Fenomenal Kebangkitan Islam Atas Konflik Yang Terjadi Antara Kapitalis Dan Sosialis

Menyimak dinamika dan tata politik global akhir-akhir ini semakin menarik dicermati. Bahwa “benturan” yang terjadi, sepertinya sudah melenceng dari kelaziman, menjauh dari perkiraan pakar. Selain tak hanya melibatkan interaksi dua ideologi antara kapitalis versus komunis/sosialis di berbagai belahan dunia, benturan-benturan yang berlangsung juga menghadirkan unsur lain –meski sesungguhnya telah diperhitungkan– namun banyak pihak tak menduga fenomenal kebangkitannya. Ibarat raksasa tidur kini bangun lalu mengaum, membuat sekeliling terkaget-kaget. Siapa “unsur lain” yang dimaksud? Mari melanjutkan tulisan sederhana ini …. Hmmmm…. Apa Seperti yang sudah di ramalkan “Manusia” jaman dulu yah … Semakin Seru dan menarik untuk di simak …Nih…!!!

 

Dalam dokumen Pentagon, Project for The New American Century and Its Implications 2002 (PNAC) diperkirakan, bahwa persaingan antara Amerika Serikat (AS) versus Cina bakal meruncing 2017. Dan konfrontasi terbuka mungkin tidak bisa dielakkan, kecuali apabila terjadi “pelemahan” masing-masing kubu menjelang momentum itu tiba.

Perlu ditegaskan di awal coretan ini, bahwa Cina merupakan pengusung tradisional paham komunis, sedang AS adalah pengawal setia kapitalisme. Kedua ideologi tersebut semenjak Perang Dunia II (1939-1945), Perang Dingin (1941-1991).dan bahkan hingga sekarang pun asyik berseteru secara masif di berbagai dimensi, saling menebar hegemoni.

Tak boleh dipungkiri, terbitnya PNAC oleh Pentagon, mungkin dilatar-belakangi bahwa Negeri Tirai Bambu itu dianggap satu-satunya pesaing berat dari segala aspek selain Rusia, maka disamping alasan ideologi pemerintahan — pertimbangan lain adalah konsumsi minyak Cina hampir separuh lebih di pasar dunia. Dan dalam tata hegemoni, siapapun negara ketika berpotensi menjadi pesaing AS mutlak harus dibendung, dibuat lemah, atau bila perlu dilenyapkan seperti halnya Uni Sovyet doeloe.

Menurut anggota Kongres dari kubu Republik, Alan West, Cina dinilai sebagai “ancaman permanen” bagi AS. Ia menyatakan bahwa Angkatan Laut Amerika harus mempersiapkan diri berperang dengan Cina (01/06, 2011). Dalam pidato West di lembaga Heritage Amerika, budget angkatan bersenjata adalah tanggung jawab besar sebuah pemerintahan federal dan tanpa dukungan angkatan bersenjata, AS tidak akan dapat melanjutkan tugasnya!

Secara geostrategi, upaya membendung Cina oleh AS dari berbagai arah relatif efektif, karena tak sedikit negara Asia di sekeliling Cina telah masuk dalam koalisi dan sekutu, bahkan menjadi (boneka) satelitnya. Mungkin hanya sebelah utara saja (Rusia) yang belum, termasuk beberapa negara Timur Tengah terutama Iran. Sedangkan Negara Teluk khususnya enam negara (Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Emirat Arab, Oman  dan Qatar) tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (PGCC) telah sejak doeloe patuh atas hegemoni AS dan sekutu.

Memahami watak PNAC, memang tak boleh lepas dari kharakter kapitalis yang ingin mengurai pasar seluas-luasnya dan mencari bahan baku murah, sehingga penjajahan ialah methode baku dimana saja. Tatkala berubah maka hanya cara dan prasarananya.

Dengan melihat sepak terjang selama ini, jika boleh meramal, bahwa cita-cita AS sesungguhnya adalah menguasai Jalur Sutra yang membentang di antara perbatasan Cina-Rusia hingga ke Maroko dengan berbagai route alternatif. Ya, ia merupakan route melegenda semenjak abad ketiga hingga sekarang, terkenal sebagai jalur ekonomi – perdagangan sekaligus jalur militer dunia.

Dari literatur lama sesungguhnya hanya ada dua route darat di Jalur Sutra, yaitu utara dan selatan. Titik singgung kedua route ada di Syria. Kemudian jalur utara ke arah Eropa melalui Turki, sedang jalur selatan menyisir di sepanjang pantai Afrika Utara hingga Maroko. Pertanyaan kenapa dahulu wilayah perairan tidak mampu dikuasai oleh adidaya, konon katanya dalam kendali raja-raja nusantara (kini Indonesia). Luar biasa !!!

Merujuk perilaku para adidaya kini, sejatinya Jalur Sutra telah berkembang pada jalur perairan dimana terbentang mulai Laut Cina Selatan, melintasi Selat Malaka, Laut Andaman, Teluk Benggala dan ujung muara di Lautan Hindia. Itulah asumsi terbaru tentang Jalur (perairan) Sutra.

Sebagaimana dikatakan Alfred Mahan, sesepuh kelautan AS, barang siapa menguasai Lautan Hindia maka menjadi kunci percaturan dunia. Agaknya  kalimat “Lautan Hindia” pada doktrin di atas, diduga merupakan sebutan (tersirat) lain bagi Jalur Sutra yang sengaja disembunyikan Mahan. Dan secara riil sekarang ini, bercokolnya dua pangkalan militer AS di Samudera Hindia, tepatnya di Diego Garcia, Kepuluan Chagos dan di Pulau Socotra, Yaman (mungkin) adalah indikasi kuat pengamalan doktrin keramat tersebut oleh angkatan bersenjatanya.

Kembali ke PNAC, pada abad XXI ini terlihat bahwa perseteruan antara Cina versus AS hampir mencapai titik klimaks. Diawali “pemanasan” di Semenanjung Korea sebagai proxy war (lapangan tempur) namun sedikit tertunda akibat “kuat”-nya kebangkitan di Timteng dan Afrika Utara, jajaran negara Jalur Sutra yang ditarget oleh AS dan sekutu.

Salah satu penyebab batalnya Perang Korea mungkin akibat smart power-nya Brezenky, Mentor Partai Demokrat out of control di Jalur Sutra dalam upaya ganti rezim karena segelintir elit terlihat melawan, terutama Libya. Harap dimaklumi. Terdapat beberapa faktor mengapa smart power lepas kendali di Jalur Sutra, yakni selain ketiadaan (menipis) dana; ada Tornado yang tak henti-henti menerjang negara bagian; dan kelelahan akibat perang 10-an tahun di dua negara (Afghanistan dan Iraq).

Dalam perspektif perang Barat, gaya kepemimpinan Gaddafi juga struktur sosial dan sistem tata-negara Libya membutuhkan terapi khusus, berbeda dengan Mubarak di Mesir, Saleh di Yaman atau Ben Ali di Tunisia mudah dilengserkan via gerakan massa dengan pola adu domba ala provincial reconstruction team (PRT). Jujur saja, smart power-nya Obama tak mampu mendongkel Gaddafi melalui gejolak massa seperti negara-negara lain, sehingga khusus di Libya harus dibuat oposisi model pemberontakan bersenjata . PRT adalah methode penjajahan lama Paman Sam yang dibangkitkan kembali mengganti pola invasi militer yang dianggap gagal di Iraq dan Afghanistan .

Tampaknya, tertundanya “pemanasan” di Semenanjung Korea kemarin, dilanjutkan kembali di Laut Cina Selatan. Diawali klaim-klaim kecil atas Kepulauan Spratly dan Paracel oleh kelompok negara satelit AS seperti Malaysia, Philipina, Vietnam, Taiwan, Brunei Darussalam dan lainnya. Bahkan Philipina berani mengklaim Laut Cina Selatan sebagai Laut Philipina Barat, juga Vietnam pun menyebutnya Laut Timur.

Termasuk rencana membangun pangkalan militer di Singapura, semakin terbaca sebagai sikap AS menahan gerak laju Cina melalui penguasaan Selat Malaka, yang merupakan lintasan kapal-kapal dari Laut Cina Selatan menuju Teluk Benggala, Myanmar dan Samudera Hindia. Itulah langkah-langkah nyata mengepung Cina. Sekilas terlihat penerapkan PNAC di tengah terpaan krisis ekonomi sepertinya membabi-buta bahkan terkesan nekat, tetapi sudah barang tentu, niscaya AS memiliki hidden agenda yang lebih besar daripada terlihat.

Merujuk awal tulisan ini, memang terdapat unsur lain tidak terduga bahkan mengendala dalam implementasi PNAC. Ya, unsur lain itu adalah Islam. Bermula dari tesis Samuel P Huntington soal Clash of Civilization (benturan peradaban) menganggap Islam itu ideologi. Inilah titik awal. Ketika dianggap ideologi maka ia diletakkan selaku kompetitor oleh kaum kapitalis. Usai Perang Dingin, Islam dihadapkan dengan kapitalis. Lalu para muslim dengan aneka atribut budaya dicap bar-bar dan dianggap ancaman. Sedang Islam merupakan agama langit – rahmat seluruh alam. Inilah kesalahan terbesar Huntington merumus benturan peradaban, sebab konsepnya justru menjadi penyebab pokok kebangkrutan kapitalisme. Istilahnya kualat, sebab menghadapkan agama langit (wahyu Ilahi) dengan hasil olah (ideologi) pikir manusia!

Alhasil otak-atik konsep Huntington oleh think thank Gedung Putih di era Bush Jr, melahirkan tiga alur (skenario) dan skema besar pada abad ini, yaitu pre-emtive strike doctrin, Whorld Trade Centre (WTC/911), dan al Qaeda atau terorisme.

Sebagaimana diketahui bersama, melalui ketiga skenario tadi, Afghanistan (2001) diinvasi oleh militer AS dan sekutu, kemudian Iraq (2003) dikuasai dengan beragam stigma bergerak. Ini terlihat nyata. Awalnya stigma Iraq (dicap) menyimpan senjata pemusnah massal, ketika telah diduduki dan ternyata tak terbukti stigma diganti melawan pemimpin tirani, tatkala Saddam tewas digantung stigma diubah lagi menjadi menjaga stabilitas keamanan. Entah esok stigma atau dicap apa lagi.

Akhirnya berkembang opini bahwa stigma AS terhadap suatu negara atau kelompok tertentu, sesungguhnya cuma dalih agar ia bisa mengobrak-abrik wilayah target (biasanya negara penghasil minyak, emas, gas bumi dan tambang lain) tanpa ia repot menuai protes dari kalangan internasional. Itulah pola yang digunakan dengan berbagai kemasan.

Selanjutnya, terlepas pro-kontra tewasnya Osama disebu Navy SEAL lalu konon dibuang ke laut, peristiwa itu disinyalir hanya “momentum” agar ia lepas dari tanggung jawab dari skema terdahulu (al Qaeda dan terorisme) baik yang sifatnya teknis, taktis, maupun capacity building — dan terlebih dalam hal pendanaan. Skema War on Terror (WoT) selesai atau tamat. WoT malah membikin hancur perekonomian AS dan sekutu. Sosok Bin Laden dianggap gagal memainkan peran, maka konsekuensi logis harus “dilenyapkan” sebagai tanda akhir cerita. Selamat jalan Osama!

Berdasar tiga alur skenario besar di muka tadi, terbaca bahwa methode penjajahan AS terutama era Bush Jr, intinya selalu diawali tebaran stigma buruk bagi daerah target, kemudian dimunculkan pembangkang atau sosok hero yang melawan, dilanjutkan invasi militer melalui keroyokan bersama sekutunya (NATO dan ISAF) dan seterusnya. Contoh riil ialah perang Iraq dan Afghanistan yang hingga kini tak jua usai, kendati telah menghabiskan budget milyaran dolar namun hasilnya nihil. Perang tak membawa manfaat bagi ekonomi negara bahkan menimbulkan efek kehancuran di sektor lainnya terutama moral dan sektor sosial. Ya, WoT cuma mengenyangkan segelintir kotraktor perang saja!

Fenomena menarik muncul, ketika Tony Blair ex Perdana Menteri (PM) Inggris setelah turun jabatan 2007 membaca Al Quran setiap hari. Menurutnya, Al Qur’an membuatnya melek iman. Melek iman penting di era globalisasi seperti ini, sebagai upaya untuk mengerti apa yang terjadi di dunia dan karena sifatnya yang instruktif,” ujar Blair wawancara dengan majalah Observer.

Tak hanya itu, ia juga memuji Islam sebagai sebuah agama indah dan Nabi Muhammad dikatakan sebagai sosok yang kuat. Dan dekade 2006-an lalu, Blair pernah menyatakan bahwa Al Quran kitab yang terus bereformasi, praktis, dan seakan dibuat mendahului zamannya. Ia yakin pengetahuan tentang Islam akan membantunya sebagai Duta Besar Timur Tengah untuk Kuartet PBB, AS, Uni Eropa (UE), dan Rusia. Blair ingin membantu menyelesaikan konflik antara Palestina-Israel. Luar biasa! Melihat sepak terjang Blair bersama Bush Jr, terutama dalam perang di Afghansitan dan Iraq, maka sikap yang ditampilkan kini sungguh bertolak belakang dengan sebelumnya yang cenderung keras memusuhi Islam. Timbul decak kagum berbagai kalangan, karena ucapan Blair diliput oleh banyak media, bahkan mencengangkan kalangan Islam itu sendiri. Benarkah?

Bila merujuk asumsi Escobar, bahwa politik praktis memang bukan yang tersurat melainkan yang tersirat, maka fenomena Blair mengingatkan pada sosok Snouck Hurgronye, orientalis Belanda yang mempelajari dan pindah agama kemudian berganti nama menjadi Abdul Gaffar. Ternyata penitrasinya bermaksud memeta struktur kekuatan dan daya lawan rakyat Aceh saat itu. Setelah itu, dirumuskan trik pecah belah dari sisi internal dengan istilah “belah bambu”. Ketika teorinya dianggap berhasil memecah belah umat Islam di Aceh, konsepnya dipakai secara “nasional” oleh pemerintahan kolonial, bahkan disinyalir, implementasi siasat belah bambu terus berlanjut hingga kini  – terbukti dengan maraknya dinamika keagamaan dengan beragam aliran di bumi pertiwi, tetapi malah menimbulkan bentrokan, pertikaian, dan perpecahan umat Islam itu sendiri.

Uniq, memang uniq! Betapa pusat pergerakan paham dan aliran yang berkembang justru dari Barat. Selayaknya segenap komponen bangsa harus menyikapi, atau minimal berasumsi bahwa gerakan berbagai aliran bukanlah sekedar dakwah oriented, melainkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bentukan asing berkedok agama yang bertujuan menghancurkan Islam dari sisi internal. Hal ini pararel dengan tata cara Snouck dekade 1889-an doeloe.

Ujud “penghancuran umat” sekarang bisa dalam bentuk membenturkan sesama umat padahal cuma beda budaya, atau mendangkalkan ajaran, menyimpangkan makna ayat, atau pengaburan agama dan lainnya. Itulah legenda taktik adu domba kolonial yang tengah berlangsung di bumi pertiwi. Sungguh banyak anak bangsa ini larut oleh “arus belah bambu”-nya Snouck lagi tidak menyadari, atau ada yang mengerti namun pura-pura tidak memahami!

Mengenang warna Snouck memang penuh corak. Bagi Belanda, ia adalah pahlawan pemeta struktur perlawanan rakyat Aceh, lalu mematahkan via teori hasil penelitiannya; bagi golongan orientalis dianggap sarjana sukses, sedang bagi rakyat Aceh sendiri, ia merupakan pengkhianat tanpa tanding – sebab memanipulasi tugas keilmuan untuk kepentingan politik.

Kendati tak ada catatan yang pasti, kemungkinan teori Snouck merupakan embrio Devide et Impera yang melegenda hingga kini. Inti teorinya adalah:

Tahap pertama, memecah “kotak kekuatan” Aceh melalui perang kontra-gerilya. Mematahkan perlawanan ulama. Dimulai melempar isue bahwa yang berhak memimpin Aceh bukanlah uleebalang tetapi ulama yang dekat dengan rakyat kecil. Tatkala komponen paling menentukan itu telah pecah dan rakyat berdiri di belakang ulama, kemudian mengerasi ulama dengan harapan rakyat yang sudah berposisi menjadi takut. Untuk waktu singkat, methode ini berhasil.

Tahap kedua, mendekati ulama untuk bisa memberi masukan materi fatwa agama. Tetapi materi fatwa-fatwa tersebut sudah berisi “ruh” adu domba. Ia berkotbah, demi kepentingan agama supaya  memisahkan antara agama dan politik (negara). Ya, agama tidak boleh memasuki koridor negara. Agama hanya boleh berinterakasi di ruang-ruang privacy saja. Disinyalir, model trik kedua ini merupakan benih sekularisasi yang kini marak dan mengglobal serta banyak dianut berbagai agama atas nama reformasi. Intinya jelas, pisahkan agama dari negara!

Tahap ketiga, mematahkan perlawanan secara keras walaupun akhirnya diubah, oleh karena pelumpuhan melalui kekerasan justru melahirkan implikasi yang sulit diredam. Kendati akhirnya taktik Snouck mampu menaklukkan kesultanan Aceh era 1903-an, tetapi pokok permasalahannya belum selesai. Ia menyarankan, agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat akibat penaklukkan bersenjata. Snouck menyatakan bahwa takluknya kesultanan Aceh bukan berarti seluruh Aceh takluk.

Membaca fenomena Blair, memang tak elok bila menganalogkan dengan petualangan Snouck. Terlalu dini. Namun mendengar jabatannya Dubes Besar untuk Timur Tengah mewakili kuartet kelompok yang berdasarkan catatan, adalah kelompok negara yang pernah dan sedang mengeksploitasi (minyak) di negara Islam, mungkin sama dan sebangun dengan cerita Snouck dahulu. Memang, pengulangan sejarah dan peristiwa sering terjadi tanpa disadari kendati ruang serta waktunya berbeda, tetapi isi dan intinya ternyata sama!

NB Blog :

“ Bagaimanakah Bangsa Indonesia Sekarang….hmmmmm… Suka atau Tidak, Disadari atau Tidak, Sepertinya sudah masuk perangkap….. Tentukan Sikap !!! “

Penulis : M Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute ; Judul Asli : Mengepung Cina, Memecah-belah Islam!

4 thoughts on “Fenomenal Kebangkitan Islam Atas Konflik Yang Terjadi Antara Kapitalis Dan Sosialis

  1. Saya baca blog sosialis, saya khawatir Islam nanti dijadikan alat fasisme seperti Hitler di Jerman, Mussolini di Italia, Stalin di Rusia dan Seigo Nakano di Jepang yang bertujuan menggagalkan sosialisme sebenarnya. Baca:

    “Seorang Marxis yang benar-benar bisa menakar lebih jauh dari buku-buku yang dia baca dan pendidikan yang dia terima seharusnya bertanya: Mengapa ketika Marxis sedikit lagi menuju kemenangan selalu dikalahkan fasisme? Kemudian Fasisme itu selalu dikalahkan Perdamaian Palsu The Rulling Class? Itu tergambar dari perang dunia II. Tetapi kalau cuma di Perang Dunia II berarti tidak selalu? Itu bukan hanya di perang Dunia! Karena kenyataannya sosialisme sejati kalah dalam perjalanan sejarah dunia oleh fasisme, kemudian fasisme dikalahkan perdamaian palsu. Fasisme dan Perdamaian Palsu digunakan The Rulling Class untuk mencegah sosialisme sejati. Pelajari lagi perjalanan:

    1. Pemberontakan budak Spartacus Romawi, perpecahan antara Spartacus dan Crixus karena ras, bangsa, bahasa. Mereka tidak mampu memainkan nasionalisme tetapi dimainkan nasionalisme.

    2. Revolusi Agung Petani Germania, Martin mengolah Anti-Semit dan Anti-Islam, Perdamaian Palsu, kekuasaan surgawi para pangeran. Seperti kekuasaan kosmos surgawi Tenno Heika dari ritual Kuni-mi, seperti kosmos surgawi hutan teutonic Hitler.

    3. Revolusi Perancis, Napoleon melahirkan Kekaisaran Militer (fasisme) dan kaum borjuis menyabotase dengan Perdamaian Palsu, proletar gigit jari.

    4. Arab Spring, mereka menjadi saling bunuh antara Sunni-Syiah, perang Kristen-Islam, mengulang peristiwa purba. Sebentar lagi didamaikan oleh Perdamaian Palsu berupa intervensi Humanitarian, pendorong awal mula yaitu sosialisme jadi gagal realisasinya.

    5. Revolusi Sosialis Indonesia 1917-1965 dan Abad 21, saat ini sudah terlihat pra kondisi The Rulling Class untuk membangkitkan Fasisme dan Perdamaian Palsu lagi seperti 1960-an. Mereka sudah mendirikan ini dari dahulu, mereka bermain di dua sisi. Saat Marxis Indonesia suatu saat menjelang kemenangan, maka The Rulling Class akan meminjam tangan Fasisme, akhirnya saat sudah terjadi chaos baru kembali pada Perdamaian Palsu.”
    http://manifestosenja.com/2014/01/mmp-bio-psikologi-dari-yesus-kristus-sigmund-dan-ledoux-4/

  2. Thanks Mas Bro, Apa kabar nih… baik2 aja kah?

    Iya nih… Maklum petualangan atau Kisah Heroik kaya Megalomen, munculnya belakangan. Tapi ini bukan cerita kartun loh !

    Salam

Komentar ditutup.