Sang Guru (7)

SANG GURU (7)

by Bu Wiwik on Sunday, August 28, 2011 at 6:16am
 
 

Berikut ini aku akan bercerita tentang info kontroversial  yang sudah lama tersimpan di hati tetapi baru beberapa tahun kemudian aku berhasil mendapatkan  jawabannya. Info itu adalah ” mengapa sang guru suka bicara kasar, misuh, mengumpat dan menghujat”

Mungkin karena kuatnya  menjaga jarak dengan harta kekayaannya sendiri, kuat membentengi diri dari keterikatan dengan makhluq jasadi dan kuat  mensterilkan diri dari virus nafsu duniawi, beliau menjadi manusia yang merdeka. Merdeka dalam arti sepenuhnya. Beliau tidak takut kepada siapapun,  tidak rendah diri atau minder di depan siapapun. ” Jangan takut kepada siapapun tetapi juga  jangan menakut-nakuti siapapun”….. itu salah satu pelajaran yang  sering disampaikan kepada santrinya.

Ungkapan itu dapat menjadi pendobrak tatanan perilaku salah kaprah yang terlanjur “mapan”. Banyak orang  dengan kewenangannya yang tidak seberapa sudah berani menakut-nakuti orang yang lemah dan mempersulit urusannya sehingga dirinya tampak sebagai orang yang berharga dan tidak terjangkau. Sebaliknya, jika dia berhadapan dengan orang yang lebih berkuasa, ketakutan  akan menghinggapi dirinya  walaupun dia tidak melakukani kesalahan.

Dalam Islam ada ” yassiruu wa laa tu’assiruu” ( mudahkanlah jangan kamu ipersulit)….

Karena “kemerdekaan” yang melekat dalam dirinya maka tidak ada beban baginya  untuk melontarkan kata-kata kasar, caci-maki , umpatan atau hujatan terhadap orang-orang yang menurutnya pantas menerimanya. Acuannya cuma satu, hati nurani. Beliau berlaku atau berucap seperti apa adanya, keluar dari hati tanpa basa basi, tanpa pretensi, apalagi perhitungan untung rugi.  Anehnya, banyak orang  justru  merasa terwakili untuk mengungkapkan isi hatinya. Sebab banyak orang tertekan oleh rasa takut, rasa pekewuh dan unggah-ungguh sehingga suara hatinya terpendam lalu pada gilirannya menumbuhkan rasa frustasi dan patah hati. Dan itu benar….tidak salah. Itu fakta yang nyata dirasakan oleh orang-orang yang lemah dari lapisan bawah.  Ungkapan seperti ” bupati malsu ijazah” – ” pejabat bejat” – “kyai kirik” dan semacamnya sering terdengar sebagai ilustrasi dalam pengajiannya. Di sisi lain, para “korban” umpatan dan hujatan itu tak satupun yang melapor kepada polisi untuk kasus misalnya “pencemaran nama baik”…. Semua berjalan baik-baik saja. Tapi jangan sekali-kali ikut-ikut cara sang guru misuh, mencaci atau mengumpat orang, bisa sangat berbeda nuansanya.

Ketika dalam satu kesempatan hal itu kutanyakan beliau menjawab dengan sebuah perumpamaan , ” nek ana mobil tabrakan , remuk, apa cukup digawakke sulak karo pethik?..” – “kalau ada mobil tabrakan dan hancur apa cukup diperbaiki dengan sulak ( bulu ayam pembersih debu) dan alat pembuka sekrup… “

Aku mengangguk sambil mencerna kalimatnya. Pemahamanku saat itu, berarti  pisuhan, caci- maki, umpatan  dan hujatan itu hanya untuk orang-orang yang rusak seperti mobil tabrakan dan hancur. Tidak cukup hanya diingatkan dan dinasehati. Dia harus “digergaji , dikenteng, dibakar lalu disambung atau dilas”.

Dalam bahasa Jawa mencaci-maki  atau mengumpat itu  ”misuh”. Cuci tangan atau cuci kaki bahasa Jawanya ” wisuh – wijik”. Menjawab pertanyaanku beliau menambah keterangannya begini, ” kudune sing tak pisuhi kuwi maturnuwun karo aku…wong wis tak wisuhi… tak resiki….” ( mestinya orang yang sudah tak umpat, tak caci maki itu berterimaksih padaku karena sudah tak cuci, tak bersihkan). …….

Dan memang, setelah mencaci-maki  seorang pejabat, beliau lanjutkan dengan doa semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan mengajak semua santri membaca fatihah untuknya.

Jika tujuannya memang untuk “misuhi” atau ” membersihkan” seseorang ,maka benarlah apa yang beliau lakukan karena umpatan dan hujatan itu hanya disampaikan saat pengajian, bukan dalam interaksi sehari-hari…. Bahkan sebaliknya, yang kurasakan selama dekat dan bergaul dengan beliau aku melihat kehalusan budi pekerti dan kelembutan hatinya.

Bagaimana cara beliau menghadapi murid-murid saat memberi pengarahan menjelang liburan misalnya, suasananya bebas dan gembira penuh ketulusan.   Kehalusan budi pekertinya juga sempat aku saksikan dalam jamuan makan bersama pejabat tingkat propinsi dan seorang kyai besar dari sebuah pondok pesantren terkenal.

Suatu hari di tahun 2003, aku bersama 3 orang teman pria dan sang guru melakukan perjalanan ke Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang. Waktu itu pimpinan pondoknya adalah Bapak KH. Abdurrohman Chudlori ( sekarang sudah almarhum) yang juga salah satu Rois Aam PKB. Sang Guru  akan menemui Kakanwil yang sedang berkunjung ke sana. Salah satu dari 3 temanku adalah kandidat kepala kantor di kabupaten. Beberapa saat sebelum sampai di pondok sang guru memberi perintah kepada teman-teman untuk ganti hem batik lengan panjang dan pakai peci. “Kalau aku, sudah biasa begini, nggak apa-apa…….” kata sang guru mengomentari busananya sendiri. Celana panjang kaos oblong tanpa alas kaki.

Di  depan pintu rumah Kyai,  beliau berkacak pinggang sambil mengucap salam. Pintu dibuka, Kyai keluar, aku menyaksikan mereka bersalaman dan berpelukan seperti sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. Beliau masuk ke ruang dalam dan kami mengikutinya dari belakang. Beliau bersama Kakanwil dan Kyai duduk dalam satu meja dan kami di meja yang lain. Selesai pembicaraan, kami dijamu makan siang. Kami semua pindah ke ruang makan tapi tetap dengan  meja yang terpisah. Aku sengaja duduk di posisi yang memungkinkan bisa melihat sang guru makan.

Walaupun banyak orang mengira sang guru adalah orang kasar tetapi yang aku saksikan saat makan adalah gaya “priyayi” yang penuh tata krama dan etika. Bagaimana beliau duduk dengan tegak, memegang sendok garpu dengan benar dan mengunyah makanan dengan sopan. Juga tidak ada bunyi dentingan sendok dan garpu saat menyentuh piring. Jauh dari perkiraan sebelumnya bahwa beliau akan makan dengan lahap, cepat, diirngi bunyi cap-cap dari mulutnya dan suara nyaring dari denting sendok yang menyentuh piring.

Selain biasa mengumpat dan menghujat, sang  guru juga biasa “merusak”  tatanan protokoler yang dinilainya membatasi kemerdekaan orang untuk menghambakan dirinya hanya kepada Allah dan menggantinya dengan menghambakan diri kepada sesama makhluq yaitu jabatan dan kekayaan. Baiklah, tentang hal ini aku tulis di catatan yang akan datang.