ASEAN, Alat Amerika Kuasai Pasar

Melalui ASEAN, AS mencoba mengalahkan kekuatan ekonomi China yang tumbuh pesat.

Keterlibatan Amerika Serikat dalam KTT ASEAN dan East Asia Summit dipandang sebagai upaya Paman Sam untuk menguasai negara-negara ASEAN. Langkah ini juga termasuk dalam cara AS menandingi kekuatan ekonomi China yang tumbuh pesat.

Hal ini disampaikan oleh pengamat ekonomi politik dari Universitas Indonesia, Ichsanuddin Noersy, di sela seminar yang digagas KNPI Bali bertema “Menakar Stabilitas Kemananan Indonesia dan Polisosbud Bali Dalam Kunjungan Kepala Negara di Dunia”, di Denpasar, Bali, Sabtu 11 November 2011.

 

Ichsanuddin mengatakan, bahwa AS mencoba mengubah perang militer menjadi perang ekonomi. Dalam KTT ASEAN ini, AS akan mengukur sejauh mana perannya di bidang ekonomi, khususnya pada perekonomian Asia Tenggara. “KTT ASEAN bisa saja dijadikan alat untuk berperang melawan China dan lawan-lawan lainnya. Ini yang membuat Amerika berperan lebih dalam di ASEAN,” kata Ichsanuddin Noersy.

Salah satu bukti AS tengah mencengkeram Asia, lanjutnya, adalah semakin banyaknya tentara AS di Asia Tenggara, sekitar 85.000 orang. “Setelah dari Australia, Obama akan bertandang ke Bali. Ini untuk merapikan geopolitik yang sedang dicengkeramnya. Jepang dan Korea yang paling banyak menerima pasukan Amerika dan saya kira ini menjadi masalah sosial atau social teror di kemudian hari dengan berbagai tindak aksi show of force AS,” ucapnya.

Tahun 1994 Ichsan mengaku mengikuti East Asia Economic Grouping. Dalam pertemuan itu, Malaysia dan Singapura menyadari jika yang terjadi adalah perang ekonomi. Dan selanjutnya, tutur Ichsan, East Economic Asia Grouping berubah menjadi East Asia Economic Caucuss. Hal itu, menurutnya, merupakan ancaman bagi Amerika Serikat. Sebab, kepentingan kaukus tidak sepenuhnya mendukung APEC. Dan, APEC didesain sebagai kekuatan Amerika untuk menguasai ekonomi di Asia.

“Di sinilah ceritanya, krisis yang terjadi di ASEAN dijawab dengan masyarakat tunggal ASEAN. Kepentingan Amerika tentu saja akan memasarkan barang-barang dan modal ke ASEAN secara masif nantinya, walaupun di tengah krisis yang mendera,” tukas Ichsan.

“Apa yang dipasarkan tentu saja industri militer, energi, industri IT dan industri keuangan. Ini semua fakta. Jadi, mereka tidak mau lagi bicara industri-industri recehan. Hati-hati dengan dana-dana hibah Amerika. Dengan adanya hibah untuk negara-negara ASEAN, Amerika akan semakin mencengkeram,” ingat Ichsan.

Ia pun menyarankan dalam eskalasi ekonomi politik di dunia saat ini, Indonesia harus melakukan upaya non-blok aktif. Sayangnya, kata dia, Pemerintah Indonesia tidak melakukan itu sama sekali.

“Jadi, saya menyesal, tidak ada pejabat di Indonesia memanfaatkan perang ekonomi ini untuk melakukan non-blok aktif. Sebetulnya, Indonesia masih bisa menata ulang lagi, seperti negosiasi tarif, atau soal lingkungan dan sumber daya alam di Indonesia dan soal ketenagakerjaan. Ini yang sebetulnya harus dikonsolidasikan secara ekonomi politik,” jelasnya.