Sang Guru (12)

SANG GURU ( 12 )

by Bu Wiwik on Friday, October 7, 2011 at 3:21am
 
 

Jika perjalananku mengikuti langkah Sang Guru diumpamakan seperti nelayan yang sedang mencari ikan, maka aku adalah nelayan kecil yang sederhana dengan jala yang kecil pula. Padahal di lautan itu aku melihat ribuan ikan berseliweran di sekitarku dan bermacam-macam pula bentuk dan warnanya. Karena keterbatasanku  maka hanya sedikit ikan yang dapat kutangkap. Aku sadar setiap orang  punya takarannya sendiri. Karena itu  aku harus ikhlas menerima kenyataan.  Aku  tetap bersyukur karena  dari yang sedikit ini  aku dapat menikmati perjalanan yang indah, nyaman dan menyenangkan.

Dari yang sedikit itu setidaknya  ada 2 pelajaran mendasar yang telah kufahami dan aku coba menjalaninya  semampuku. Pertama pelajaran tentang tauhid yang bersih dan lurus. Kedua tentang ringan dan longgarnya  hati dalam bersedekah atau melepaskan sebagian dari harta yang kita miliki untuk kepentingan orang lain. Dua hal ini terpateri dalam satu slogan ” masuknya nafas taat dan taubat, keluarnya nafas badan menguntungkan orang lain”.

Tentang tauhid yang bersih Sang Guru sering memberi contoh kepasrahan total dan mutlak kepada Allah Azza wa Jalla. Pernah dalam suatu perjalanan naik bus umum dari Sragen ke Yogya di tahun 2004 saat aku menjalani kuliah S2, aku kehilangan dompet yang berisi uang 200ribu dan beberapa kartu identitas lainnya. Tentu saja aku kelimpungan dibuatnya. Sebagai bentuk curhat aku kirim sms kepada isteri  Sang Guru yang lalu dijawab oleh Sang Guru  dengan kalimat bahasa Jawa yang artinya, ” jangankan  cuma uang bu wiwik….. nyawa saja kalau Allah kehendaki tentu harus kita serahkan….”. Beberapa saat aku terhenyak. Oho…. Ya Allah, betapa kerdilnya jiwaku……  Aku langsung sadar, beliau memang benar, kehilangan itu cuma persoalan kecil…..”. Aku kembali mengirim jawaban dengan ” inggih….inggih……”

Kemurnian tauhidnya juga beliau tunjukkan dengan anjuran untuk tidak banyak meminta atau menuntut kepada Allah sekalipun Allah memberi hak kepada manusia untuk meminta. Manusia sudah dicukupi dan dilengkapi kehidupannya sesuai takarannya  masing-masing. Harta kekayaan, kedudukan dan usia kehidupan. Tinggal manusia itu sendiri yang harus tekun belajar dan bekerja keras untuk mendapatkannya. Hanya satu hal yang dianjurkannya  meminta kepada Allah (karena tidak ada satu pihakpun yang punya kewenangan untuk itu) yaitu  Ridlo Allah dan ampunanNYA. Kalau Allah tidak memberi kita ridlo dan ampunan maka apa jadinya diri kita di akhirat nanti.

Sepertinya pelajaran  itu berbeda dengan pelajaran dari guru lain yang selalu menganjurkan banyak-banyaklah berdoa. Tetapi bagiku, berkat anjuran untuk tidak banyak menuntut dan meminta kepada Tuhan (walaupun kita punya hak  dan karena Tuhan sudah mencukupi kebutuhan hidup kita) dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi bahwa aku pasti bisa. Juga menumbuhkan keyakinan yang kuat bahwa Allah pasti membantu kita. Dan aku yakini, pertolongan Allah itu datang pada saat yang tepat di mana kita sudah mentok tidak menemukan jalan keluar sama sekali.

Sang Guru  pernah memberi perintah padaku  untuk sholat dzuha 4 rokaat setiap pagi.  Tapi di ujung perintahnya ada tambahan kalimat ” tapi jangan minta rejeki…” . Aku mengerti. Dan aku mentaati perintahnya. Allah sangat pemurah. Berapa besar nilai rupiahnya jika kita menghitung kelengkapan hidup yang diberikan Allah kepada kita. Dari ujung rambut hingga ujung kaki berikut komponennya. Berapa pula besarnya nilai alam sekitar untuk kehidupan manusia. Belum lagi besarnya rejeki kita jika kita menghitung keberuntungan kita dengan pasangan hidup kita, anak dan cucu kita, mata pencaharian kita, kedudukan kita,….. Semuanya tidak ternilai. Maka rasa syukur itu dapat menghentikan kita dari meminta kepada Allah. Malu, rasanya. Sudah diberi sedemikian banyak kok masih meminta terus…. Dan kalau dipenuhi satu permintaan maka akan muncul permintaan yang lain. Tak ada habisnya. Harta duniawi itu akan membuat kita haus sepanjang masa.  Maka,  kepada Allah aku hanya diperintah untuk memuja, tidak ada lain. Kalau guru lain menganjurkan banyak-banyaklah berdoa, Sang Guru mengajarkan banyak-banyaklah memuja.

Lalu mengapa Sang Guru melarangku dari meminta rejeki kepada Allah saat sholat dzuha. Hal ini dapat kumengerti karena banyak buku tuntunan sholat yang mencantumkan doa sholat dzuha dengan permohonan rejeki seperti ” bila jauh, dekatkanlah, bila di langit  turunkanlah, bila di bumi  tumbuhkanlah dst…..”

Banyak orang menganggap sholat dzuha adalah sholat  minta rejeki. Padahal sholat adalah sarana penghambaan diri  kita kepada Allah. Demikian juga ibadah haji, puasa dan yang lainnya. Jangan dicampur adukkan antara penghambaan diri  kepada Tuhan dengan usaha pemenuhan kebutuhan duniawi. Nanti jadi rancu.

Banyak juga terjadi, orang berdoa yang mestinya meminta tetapi berubah posisi menjadi memerintah atau menyuruh dan mendikte Tuhan.

Ada orang yang memberiku predikat sombong karena tidak mau berdoa minta rejeki. Padahal bagiku justru aku merendahkan diriku serendah-rendahnya di hadapan Allah. Tidak berani meminta dan sudah merasa cukup dengan apa yang Tuhan berikan  padaku. Tetapi aku mengerti, itu hak mereka untuk mengatakan apa pun terhadapku. Karena aku yakin Allah Maha Tahu isi hati hambanya.

Pemujaan dan penghambaan diri kepada Allah tidak hanya dalam bentuk ritual formal, melainkan dalam setiap tarikan nafas hidup kita. Pada catatan yang lalu sudah kutuliskan bagaimana “sumpah” Sang Guru yang disampaikan di hadapan jamaah pengajian, ” jika ada waktu sedetik saja aku melupakanmu Ya Allah, matikan saja aku”.  Atau catatan yang lainnya lagi, “….kerasnya dzikir kita menyebut Allah…Allah….di hati,  membuat suara halilintar yang menggelegar itu tidak terdengar….”

Kalau pelajarannya seperti itu, maka dapat aku simpulkan bahwa dalam setiap aktifitas fisik kita sepanjang hidup selalu dibarengi dengan dzikir batin, kontak dengan Allah swt. Secara fisik kita bekerja, secara batin hati kita terpaut kepadaNYA. Begitulah pemahaman yang aku peroleh dari Sang Guru. Dengan begitu, aku mendapatkan suasana yang selalu tenang baik dalam kondisi yang baik maupun dalam kondisi yang buruk. Ketika kita berusaha mencapai sesuatu, secara fisik kita bergerak untuk meraihnya dan secara batin kita kontak dengan Sang Maha Penentu.  Jadi, ketika usaha itu berhasil kita tidak akan sombong, dan ketika kita gagal kita pun tidak kecil hati. Karena dua jalan hidup sudah kita sinergikan dalam kegiatan itu. Kalau cara ini sudah membudaya dalam diri kita, kita akan terhindar dari sikap sombong, riya, pamer, atau sebaliknya, kecil hati, sakit hati dan patah hati.

Aku rasakan, ternyata pelajaran tauhid itu menumbuhkan sikap positif dalam menjalani hidup dan menguatkan hati kita untuk menerima kenyataan dengan kebesaran  jiwa. Ada perpaduan optimisme yang tinggi sekaligus kesabaran hati yang mendalam.

Iklan