ASEAN Diam-diam Setujui Rencana AS

ASEAN diduga secara diam-diam menyetujui dan merestui rencana AS menempatkan 2.500 prajurit marinir di Darwin, Australia. Penempatan pasukan AS di Darwin tersebut dipandang sesuai dengan kepentingan ASEAN, yang sebenarnya juga khawatir dengan pertumbuhan China.

Demikian pendapat Prof KS Nathan, Direktur Institute of Malaysian and International Studies (Ikmas), Universiti Kebangsaan Malaysia, di Jakarta, Rabu (30/11/2011). Pendapat tersebut dilontarkan dalam seminar bertema ”Current and Future Trends in US Engagement with Southeast Asia: Indonesian and Malaysian Perspective” yang diselenggarakan American Studies Center Universitas Indonesia dengan Ikmas.

”Menurut saya, penempatan pasukan AS di Darwin itu dilakukan atas persetujuan ASEAN meski tak diungkapkan secara terbuka,” tutur Nathan, yang mewakili sudut pandang Malaysia dalam melihat keterlibatan AS di kawasan Asia Tenggara.

Menurut Nathan, negara-negara anggota ASEAN sebenarnya memiliki kekhawatiran tersendiri terhadap kebangkitan China, terutama pertumbuhan kekuatan militernya. Sikap China yang makin agresif dalam masalah klaim teritorial di Laut China Selatan makin menambah kekhawatiran itu mengingat empat negara ASEAN, yakni Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Brunei, juga turut menjadi pihak-pihak yang bersengketa.

Meski demikian, Nathan tak menjamin sikap ASEAN itu akan tetap sama jika AS atau China sama-sama meningkatkan kekuatan militernya di kawasan. Menurut pemegang gelar doktor hubungan internasional dari Claremont Graduate University di California, AS, itu, ASEAN mengusung prinsip kedaulatan regional dan tidak menyukai hegemoni kekuatan adidaya tertentu di kawasan ini.

Dalam rangkaian KTT Ke-19 ASEAN di Nusa Dua, Bali, dua pekan lalu, Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa mengatakan, ASEAN tidak akan membiarkan wilayah mereka dijadikan ajang persaingan dan obyek pertikaian pihak mana pun yang menganggap diri negara besar.

Nathan juga berpendapat, penempatan pasukan AS di Darwin itu juga tidak mengancam kedaulatan Indonesia, terutama dalam kaitan dengan konflik di Papua. ”Indonesia memiliki kedaulatan yang kuat, dan saya tidak melihat AS akan mengganggu itu. AS juga sadar jika ia mengganggu Indonesia, negara-negara anggota ASEAN lainnya tidak akan suka,” papar Nathan.

Reaksi China

Di Beijing, Pemerintah China akhirnya berkomentar keras soal penempatan pasukan AS itu. Menurut China, keputusan tersebut menunjukkan masih adanya ”mentalitas Perang Dingin”.

”Kami yakin setiap konsolidasi dan pengembangan aliansi militer adalah manifestasi dari mentalitas Perang Dingin. Itu sudah tak sesuai lagi dengan kecenderungan zaman sekarang yang mementingkan perdamaian, pembangunan, dan kerja sama, serta tak kondusif dalam meningkatkan rasa saling percaya dan kerja sama antarnegara di kawasan ini,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan China, Geng Yansheng, Rabu.

Ini adalah komentar terkeras Beijing sejak Presiden AS Barack Obama mengumumkan penempatan pasukan tersebut dan menegaskan bahwa AS akan memusatkan perhatian dalam pengembangan militernya di Asia Pasifik.