Sang Guru (11)

SANG GURU (11)

by Bu Wiwik on Tuesday, September 27, 2011 at 1:37pm
 
 

Tingkatan ilmu yang tertinggi adalah ilmu alam, ilmunya Tuhan.

Tentang ilmu alam sebagai ilmunya Tuhan, sang guru belum pernah memberikan penjelasan apapun baik secara pribadi maupun secara umum saat pengajian. Tidak, sekalipun hanya sebaris kata seperti pada ilmu yang lain. Dalam ilmu tumbuh-tumbuhan sang guru menambah ” lakunya seperti binatang”. Dalam ilmu kitab sang guru menambah ” natap-natap”…. Dalam ilmu ukur sang guru menambah “ukuran haq dan bathil”.  Sedang untuk yang satu ini, hanya  ”ilmu alam ilmunya Tuhan”… titik.  Maka sulit bagiku untuk menuliskannya walaupun dalam ruang pikir dan jiwaku,  aku mengerti.

Namun demikian, aku melihat kehidupan sang guru dalam keseharian baik ucapan  kalimatnya, ungkapan pikirannya atau perilakunya selalu dekat dengan alam. Bahkan dapat dikatakan alamiah sekali. Tidak ada rekayasa, tidak ada basa basi. Semua lugas, tuntas dan jelas. Termasuk saat beliau salah ucap atau salah tangkap.

Dalam hal bangunan pondoknya, semua bahan alami, tidak ada bahan hasil rekayasa. Dalam hal makanan, beliau masih setia dengan segala sesuatu yang direbus atau digoreng. Beliau tidak suka  menyantap makanan hasil rekayasa. Demikian juga proses pekerjaan. Dalam bertani beliau tidak menggunakan pupuk buatan melainkan pupuk alami atau pupuk organik. Bahkan dalam banyak hal beliau sering menggunakan bahasa alam.

Ketika ada seorang santri yang mengeluhkan anaknya yang lemah, cengeng dan sangat perasa, sang guru memberinya nasehat,” kon mangan jangan bung sing akeh,” –  ” suruh makan sayur bung yang banyak “. Yang dimaksud dengan sayur bung adalah sayur  rebung, pangkal bambu yang masih muda. Sayur rebung adalah salah satu masakan khas orang Jawa. Orang yang masih awam tentu akan melakukan nasehat  itu apa adanya.

Tapi apakah nasehat sang guru itu harus ditelan mentah-mentah ? Benar-benar makan sayur rebung?….. Tidak. Yang beliau maksud dengan makan sayur rebung adalah melatih dan  mengajari anaknya dengan sesuatu agar hatinya  kuat dan tegar seperti  ”kuat dan tegarnya bambu” .

Di suatu sore ba’da ashar aku dan suami berada di pondok dan kami ngobrol bertiga di ruang tamu. Langit mendung, angin bertiup perlahan dan tak lama kemudian hujan turun dengan deras. Ruang tamu menjadi setengah gelap tanpa lampu. Halilintar menyambar-nyambar dengan suara menggelegar seolah berada di atas kepala. Kami bertiga sama-sama diam membisu. Tak lama kemudian sang guru berkata, ” bu wiwik pernah berdzikir menyebut asma Allah dengan keras tapi tanpa suara?……” . Kami berdua saling berpandangan. Beliau melanjutkan, ” jantung kita berdetak keras dengan irama tegap melafalkan Allah….Allah…. Allah…..”. Kami berdua menundukkan kepala. ” usahakan bisa melakukan itu, suara halilintar itu tidak sebanding kerasnya dengan suara dzikir kita di hati…..”.

Beliau sangat menghargai dan menghormati kehidupan. Menurutnya, tidak ada hak bagi suatu makhluk untuk membunuh makhluk lainnya. Itu haknya Tuhan. Manusia hanya bertugas merawat dan menjaga kehidupan. Kecuali “pembunuhan” yang berlangsung sesuai ekosistem. Bahkan ekosistem harus terjaga demi tegaknya  keseimbangan alam.

Pernah di suatu siang ba’da dzuhur, aku dan  suami menghadap sang guru dan diterima di serambi masjid Mahbang. Kami bertiga duduk di serambi bagian utara sehingga tidak banyak orang lewat. Kami ngobrol tentang berbagai hal. Sementara itu datang serombongan semut berbaris melewati tempat kami ngobrol. Sang guru memperhatikan barisan semut itu lalu berkata, ” pindah ke sini bu wiwik, di situ ada semut lewat….. “. Beliau menggeser posisi duduknya beberapa meter ke samping. Kami mengikuti beliau. Semut pun diperlakukannya dengan sopan.

Pada kesempatan yang lain ada peristiwa, sebuah bus pariwisata yang akan parkir di halaman rumah makan menabrak pohon mangga yang tumbuh di halaman depan masjid.  Batang pohon itu patah persis di bagian tengah. Maklum pohonnya masih “remaja”. Mendapat laporan tentang hal ini sang guru segera datang ke halaman masjid lalu mendekati pohon itu. Beberapa menit beliau jongkok di samping pohon , entah apa yang dilakukannya. Tetapi mengingat bahwa sang guru biasa ” bercakap-cakap dengan alam” , aku menduga saat ini beliau sedang ” menghibur dan mengobati luka hati pohon itu”. Tidak lama kemudian sopir bis itu dipanggilnya. Dengan suara datar  beliau mengingatkan sopir itu, ” Sebelum pergi meninggalkan lokasi ini kamu harus pamit sama pohon ini”…. sambil menunjuk ke arah pohon yang pucuknya sudah terkulai  ke bawah.

Setelah bis itu pergi, dengan menitikkan airmata sang guru mencabut pohon itu perlahan-lahan lalu membawanya  ke halaman belakang. Beliau kembali ke halaman depan dengan membawa sebatang pohon mangga yang lain dan menanamnya di tempat semula sebagai pengganti.

Memang, di sekeliling masjid beliau menanam beberapa pohon mangga, pohon kersen (talok) dan pohon lainnya dari jenis pohon berbuah.  Semua tumbuh dengan subur kendati di musim kering seperti saat ini. Mungkin aku terkesan berlebihan. Tetapi, memang begitulah kenyataannya.

Tentang pohon dan tanaman sang guru sering memberi nasehat kepada kami semua, ” senanglah bercocok tanam tetapi kalau sudah berbuah jangan marah kalau buahnya diambil  orang……

Nasehat itu menyadarkan kami bahwa kami hanya bisa menanam, dan sama sekali tidak punya kemampuan untuk menumbuhkan atau memberinya buah. Jadi sudah semestinya kalau buah itu dihalalkan untuk siapa saja yang membutuhkan. Sejatinya, buah itu milik Allah.

Sang guru juga menghalalkan semua buah dari pohon yang ditanamnya baik di halaman masjid Mahbang maupun di halaman pondok plososrejo. ” Silakan ambil, ndak usah minta ijin ….halal…” kata beliau suatu saat. ” ….tetapi tentu saja jangan membuat kerusakan…. petik dengan cara yang benar dan tunggu sampai matang…”

Lebih jauh beliau menerangkan, ” kita harus berterimakasih kepada tanaman, kepada pohon-pohonan. Mereka dengan rutin memberi manfaat kepada kita. Padahal antar sesama manusia saja belum tentu saling memberi manfaat.  Pernahkah kalian mengucapkan terimakasih kepada padi saat kita makan nasi? Atau berterima kasih kepada kedelai, bayam , kangkung, jagung dll yang setiap saat kita makan?. Kita, bangsa manusia ini memang serakah dan sombong.

Beliau menjalin persahabatan yang erat dengan alam. Terbukti, ketika terjadi tsunami di Aceh tahun 2004, beliau bersama keluarga melakukan puasa setiap hari sepanjang 2 tahun. Ketika akan memberi perintah untuk berhenti puasa , mendadak terjadi gempa di Yogya tahun 2006, maka puasa itu tidak jadi berhenti alias dilanjutkan lagi hingga setahun ke depan. Perintah puasa ini hanya untuk keluarganya, tidak untuk para santri atau pengikutnya.

Bagi orang yang “syariat minded” pasti akan bertanya, ” apa ada tuntunannya, puasa kok tiap hari?”…..  Menurut pemahamanku puasa yang dilakukan sang guru dan keluarganya  itu adalah puasa tirakat sebagai bentuk “toleransi” kepada alam yang sedang murka.

Beberapa kali beliau menjelaskan, ” Kalau seorang pemimpin curang dan tidak memegang amanah, maka alam yang akan murka. Bersatunya tanah, air, api dan udara adalah bencana…”.