Al Yaqiin

” Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian TIDAK RAGU-RAGU sedikitpun dan berjuang ( fisabilillah ) dengan harta dan jiwa mereka”       (Al Hujurat:15)

   Pernahkah kita membayangkan bagaimana kesudahan da’wah Rasulullah SAW apabila para awallun mu’minin, para sahabat ragu-ragu dalam menerima risalah Islam ?  Dapatkah kita mengira-ngira kondisi ummat ini, kalau generasi awalnya menerima al Islam dengan setengah hati dan berjuang dengan semangat ogah-ogahan ?

   Tak pernah terbayangkan, dan mungkin tak terbayangkan, apalagi manakala kita membaca sejarah diri mereka, sejarah yang pantas ditulis dengan tinta emas, sejarah cemerlang kemanusiaan, yang memancarkan semangat, kerinduan mendalam, ibroh dan ‘izzah.

   Di sana, dalam masa itu, ada tokoh seperti Bilal r.a., ibnu Mas’ud, Mushab bin Umair r.a., ada sosok abdurakhman bin auf r.a., abu bakar shiddik r.a., umar bin khattab dll. Mereka yang mulanya budak habsyi, seorang upahan pengembala domba, pemuda tampan kaya-raya, pedagang ulung, dan para bangsawan.  Tak ada hal yang istimewa pada pribadi-pribadi mereka pada mulanya.  Mereka manusia Arab, manusia biasa, manusia dengan kemanusiaannya, yang hidup dalam budaya jahiliyyah, yang sebagian dari mereka tertindas dan bahagian lainnya menindas.  Mereka hanyalah bagian dari sistem mapan yang menaik-turunkan melodi dan tetap dalam lautan orkestra kehancuran akhlaq.  Mereka hanya bagian dari sistem kokoh turun-temurun yang kropos dan tertekan kekuatan besar romawi dan persia.  Begitu kondisi mereka pada awalnya.

   Namun, manakala Islam datang menampak di mata dan hati mereka, manakala nur ilahi perlahan tapi pasti menerangi dan mensibghoh (mewarnai) hati itu, maka proses luar biasa yang tak ada satupun kekuatan di dunia yang mampu mencegahnya terjadi.  Proses yang mulanya kasat mata, lalu perlahan-lahan mengambil bentuk awal dan akhirnya mewujud sempurna dalam sosok pribadi.

   Bangsa Arab yang terkenal keras, kukuh dan teguh pun menjadi terpukau.  Manusia-manusia “aneh”, “ajaib” bermunculan. Hampir-hampir mereka menyangkal realitas yang membumi di sekeliling mereka.  Puncak dari itu semua adalah kebingungan dahsyat dan frustrasi.

   Bangsawan pemilik Bilal r.a. adalah contoh paling awal. Siksaan yang tak ada tara, kekejaman yang luar biasa, kebengisan yang terburuk dalam sejarah kemanusiaan, yang tak ada lagi bentuk terbarunya telah dijatuhkan pada bilal r.a.. Namun, sang tokoh hanyalah berucap “Ahad”, “Ahad”, “Ahad”.  Hanya menyebut nama Rabb pencipta semesta alam, hanya menyebut nama itu, tidak untuk menyerah atau mohon diampuni.  Siksaan apalagi yang dapat mengubah pendirian bilal r.a.? Siksaan apalagi? Kenapa bisa muncul manusia seperkasa itu, manusia yang tegar melebihi tegarnya batu karang?

   Bangsa arab yang terkenal kukuh dan keras dalam pendirian pun terheran-heran.  Mereka terpana dan bingung.

   Abdullah bin Mas’ud dengan ketinggian ‘izzah membacakan Al Qur’an di hadapan pemuka-pemuka Quraish, tanpa rasa gentar akan siksaan yang bakal mereka jatuhkan.  Abdullah bin mas’ud yang hanya seorang budak pengembala domba, kecil, pendek dan tidak menarik dengan mantab dan tenang mengumandangkan firman-firman Allah dengan suara merdu dan memukau di hadapan para bangsawan yang hari-hari lalu adalah tuan-tuan yang beliau takuti.

   Seperti mimpi, tapi itu kenyataan.  Pemuka quraish tak habis mengerti dengan manusia-manusia baru dengan ketinggian ‘izzah, ketinggian harga diri, dan kehalusan akhlaq.  Sementara mereka, adalah makhluk yang kasar, yang hanya mementingkan materi, penuh kekerasan dan selalu memaksakan kehendak dengan meriam kekuasaan.  Mereka kalah, jatuh, terpesona dan merasa rendah.  Inilah hakekat yang tersembunyi di balik kebengisan mereka terhadap kaum Muslimin yang halus budi dan pema’af, kebengisan manusia-manusia yang kalah lahir dan bathin, kalah dalam totalitas kemanusiaan, kalah dalam seluruh dimensi kebaikan.

   Sementara para sahabat perlahan tapi pasti mulai merebut posisi sampai hijrah dan fathu Makkah (ditundukannya Makkah).

   Itulah refleksi yakin, al yaqiin dalam diri manusia-manusia baru, tak ada keraguan sedikitpun pada diri mereka, dan mereka berjuang fisabilillah dengan harta dan jiwa, dengan tajjarud (segenap totalitas diri).  Al yaqiin telah tumbuh dan menancapkan akar-akarnya dalam merah hati mereka, al yaqiin telah rindang dengan dedaunannya yang melingkup seluruh ruang sejauh mata memandang, Al Yaqiin telah menyinari seluruh hakekat yang dimengerti dalam satu garis tunggal kausalitas, Allah Rabbal ‘alamiin. Maka adakah siksa yang lebih keras dari siksa Allah yang pantas ditakuti?  Adakah kebahagiaan yang lebih besar dari ridha Allah yang pantas dicari?  Adakah ghoyyah (tujuan) lain selain Allah yang pantas dituju?

   Inilah akhlaqul kharimah, yakin akan Allah dan RasulNya serta hari dimana semua manusia menerima perhitungan.