Tak Ada Bulan Madu dalam Hubungan AS dan Rusia

WASHINGTON ― Keruntuhan Uni Soviet tampaknya gagal untuk menciptakan perbaikan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia. Selama dua dekade dari keruntuhan Soviet, kedua rival Perang Dingin itu juga tampak masih berseteru.

Keruntuhan Soviet memberikan kesempatan bagi Negeri Paman Sam untuk menyebarkan pengaruhnya ke negara-negara Eropa Timur bekas pecahan Uni Soviet. Meski demikian, upaya AS tampaknya terhalang dengan kehadiran sosok Vladimir Putin di Rusia.

 

Ketegangan hubungan AS dan Rusia kembali memuncak seiring dengan adanya Perang Teluk II di Irak pada 2003 dan juga Perang Georgia dan Osseatia Selatan pada 2008 lalu. Di samping itu, muncul pula revolusi di dunia Arab dan Perang Libya. Demikian seperti diberitakan Times of Malta, Rabu (14/12).

AS pun mencoba untuk memperbaiki hubungannya dengan Rusia dengan perjanjian kerja sama untuk Afghanistan, dialog North Atlantic Treaty Organization (NATO) dan Rusia, serta dialog-dialog lainnya dalam bidang ekonomi serta pendidikan.

Yang menjadi masalah dalam hubungan kedua negara besar ini sepertinya, sistem pertahanan misil NATO.

Namun Washington tampaknya gagal untuk meyakinkan Moskow, bahwa sistem pertahanan NATO itu tidak akan mengancam Negeri Beruang Merah. Presiden Rusia Dmitry Medvedev bahkan melakukan aksi perlawanan dengan mengaktifkan sistem radar yang sanggup mengawasi wilayah Eropa.

Sejak revolusi di dunia Arab muncul, Rusia juga selalu berbeda pendapat dengan AS di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Rusia tampak menolak intervensi ke Libya dan juga menolak sanksi ke Suriah.

Seorang pengamat, Andrew Kuchins mengatakan, perbedaan pendapat yang dilontarkan oleh Rusia terhadap AS sangat berkaitan dengan kampanye pemilihan Presiden Rusia. Putin juga kerap menuding AS sebagai parasit dari perekonomian global.

Kuchins menilai, bila Putin berhasil menduduki kembali kursi Presiden Rusia, hubungan AS dan Rusia akan hancur.