Krisis Suriah, Intervensi Militer dan Propaganda Para Bedebah

image Propaganda kembali membanjiri lini masa, sebagai efek atas kolapsnya Washington dan sekutu regionalnya dalam perang proksi di Suriah. ‘Humanitarian concern’ tentunya akan mengingatkan publik pada kebohongan yang dilakukan oleh NATO di Libya, yaitu intervensi militer yang membuat Afrika Utara benar-benar hancur, terpecah belah, dan banyak wilayah di kawasan yang kini dikontrol oleh Al Qaeda dan ISIS.

Hampir semua media Barat menyuguhkan gambar-gambar pengungsi yang dramatis, khususnya anak-anak, yang digunakan sebagai propaganda Barat untuk melakukan intervensi militer. Misalnya CNN yang menulis “Aleppo siege marks dramatic upheaval on Syrian battlefield. Atau artikel The Guardian yang berjudul, “Tens of thousands of Syrian refugees remain stranded at Turkish border.
Sekretaris Negara John Kerry, baru-baru ini berbicara tentang ‘inisiatif baru’ di Suriah, yang artinya, Amerika Serikat (AS) ingin benar-benar menggenggam/ menguasai Timur Tengah, tanpa kecuali.
Propaganda yang dilakukan media sesungguhnya adalah hal yang absurd. Mereka tidak memberikan informasi yang benar kepada publik, melainkan sengaja berusaha memprovokasi, memancing emosi, yang sebenarnya bertujuan untuk melakukan intervensi militer yang telah lama direncanakan, sebagaimana yang terjadi di Afghanistan, Iraq dan Libya.
Alasan sebenarnya dibalik intervensi adalah mereka ingin memecah belah dan menghancurkan Suriah, bukan untuk menyelamatkan atau membantu rakyat, dan Barat sepertinya kembali menggunakan taktik ini untuk mengelabui masyarakat internasional.
Propaganda yang dilakukan Barat, memiliki satu tujuan yaitu untuk membenarkan serangan ofensif yang dilakukan oleh Turki (yang didukung Barat) ke wilayah Suriah. Hal ini harus dilakukan untuk melindungi ‘zona aman’, yaitu ‘markas’ teroris yang kini tengah babak belur dihajar pasukan Suriah dan sekutunya. Barat mengklaim bahwa para pengungsi terdampar dan sengsara di perbatasan, lalu Turki tidak mampu lagi menampung para mengungsi Suriah, dan karenanya, jalan satu-satunya adalah invansi militer.
Kebohongan yang mengatasnamakan kemanusiaan, juga ketika mereka mengklaim memerangi ISIS, telah lama dipahami oleh masyarakat internasional yang semakin cerdas. Kehancuran yang terjadi di Libya dengan mengatasnamakan ‘humanitarian intervention’ belum hilang dari ingatan. Intervensi NATO di Libya adalah penyebab kekacauan, bencana kemanusiaan, dan mengakibatkan adanya krisis migran yang membanjiri Eropa. Tak cukup hanya itu, Libya juga menjadi surga yang nyaman bagi Al Qaeda dan ISIS. Bahkan, kelompok teroris inilah yang didanai dan dipersenjatai oleh NATO untuk menggulingkan Qaddafi.
Departemen Luar Negeri AS juga terlibat jauh dalam ekstremis yang bersarang di Benghazi, membantu alur senjata dan lalu lintas para ekstremis menuju Suriah sebelum konsulat AS diserang dan Duta Besar AS Christopher Stevens tewas. Bukankah kini teroris telah menggigit tangan yang memberikannya makanan?
Intervensi dari Turki – yang merupakan anggota NATO, akan menghasilkan kebakaran yang jauh lebih besar dibandingkan Libya, yang menghasilkan lebih banyak lagi pengungsi yang membanjiri Turki, menuju Eropa, dan akan menjadi masalah yang lebih kompleks.
Pasukan Suriah, yang didukung oleh pejuang Hizbullah dan penasehat militer dari Iran, ditambah dengan dukungan dari Angkatan Udara Rusia, terbukti sangat efektif. Pasukan gabungan ini bergasil memotong jalur pasokan teroris dari Turki. Bukan hanya kelompok yang disebut ‘moderat’ yang kelabakan. Kelompok ISIS dan Al Nusra juga sangat dirugikan.
CNN menyebut bahwa Suriah dan Rusia harus bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan yanng terjadi pada saat ini. Perhatikan argumen CNN berikut ini:
“Anda yang mengira bahwa Suriah tidak akan menjadi semakin terpuruk, pikirkanlah kembali. Di wilayah timur Aleppo, ada pasukan Kurdi yang didukung oleh AS, mengincar ISIS di sepanjang Jarablus dan Manbij, yang berbatasan dengan Turki. AS ingin mengusir ISIS, untuk menghentikan adanya akses bagi para jihadis dan pasokan logistik dari Turki.”
Semua pembaca CNN akan bertanya, dan Anda para jurnalis yang jujur harus menjawab pertanyaan ini. “Mengapa AS tidak memusatkan kekuatannya di Turki? Bukankah Turki adalah sekutu AS, dan juga anggota NATO sejak tahun 1950-an? Bukankah di Turki, AS bisa menghalangi supply logistik dan masuknya jihadis menuju Suriah?”
Sangat sederhana bukan? Jika AS dan Turki serius memerangi ISIS, cukup cegah ISIS masuk ke Suriah melalui Turki, bukan melakukan intervensi militer di Suriah. Jika tidak ada supply logistik maupun jihadis, maka perlahan tapi mati, kelompok teroris di Suriah akan lemah dan menyerah.
Namun tentu saja itu tidak akan terjadi, mengingat AS mempersenjatai, mendanai, dan melatih kelompok-kelompok teroris di Suriah, begitu pula dengan Turki yang bertransaksi minyak ilegal dengan ISIS. AS dan sekutunya yang sesungguhnya telah membunuh dan melakukan perusakan di Suriah, yang akhirnya mempengaruhi seluruh keamanan di kawasan Timur Tengah, bahkan hingga Eropa dan Amerika Utara.
Begitulah. AS, Turki, dan sekutu-sekutunya negara-negara monarkhi di Teluk Persia telah merencanakan untuk membentuk sebuah “Salafist” (Islamic) “principality” (State). Bukan media Rusia yang menyatakan hal ini, tetapi Defense Intelligence Agency (DIA) AS. Berikut kutipannya:
If the situation unravels there is the possibility of establishing a declared or undeclared Salafist principality in eastern Syria (Hasaka and Der Zor), and this is exactly what the supporting powers to the opposition want, in order to isolate the Syrian regime, which is considered the strategic depth of the Shia expansion (Iraq and Iran).
Tentu terlalu naif, jika laporan DIA dan munculnya kelompok “Islamic State” di Suriah hanyalah sebuah kebetulan. Ada kebenaran di balik laporan tersebut. Dan Barat telah melakukan pengkhianatan dan penipuan. Barat dan sekutunya adalah aktor utama yang terlibat dalam penghancuran Suriah.
Barat mengklaim bahwa pemberontak ‘moderat’ telah dikalahkan oleh pasukan gabungan Suriah, sementara ISIS tetap menjadi ancaman. Kenyataannya tidak demikian. Baik pemberontak ‘moderat’ maupun ISIS adalah satu dan sama, dan kini mereka tunggang langgang menyelamatkan diri.
Penutupan jalur supply dari Turki ke Suriah telah melumpuhkan kemampuan tempur teroris yang didukung Barat ini, sehingga untuk membasmi mereka sampai ke akar-akarnya hanyalah menunggu waktu. Ketertiban nasional bisa dipulihkan. Setelah wilayah Suriah di utara telah dijaga oleh pasukan Suriah dan Rusia, maka kemungkinan setelahnya adalah angkatan udara Rusia akan bergerak ke timur untuk menutup jalur terakhir para teroris yang terhubung dengan Turki.
Jadi, klaim AS memerangi ISIS sebenarnya hanyalah sebuah ilusi. AS berupaya agar kekuatan pertempuran di Suriah tetap berjalan seimbang. Inilah sebabnya media-media Barat mengakui bahwa ISIS mendapatkan supply dari Turki, namun tidak bisa menjelaskan mengapa pasukan AS, Turki, ataupun NATO yang ada di Turki tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikannya.
Yah, media Barat memang membutuhkan narasi-narasi cengeng. Apalagi, mereka telah terlatih untuk berbohong dan menjual ‘kemanusiaan’ untuk memuluskan intervensi militer. Masyarakat tentunya tahu, bahwa AS dan sekutunya negara-negara monarkhi di Teluk, adalah sumber dari ideologi ekstremisme yang telah mengakar dalam sejarah peradaban manusia. Klaim bahwa Suriah harus diselamatkan dari rezim otoriter, hanyalah upaya pengulangan atas intervensi militer di Irak dan Libya yang berakhir dengan tumpahnya darah rakyat tak berdosa.
—-
Oleh Tony Cartalucci, pengamat geopolitik yang berbasis di Bangkok, author majalah online New Eastern Outlook. Artikel ini diterjemahkan dari globalresearch.ca
” Jaga Kesehatan Anda Dan Ber Do’a lah … Salam “