah untuknya.

   Kini, tak ada waktu lagi untuk berfalsafah, kenapa mesti menerima amanah Allah itu dsb-dsb.?  Yang perlu adalah menyambut amanah ini mewujudkan qiadah Allah di Bumi dalam semangat dan kesiapan sami’na wa atho’ana (kami dengar dan kami taat).

Hasbunallah wa ni’mal wakiil.