Sang Guru (8)

SANG GURU ( 8 )

by Bu Wiwik on Thursday, September 1, 2011 at 4:46pm
 
 

Jiwanya yang “bebas dan merdeka”  membuatnya memiliki pola berpikir yang bebas dan merdeka pula. Berbeda dari orang lain pada umumnya yang masih terikat dengan norma sosio kultural yang materiil. Beliau hanya berpijak pada hubungan antara hamba dengan hamba dan hamba dengan  Tuhan. Seperti gambar segitiga samakaki. Semua hamba sama derajatnya di hadapan Tuhan dan karena itu hanya Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Kuat dsb.

Beliau menilai  norma-norma sosial masa kini sudah menyesatkan, salah kaprah, bahkan memutar balikkan posisi, siapa menyembah siapa disembah. Contohnya, pejabat itu pelayan rakyat, tetapi kenyataannya rakyatlah yang melayani pejabat. Ada  aturan tak tertulis bahwa pejabat harus dihormati, rakyat boleh disepelekan. Pejabat melanggar aturan nggak apa-apa, tapi rakyat melanggar aturan ada hukuman. Pejabat sama dengan Penguasa. Padahal yang berkuasa mestinya rakyat. Anggota Dewan adalah wakil rakyat, tapi  mereka nggak kenal sama yang diwakilinya.

Malah mereka mengurusi dirinya sendiri. Mereka itu mewakili atau menguasai?

Demikian juga para kyai. Mestinya mereka melayani umat tetapi kenyataannya umat lah yang melayani mereka. Kyai harus dihormati, umat boleh disepelekan. Kyai bisa  menjual umat untuk suatu kepentingan. Makin banyak umatnya, makin tinggi harga jualnya. Orientasinya, uang dan kekayaan. Maka pantaslah kalau kyai sudah tidak ditaati lagi oleh pejabat karena bisa dibeli.  ” Wong cilik kuwi nek neng ngarepe pejabat disebut rakyat, nek neng ngarepe kyai disebut umat. Posisine podho, ………. Podho rekosone……….. Mesakke ….” Demikian sang guru pernah menyampaikannya di sebuah pengajian.

Dadi pemimpin kuwi kudune jumeneng noto, njejegne negoro”. Jadi Pemimpin itu mestinya berdiri tegak di atas kedaulatan rakyat,  mengatur bangsa dan menegakkan negara. ” Pemimpin kuwi kudu bisa ngayemi, ngayomi lan nyenengake “. Pemimpin itu harus mampu memberi kesejahteraan untuk rakyat, memberi perlindungan  dan membangun suasana yang kondusif yang membuat rakyat merasa nyaman menjalani kehidupannya. Kenyataannya, para pejabat malah  menjajah rakyat, merampok harta negara. Sudah begitu, kalau rakyat ingin ketemu pejabat harus mematuhi aturan tertentu sebagai bentuk pernghormatan.  Pejabat itu orang penting, rakyat tidak penting. Mestinya pejabat yang turun melihat kondisi rakyatnya. Apakah rakyat sudah sejahtera, sudah tercukupi kebutuhannya? Jangan makan sebelum rakyatnya kenyang, jangan membangun rumah sebelum rakyat sejahtera. Pendek kata, pejabat itu harus tirakat, berani malu (karena miskin) berani miskin (karena tidak korupsi) dan berani berkorban (sebagai bentuk rasa tanggungjawab) untuk kesejahteraan rakyatnya. Itulah pemimpin sejati.

Bagi sebagian kita, mungkin berfikir “nonsens”. Mana ada orang yang mau menjadi pejabat dengan kriteria seperti itu. Tetapi, sejarah para sahabat Rasul bisa membuktikannya.  Terlalu banyak untuk diceritakan. Kalau contoh itu terlalu jauh, ambil contoh dari bumi sendiri. Banyak contoh dari  sejarah kepemimpinan kerajaan  kuno di tlatah Nusantara.

Apakah pemimpin sejati hanya untuk  masa lalu? Apakah karakter pemimpin sejati tidak akan ada lagi? Apakah Allah akan membiarkan dunia ini hancur tanpa perbaikan?…. Kurasa tidak. Salah satu Hadits Nabi mengatakan  dalam setiap abad akan ada pembaharu (mujadid).  Aku optimis suatu saat Allah akan mengangkat seorang hamba yang diberinya kekuatan untuk memperbaiki keadaan.

Pada catatan yang lalu aku menulis  bahwa sang guru kecuali suka misuh juga suka “merusak” tatanan protokoler. Tatanan protokoler yang kumaksud adalah ketentuan yang ditetapkan oleh negara untuk menjadi acuan pelaksanaan acara kenegaraan atau kegiatan yang dilakukan oleh pejabat negara.

Melalui “perusakan” tatanan itu sang guru ingin mengajari  rakyat bahwa pejabat itu bukan Tuhan, jadi jangan berlebihan. Juga ingin meengajari para pejabat agar rendah hati karena kepemimpinannya harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Maka amanah itu harus dilaksanakan dengan adil, jujur dan bertanggungjawab.

Berikut, aku ceritakan 2 (saja) peristiwa  tentang bagaimana sang guru mendobrak tatanan itu.

Suatu hari di tahun 2007 sang guru diundang ke Keraton Surakarta dan diminta menyampaikan pidato. Yang hadir tokoh-tokoh nasional termasuk orang kedua di negeri ini. Seperti biasa, beliau mengenakan busana standard kaos oblong tanpa alas kaki. Banyak orang memandang sebelah mata pada sang guru. Tetapi ketika beberapa orang yang sudah kenal termasuk kerabat keraton bersalaman dan mencium tangannya, orang mulai berpikir, “siapa dia?…”

Petugas protokoler  bertanya pada sang guru, ” bapak sudah siap?”…. ” apa  tentara, kok kon  siap?”….. “materinya apa pak?”……”ya…liat saja nanti…” ..” waktunya hanya 10 menit pak…” … ” saya tuh ndak usah diatur-atur …. sedetik saja bisa selesai…” . Sejenak kemudian petugas itu menjauh dari sang guru. Gaya sang guru yang ketus itu sejatinya menjadi penyeimbang dari “gaya wah”nya para petugas protokoler.

Tidak lama kemudian ada pemberitahuan bahwa pidato sang guru didahulukan sebelum sambutan para tokoh nasional.

Sang guru naik panggung  langsung mengucap salam, “assalaamualaikum wr wb…….”  Suaranya menggelegar dan menarik perhatian. Tentu saja para hadirin terdiam, memperhatikan. Bagi yang sudah kenal, suara itu terasa menghibur tapi bagi yang belum kenal, suara itu menyakitkan. Tidak sopan.

Berikutnya sang guru membuka pidato dengan kata-kata, “bapak………( menyebut nama jabatan orang kedua) yang tidak saya hormati…..”. Banyak mata terbelalak mendengar kata pembuka itu dan tampak risih.  Tetapi bagi yang sudah mengenal sang guru,  kata pembuka itu seperti hiburan yang menyegarkan. Dan  karena dibatasi oleh etika sopan santun maka yang terdengar adalah tawa kecil yang hanya terdengar oleh orang di sebelahnya. Sang guru melanjutkan, ” Waljinah  yang saya hormati…..  Yati Pesek yang saya hormati……. dst…. Malam itu sang guru membuat heboh suasana keraton……

Peristiwa kedua terjadi tahun 2008 di alun-alun kidul Yogyakarta. Sekumpulan pemuda Yogya menyelenggarakan acara memperingati 2 tahun tsunami Yogya. Sang guru diminta menyampaikan orasi. Yang hadir para tokoh tingkat DIY dan hadir pula Hidayat Nurwachid. Ada seniman Opick yang menyanyikan lagu-lagu religius dan Sitoresmi yang membacakan beberapa puisi.  Saat berada di panggung, beliau langsung berteriak…..kalau aku  bicara ditirukan apa tidak?…. hadirin diam dan ragu.  Pertanyaan itu diulang lagi dengan tambahan….. ” kalau tidak ditirukan aku turun…..” . Serentak para hadirin menjawab ” ditirukan….!!!”…. “lha iya, tadi Opick ditirukan, yang pidato tadi juga ditirukan….maka aku pun harus ditirukan……”  Hadirin tertawa lepas karena sang guru terkesan lucu.  Setelah reda tawa hadirin,sang guru melontarkan pertanyaan…. ” pejabat sekarang ini banyak yang baik apa banyak yang maling?…..” Serentak para hadirin yang mayoritas anak-anak muda berteriak “… maliiiiiiiiing……”. Seketika sang guru mengatakan , maliiiiiing…..  maliiiiiing……. maliiiiiing….. “dst ditirukan oleh anak-anak muda. Sementara kata-katang “maling” mengudara seorang tokoh yang hadir di arena itu ngeloyor pergi. Pemandangannya jadi lucu. Sepertinya tokoh itu melangkahkan kaki diiringi teriakan “maling…maling..” Pokisi marah kepada panitia karena  mengundang pembicara “yang tidak keruan”… Heboh sana, heboh sini. Tetapi kenyataannya ketika sang guru turun dari panggung, beliau mendapat salam dan pelukan dari Kapolda dan dari Hidayat Nurwachid.

One thought on “Sang Guru (8)

Komentar ditutup.