Sang Guru (9)

SANG GURU ( 9 )

by Bu Wiwik on Monday, September 12, 2011 at 9:29pm
 
 

Tinggal satu pertanyaan yang belum aku sampaikan kepada sang guru, namun sebenarnya aku tidak perlu bertanya lagi karena dari pengamatanku sehari-hari aku sudah menemukan jawabnya. Mengapa beliau tidak memakai alas kaki.

Dulu ketika aku belum masuk pondok, beberapa komentar orang tentang hal itu masuk ke telingaku. Misalnya , ” titik kesaktian dia memang ada di situ ( di tanpa alas kaki itu) “. Kesaktian. Memang sang guru punya kesaktian apa ya?, pikirku waktu itu. Yang lain bertanya dengan nada naif, ” kok nggak pake alas kaki. gimana kalau najis?…”.  Kekanak-kanakan sekali pertanyaan ini, kataku dalam hati. Ternyata beliau tetap saja memakai alas kaki saat bersuci atau ke masjid. Jadi menurutku, nggak ada masalah soal alas kaki.

Tetapi, sekedar info, ada yang cerita padaku tentang alas kaki itu. Suatu hari entah kapan, sang guru mendatangi sebuah instansi pemerintah untuk satu keperluan. Seperti biasanya, beliau hanya mengenakan sendal jepit. Sebelum dilayani, petugas instansi itu melihat sendal jepit di kaki sang guru, langsung naik pitam dan menggertak, ” tidak tahu sopan santun! datang ke kantor pake sendal jepit!…. pulang dulu!…. ganti sepatu!…..”.  Sang guru bereaksi, langsung berdiri, melepas sendal jepit itu lalu melemparkannya keluar ruangan…. “pprrakk”…… Sang guru keluar dan tidak pernah kembali lagi.

Sejak saat itu konon sang guru tidak pernah memakai alas kaki. Entah kenapa…..

Tetapi, di lain waktu aku pernah mendengar beliau berkata, “kita terbuat dari tanah dan akan kembali ke tanah, tidak ada salahnya kita mengakrabi tanah tempat kita kelak dikubur di dalamnya”. …..

Bicara soal kesaktian, aku teringat pada cara kerja dukun dan paranormal. Mereka “pandai”  meramal, “pandai” mengatasi masalah, “pandai” menyembuhkan penyakit, bahkan “pandai” memenuhi keinginan pasien. Tapi semua itu ada syaratnya. Pertama, harus menggunakan benda-benda tertentu sebagai sarana, kedua harus ada mantra-mantra yang dibacanya untuk meyakinkan pasien dan ketiga harus ada  imbalannya  yaitu dibayar sesuai permintaan. Teori ekonomi pun berlaku. Makin banyak orang kebingungan dalam menghadapi masalah makin banyak dukun dan paranormal yang memasarkan diri. Jadilah dukun dan paranormal sebagai profesi yang menjanjikan. Banyak orang yang hidup kekurangan di kampung, dengan sedikit keberanian bersandiwara pergilah dia ke Jakarta jadi dukun atau paranormal. Pulang kampung sudah jadi orang kaya. Bayangkan, “jeroannya” aki yang sudah rusak dipotong-potong ukuran  2×3 cm dibungkus kain putih, dibilang “jimat”, dijual seharga 5jt rupiah per potong. Gimana nggak kaya?…..

Banyak juga orang menganggap sang guru sebagai dukun atau paranormal. Itu karena mereka datang dengan membawa masalah dan yang dia mengerti hanyalah alam perdukunan. Baginya alam gaib hanyalah jin, setan, genderuwo, banospati atau prewangan yang kesemuanya berenergi negatif. Mereka tidak mengerti atau tidak memiliki keyakinan bahwa ada malaikat utusan Allah yang bisa membantu orang-orang tertentu yang dikehenadakiNYA. Bahkan mereka mengira tidak ada orang yang memiliki kekuatan gaib kecuali dibantu oleh maskhluq-makhluq halus seperti yang aku sebutkan di atas. Maka banyak orang menduga bahwa sang guru menggunakan ilmu klenik. Kadang sang guru hanya tertawa kecil  mendengar tuduhan itu lalu berujar, ” memang fitnah dan cobaan itu makananku sehari-hari…..  makin banyak fitnah, makin sakti lah aku……”

Dan pada banyak kesempatan beliau sering berujar ” saktiku iki sakti tanpa pirantii, tanpa aji-aji….”.   Maksudnya, kesaktian beliau ini adalah sakti  tanpa sarana tanpa mantra….”

Aku merenungkan ucapan beliau yang terakhir ini lalu mencoba menelaahnya sendiri.

Hasil telaah dan pengamatanku tentang “kesaktian” sang guru adalah, kalau hati dan jiwa sudah bebas dan merdeka dari ikatan belenggu materi dunia  bukankah bel iau lebih mudah menemukan jalan kebaikan untuk “bertemu” denganNYA? Dan jika beliau bisa bertemu denganNYA bukankah itu berarti beliau bisa berteman dengan para aparatNYA? Dan jika beliau berteman dengan aparatNYA bukankah beliau bisa mengajukan usulan tentang sesuatu yang menimpa saudaranya?

Ungkapanku ini mungkin menimbulkan keraguan di hati pembaca, atau bahkan menuduhku sudah “gila” karena sudah berlebihan. Aku menyadari itu, tetapi aku tidak menemukan “hasil” yang pas tentang pengamatanku terhadap pribadi sang guru kecuali ungkapan itu….

Salah satu bentuk kesaktian sang guru dapat aku ceritakan berikut ini :

Suatu saat ada seorang artis dari Yogya yang terkapar sakit di sebuah rumah sakit swasta di kota itu. Para dokter sudah angkat tangan. Tidak ada jalan lain buat mengobati sakitnya. Pasien sudah ditutup dengan selimut putih sementara beberapa saudaranya menghadap sang guru dan meminta pertolongannya. Sang Guru diikuti oleh Pak Samuel, seorang “santri” dari Papua yang kebetulan sedang berada di pondok datang ke kamar pasien. Dibukanya selimut putih, dipegangnya jempol kaki pasien lalu diusapnya wajah pasien dan tidak lama kemudian pasien itu siuman. Hingga sekarang pasien itu  tetap  sehat dan beraktifitas kembali seperti biasa.

Pak Samuel yang telah menyaksikan sang guru “menghidupkan” orang mati makin cinta kepada sang guru. Aku tidak tahu sejak kapan dia datang ke pondok dan siapa pula yang mengajaknya. Yang jelas setiap ada acara besar di pondok dia selalu hadir di tengah-tengah kami. Sang guru pun menghormati kedatangannya seperti menghorrmati tamu-tamu lainnya. Pak Samuel sering bercerita tentang pengalamannya bersama sang guru. Dan dia  yang  beragama kristen itu berkata bahwa dia telah  menemukan yesus di sragen  ini.