Sang Guru (13)

SANG GURU ( 13 )

by Bu Wiwik on Saturday, October 15, 2011 at 4:49am
 
 

Waktu aku masih kecil Ibu sering mengajariku untuk biasa berbagi dengan teman. Kalau mau ke sekolah Ibu mewanti-wanti, ” kalau jajan lihat teman di sebelahmu, jangan makan sendirian…”. Demikian juga saat bermain bersama teman, harus selalu berbagi makanan atau apa saja yang kita punya. Di dalam rumah bersama adik dan kakak, demikian juga. Untuk pelajaran ini kecuali “ceramah”,  ibu juga memberi contoh bersedekah seperti menyediakan aiir minum kendi di depan rumah, memberi makan pengemis langganan dsb.  Tetapi di sisi lain Ibu juga  mengajari kami untuk tidak boleh atau tidak gampang kepengin terhadap milik orang lain. Jangan suka minta dan jangan gampang minta-minta, karena meminta itu berarti merendahkan martabat sendiri. Jangankan “minta” , nemu barang saja kami tidak boleh mengambilnya. Boleh mengambil tapi harus diberikan kepada orang lain lagi. Tidak boleh memiliki. Sebenarnya sejak  saat itu Ibu sudah punya prinsip “keperwiraan itu harus dibangun sejak dini”.

 Setelah dewasa, aku mendapati pelajaran itu dari Sang Guru. Persis. Jadi, bagaimana aku tidak mengikuti langkah Sang Guru kalau apa yang diajarkan itu merupakan lanjutan dari pelajaranku di masa kecil. Diam-diam aku sering bersyukur bahwa aku berada dalam bimbingan kebaikan. Sang Guru tidak hanya bicara tetapi langsung memberi contoh. Dalil-dalil yang bermakna tinggi beliau terjemahkan ke dalam bahasa sederhana seperti ” ngrogoh kanthong dikekke uwong”… “ambil uang di saku, kasih ke orang”….. ” uwong sing menehi kuwi plus, nek diwenehi kuwi minus” – “orang yang memberi itu nilainya plus, kalau diberi nilainya minus”…..  ” durung jeneng disebut apik nek uwong kuwi durung wani menehi wong liyo” – ” belum bisa disebut baik kalau seseorang itu belum berani memberi kepada orang lain”……

Begitulah Sang Guru mengajariku ” ringan dan longgar hati dalam  melepas harta milik kita untuk keperluan orang lain”.

 Di pondoknya, Sang Guru punya banyak siswa yang mengikuti pendidikan di madrasah dan tidur di asrama. Kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga tidak mampu, tidak harmonis atau keluarga yang berpendidikan rendah. Pernah Sang Guru berkelakar ” anak-anak yang ikut di sini kan mereka yang bodoh, miskin dan nakal…… Orang-orang tua itu mau enaknya sendiri. Anak yang pintar, yang baik di sekolahkan di tempat lain kalau yang nakal, yang bodoh dikirim ke sini”.

Untuk mereka Sang Guru memberi fasilitas ruang tidur, kebutuhan air dan listrik serta makan 3x sehari. Siswa yang mampu ditarik iuran Rp 340.000 / bulan termasuk biaya pendidikan atau SPP. Siswa yang dianggap mampu tidak sampai 50% dari total siswa yang berjumlah sekitar 400 orang.  Kebutuhan rutin Sang Guru dalam sebulan bisa mencapai 3 ton beras, belum dihitung bahan lainnya, juga listrik dan airnya. Ini salah satu bentuk “sodaqohnya” Sang Guru. Beliau sering menyebutnya dengan  kata “lelabuhan”  – pengorbanan.

 Belum lagi di setiap pengajian malam Jum’at Paing dan malam Ahad Legi, yang hadir bisa ratusan orang. Semua makan, walaupun hanya dengan lauk urap sayuran dan kerupuk. Taruhlah, kalau harga makanan itu Rp 10.000/ porsi dengan jumlah hadirin 500 orang sudah mencapai Rp 5 juta. Kalau pengajian itu berlangsung 2x dalam selapan hari, dan 10 lapan dalam setahun maka bisa mencapai Rp 100 juta per tahun. Pengajian ini sudah berlangsung selama 25 tahun. Biasanya Sang Guru berseloroh, …. pengajian sudah 25 tahun, nggak pake panitia, nggak pake  sumbangan, semua senang, semua lancar…….gimana?….. hehehe….. (pertanyaan ini tidak untuk dijawab)…..

 Pada saat ulangtahun pondok  Sang Guru menggelar berbagai acara hingga 10 hari lamanya. Dimulai malam Jumat Pahing dengan pengajian rutin dilanjutkan keesokan harinya berupa pertandingan olahraga antar kampung atau perlombaan kesenian baik antar pemuda kampung maupun antar siswa dan santri di pondok ini. Ada juga lomba tayub antar bapak-bapak di sekitar kampung itu. Tayub di pondok ini jauh dari gambaran maksiat seperti yang banyak dilihat orang. Semua penari adalah laki-laki dengan pakaian blangkon yang sopan dan gerakan tari yang lembut.

Pedagang kakilima entah darimana, datang ke desa ini untuk menggelar dagangannya. Suasana ulangtahun semarak di seluruh desa seperti pasar malam. Kegiatan ekonomi masyarakat di kampung ini langsung meningkat seiring dengan munculnya warung makan di beberapa rumah. Tempat penitipan sepeda dan sepeda motor langsung bisa menggelembungkan isi kas Karang Taruna setempat. Puncak acara dilaksanakan malam ahad legi dengan dihadiri para tamu dari berbagai kota dan dari level rakyat  hingga orang-orang berpangkat.

Acara ini pun tidak ada panitia tidak ada sumbangan. Dalam hal ini Sang Guru sering berkelakar ” aku panitia tunggal.. ketua merangkap segala-galanya….. hehehe…..”

 Tetapi di luar acara-acara yang secara jelas menjadi fenomena “sedekah luar biasa” , aku pernah menyaksikan bagaimana Sang Guru “tercatat dalam hati seorang pedagang kecil di Waduk Kedungombo karena telah memborong semua dagangan ikannya saat dia nyaris  putus asa”.

 Hari itu Sang Guru mengajakku bersilaturrohmi ke rumah seseorang di wilayah pantura. Kami hanya bertiga. Aku, Sang Guru dan seorang sopir. Dari Sragen kami menyusuri jalan alternatif lewat Kedungombo. Di atas waduk yang sudah menjadi daerah wisata itu beliau minta berhenti lalu kami jalan kaki menuju ke deretan warung yang berdiri di tepi waduk.

“Kita beli oleh-oleh dulu bu wiwik…..” kata Sang Guru sambil menuju ke sebuah warung ikan yang siap melayani kami. Ada ikan-ikan yang sudah siap dibakar dan dimasak sesuai selera, ada juga ikan yang masih segar. Sang Guru memilih 5 ekor ikan yang siap dibakar tapi tanpa bumbu. Aku berdiri disampingnya tanpa berbuat sesuatu. ” oleh-oleh yang bagus itu ikan atau buah-buahan……” kata Sang Guru sambil menyerahkan ikan pilihannya kepada pedagang untuk dibakar. Dia seorang wanita muda antara 30-40 tahun. Setelah itu Sang Guru mengunjungi warung sebelah. Aku tetap di warung itu menunggu proses pembakaran.

 Dari tempatku duduk terdengar suara tawa terkekeh-kekeh dari beberapa wanita tua yang sedang melepas sisik ikan. Mereka bekerja sebagai tukang “mbetheti” ikan alias membersihkan kotoran ikan. Rupanya Sang Guru nimbrung di sana sambil “menghibur” mereka. Tak lama kemudian wanita pemilik warung yang ada di hadapanku, yang sedang sibuk menyalakan api berkata padaku , ” Bapak itu…. , saya pernah ketemu,…. tapi di mana ya?…..” . Dia mencoba mengingat- ingat sesuatu. ” Pernah bertemu di mana bu?.” aku mencoba menanggapi pertanyaannya. ” Beliau itu guru saya… …” Sepertinya dia tidak mengerti maksud jawabanku dengan kata “guru” tetapi perhatiannya lebih cenderung ingin mengingat kembali di mana dia pernah bertemu Sang Guru. ” tapi bener-bener saya pernah ketemu dia…..”, kata-kata itu diulangi seperti hendak menyakinkan aku. Beberapa saat kami saling terdiam. Aku  sibuk memperhatikan gerak tubuhnya saat menyalakan api di tungku….

 Tiba-tiba dia melompat meninggalkan tungku itu dan melangkah ke warung sebelah lalu dengan  perlahan mengintip Sang Guru dari belakang. Beberapa saat dia memperhatikan wajah Sang Guru. …..” ooohh…. sekarang saya ingat….dia ini yang tempo hari mborong ikan saya ….., iya… iya…. betul… betul…..tidak salah lagi….”. Lalu dia kembali mendekati  tungku sambil bercerita padaku dengan bahasa Jawa yang artinya , ” Sepanjang hari itu lokasi wisata ini sepi pengunjung.  Mungkin karena awan mendung. Sampai sore dagangan saya masih banyak. Dengan sepeda onthel saya pulang membawa bronjong yang penuh ikan.  Waktu itu saya sedang hamil. Saya ingin nangis rasanya. Tapi gimana lagi,namanya juga mencari nafkah untuk keluarga.  Suami saya  bekerja sebagai buruh bangunan di luar kota.

Sesampai di palang kereta Sumberlawang saya berhenti. Ada kereta yang akan lewat. Gerimis yang turun pelan-pelan mulai membasahi tubuh saya. Dingin. Tidak berapa lama ada mobil kijang yang berhenti di samping sepeda saya. Seorang bapak langsung turun dan bertanya tentang dagangan saya. Transaksi berlangsung cepat dan beberapa menit kemudian semua ikan saya berpindah tempat ke dalam mobil itu….. Plong, rasanya… Saya pulang membawa uang. Kesedihan saya sirna. Saya bersyukur kepada Tuhan”.

Ketika cerita itu aku konfirmasi kepada Sang Guru, beliau kelihatan dingin saja sambil berkata, ” kebaikan yang dilakukan untuk orang kecil akan bertahan lama di hatinya….”

 Di sebuah perjalanan yang lain aku menyaksikan lagi peristiwa yang membuatku terharu alias trenyuh.

Sekitar pukul 7 petang kami pulang dari Purwodadi. Kami berempat waktu itu. Naik kijang juga. Sang Guru duduk di depan, aku di belakang berdua dengan temanku dan seorang teman lagi pegang kemudi.

Di tengah jalan, entah di daerah mana tiba-tiba Sang Guru minta berhenti. Kami saling bertanya, ” ada apa? “. Karena tidak sabar menunggu di mobil aku turun dan mendekati Sang Guru. Rupanya ada seorang pria naik sepeda onthel yang akan menjual hasil  kebunnya ke pasar kota. Saat aku datang transaksi itu sudah selesai. Terbukti, 2 bronjong kacang panjang itu segera pindah ke dalam mobil. ” Bu wiwik, tolong dibayar sayur ini 15 ribu…..” . Mendengar perintah itu, langsung saja aku keluarkan lembaran uang 20 ribuan. ” Tidak ada kembalinya……” kata pria itu…. ” oh nggak apa- apa pak…. silakan ambil saja ……” jawabku dengan senang hati.

Di dalam mobil Sang Guru berkata, ” dia pasti akan bahagia sekali sesampai di rumah….. tidak harus capek sampai ke pasar dagangannya sudah habis.  Belum lagi uangnya banyak. Dia tawarkan 13ribu, kita beli 15ribu, dibayar 20ribu. .”

Kami semua terdiam……