Ikhtila’

” Ya Allah, kepadaMu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi si lemah, dan Engkau jualah pelindungku. Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan ? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan,  karena sungguh besar ni’mat yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajahMu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan akhirat, dari murkaMu yang hendak Engkau turunkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhaq menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun selain atas perkenanMu.”    (Do’a Rasulullah SAW sepulang dari Tha’if)

   Rasulullah sebelum bit’sah kerap ber’uzlah beberapa malam, kadang mencapai 1 bulan. Kemudian pulang mengambil bekal untuk kembali berikhtila’ (menyendiri) di Gua Hira’.  Allah menumbuhkan kecenderungan di hati Rasulullah SAW untuk berkhalwah ini sampai datang malaikat Jibril menyampaikan wahyu Allah.

   ‘Uzlah, ikhtila’, khalwah, menyendiri untuk mengadu kepada Allah, bermuhasabatun-nafsi (mengadili diri) adalah sesuatu yang dicontohkan Rasulullah Muhammad, yang merupakan penempaan diri dalam upaya menerima beban da’wah.  Bagi seorang Muslim, yang secara fitri telah berikrar untuk berserah diri dan diatur hanya oleh hukum Allah, sebagai mukallaf yang mesti menanggung beban da’wah (taklif), serta sebagai jundullah (prajurit Allah) yang bertugas memenangkan agamaNya, dan secara hakiki mempunyai tanggung jawab untuk menegakkan nilai-nilai langit di bumi, kesiapan diri untuk menjalankan tugas dengan benar adalah merupakan persyaratan vital.  Selain itu karena da’wah itu sendiri mempunyai karakter dasar “da’watun naas ilallah”, yakni mengajak manusia kepada Allah; manusia sebagai diri sendiri, dan orang lain; karena da’wah itu sendiri bermula untuk pribadi yang bersangkutan, untuk keselamatan diri sendiri baru untuk orang lain.  Dalam titik ini ikhtila’ akan menyiapkan basis pribadi, menambah bekal individu dalam menapaki jalan yang berat lagi mendaki, jalan para Nabiullah.

   Dalam dien ini, ikhtila’ adalah pengadilan manusia pada dirinya sendiri, tempat mengadukan dan mengeluarkan segala tekanan, sarana untuk membersihkan diri dan menguatkan jiwa.  Manusia yang terdiri dari darah dan daging, manusia yang punya perasaan sombong, ujub (bangga diri), dengki, riya’, cinta dunia, haus akan populeritas dan kekuasaan, manusia yang punya penyakit-penyakit hati, mesti selalu melakukan pembersihan jiwa apalagi manakala jalan da’wah mesti ditempuh. Dalam kesendirian, dalam suasana hening, dalam kesunyian dunia, penyakit yang sudah merembes masuk ke dalam bathin, menguasai jiwa dan membuat kerusakan di dalamnya ditundukkan, dilumpuhkan, dan dibuang perlahan-lahan. Ikhtila’ adalah forum dimana bathin menanyakan kepada dirinya sendiri akan motif-motif yang selama ini memotori aktifitas jasad dan fikriyahnya.  Ia adalah sarana untuk mengkoreksi kecenderungan-kecenderungan bathiniyah yang tak terkendali untuk mengarahkannya secara fitri dalam kerangka ‘ubudiyah. Dengan ikhtila’ seorang Muslim merenungi hakekat diri dan penciptaannya, tugasnya sebagai hamba, sebagai wakil, sebagai budak Allah, kelemahan-kelemahan dirinya di hadapan Rabbnya, penyakit-penyakit yang diidapnya, rasa cintanya pada pujian, dan rasa takutnya akan celaan dan caci-maki. Dengan ikhtila’ seorang hamba menafakuri fenomena-fenomena keagungan Allah, kemahabesaranNya, kasih sayang dan rakhmatNya.  Dalam ikhtila’ seorang Muslim membayangkan betapa ni’matnya surga Allah dan betapa dahsyatnya azab kubur dan siksa neraka, betapa menakutkannya neraka jahannam yang bahan bakarnya manusia dan batu.  Ikhitla’ akan menumbuhkan rasa harap, rasa takut dan rasa cinta kepada Allah. Ia akan mengalirkan kehangatan dalam dada manakala mengingatNya.

   Rasa harap akan surga Allah dan perjumpaan denganNya akan membuat seorang jundullah bertahan dalam medan-medan sulit.  Rasa takut terhadap beban yang lebih berat, terhadap neraka jahannam akan menumbuhkan keringanan dalam menghadapi tugas-tugas da’wah yang ringan dan memberikan kesabaran.  Lalu rasa cinta akan menumbuhkan keridhaan, akan mengalirkan energi luar biasa dalam hal kesabaran dan mushabarah (melipatgandakan kesabaran), dan mahabah akan menumbuhkan perasaan tentram dalam menjalani medah da’wah ilallah tapak demi tapak, hasta demi hasta.  Akhirnya seorang Muslim akan selalu merasa, bahwa Allah bersamanya dalam setiap tindaknya, dalam setiap bicaranya, hingga pupuslah rasa takut kepada manusia dan celaan dari orang-orang yang suka mencela.

   Dalam dein ini, ikhtila’ hanyalah sarana dan sama sekali bukan tujuan.  Mencari dorongan spritual, tasawuf hanyalah alat dan obat untuk menguatkan kesiapan diri dalam meniti jalan berat medan penegakkan kalimatullah.  Karenanya, menenggelamkan diri dalam ikhtila’, menelantarkan tugas da’wah, dan menyikapi ikhtila’ lebih dari kadar obat malah akan membawa penyakit bagi jiwa itu sendiri. Inilah keagungan dien yang penuh tawadzun, keseimbangan.