Al Bara

“Sesungguhnya kami berlepas diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiranmu) dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”     ( Al Mumtahanah :4)

   Al Bara berarti mengingkari, berlepas diri, mengambil garis pemisah terhadap al bathil. Dia adalah pasangan dari al wala, dan merupakan inti aqidah islamiah dan dasar yang mengikat akhlaq islami.  Dia merupakan perwujudan syahadah, berupa penolakan semua ilah (yang diikuti), semua tuhan bikinan manusia, kecil atau besar. Dalam posisi ini seorang Muslim akan menjadi makhluk yang merdeka bebas dari tuhan-tuhan palsu, jerat-jerat hawa nafsu syahwat, bebas dari belenggu harta atau tahta.  Dia memutuskan semua ikatan itu lalu menyerahkan loyalitasnya, menetapkan walanya, kepada Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman.

   Dalam pemahaman aqidah ini, diin yang mulia ini, adalah mustahil kalau seorang Muslim menyembah Allah kalau sementara itu juga memberikan loyalitasnya untuk musuh-musuh Allah, mengikuti perintah Rasul namun juga tunduk pada perintah taghut (iblis), bersatu dengan orang-orang yang beriman namun pada saat itu juga berkasih-sayang dengan orang-orang yang menganiaya kaum mu’minin, berjanji akan mengikuti aturan islam yang syamil dan kamil (lengkap dan integral) namun pada saat yang sama juga terpesona dengan ideologi-ideologi lain bikinan manusia yang pada kenyataannya memasung dan mengebiri hakekat dari iman dan islam itu sendiri. Adalah mustahil kontradiksi ini eksis dalam jiwa kaum Muslimin.  Mono loyalitas menuntut pemutusan pengabdian pada sesuatu selain Allah.  Karenanya melalui bara, semua hubungan dengan sesuatu yang menentang Allah dan RasulNya, terlebih dahulu diputuskan, dipapas sampai keakar-akarnya, permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai mereka kembali pada fitrah yang suci–al Islam.

   Pada posisi inilah kawan dan lawan, persahabatan dan permusuhan tegak dan bersandar pada syar’i, bukan pada hawa nafsu.Persahabatan karena Allah dalam rangka menegakkan agama Allah,dan permusuhan karena Allah, untuk membela agama Allah.

   Al bara tak lain dari proses yang mesti dilakui seorang Muslim dalam upaya menyiapkan “ladang yang subur” bagi keimanan, hati yang bersih.  Ibarat petani membersihkan ilalang, agar pohon ketaqwaan dapat berkembang sebagaimana seharusnya.  Ibarat pemborong yang meruntuhkan puing-puing lapuk lalu mendirikan bangunan iman yang menjulang, kokoh, yang membuat senang hati
setiap orang yang melihatnya. Inilah bara’ yang benar, yang mengukuhkan akhlaq.

   “Bagiku agamaku, bagimu agamamu”, dan aku tidak termasuk dalam golongan kaum yang munafiq.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil.