China, Ketakutan Baru Sekaligus Harapan ?

China akan menjadi eksportir terbesar dan menduduki posisi nomor satu di segala sektor kehidupan, mulai dari internet, perdagangan, keuangan, dan sebagainya, menggeser Amerika Serikat. Sebagai kekuatan ekonomi kedua dunia dengan cadangan devisa masif, China adalah ketakutan baru sekaligus harapan dalam konteks globalisasi.

Di luar urusan ekonomi, perdagangan, dan keuangan, China sudah mulai menunjukkan sebagai kekuatan politik penting karena berbagai alasan. Di antaranya termasuk ukuran populasi dan geografis, klaim teritorial di Laut China Selatan, hubungan militer dengan AS, dan sebagainya.

Pada usianya yang ke-61 tahun tanggal 1 Oktober ini, negara asas sosialisme berkarakteristik China dengan sistem totaliter satu partai, menjadikan negara Asia terbesar ini sebagai pemain politik luar negeri signifikan di berbagai belahan dunia (termasuk posisinya sebagai anggota tetap DK PBB).

Selama hampir tiga dekade pertumbuhannya, banyak pengamat dan politisi melihat sistem totaliter yang dianutnya menjadi benih menyuburkan kehancurannya sendiri. Reformasi dan modernisasi selama hampir 32 tahun sejak dicanangkan, banyak persoalan bermunculan yang diproyeksikan sebagai harga yang harus dibayar.

Konflik kota-desa, persoalan korupsi, sistem perbankan yang tidak kompatibel dengan sistem keuangan dunia, desakan dan pertikaian perdagangan, masalah lingkungan akibat pertumbuhan ekonomi masif di seluruh daratan China, serta ketergantungan sistem perdagangan dan keuangan dengan AS adalah faktor-faktor penghambat yang dikhawatirkan banyak pihak.

Banyak skenario digelar melihat ketahanan China menjalankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama dua dekade terakhir ini. Dengan cadangan devisa hampir 2,5 triliun dollar AS, dan jadi incaran sejumlah negara untuk melakukan apresiasi mata uang yang dituduh tak adil memberikan subsidi ekspornya, China memiliki segalanya melakukan perlawanan termasuk menerapkan beggar thy neighbour policy, terutama di bidang perdagangan.

Demokrasi vertikal

Mungkin John Naisbitt dan istrinya, Doris, benar, ada perubahan drastis dan fundamental dalam 30 tahun reformasi China. Dalam buku terbaru mereka, China’s Megatrends: The 8 Pillars of a New Society (Harper Collins, 2010), Naisbitt menyebutkan perubahan China tak hanya fundamental, tetapi membangun sebuah model ekonomi dan masyarakat baru.

Menurut dia, China menjalankan apa yang disebutnya demokrasi vertikal, mengubah berbagai peraturan perdagangan dunia dan menjadi tantangan demokrasi Barat sebagai satu-satunya bentuk pemerintahan politik yang diakui globalisasi.

Banyak skenario dikembangkan melihat arah perkembangan dan kemajuan yang ingin dicapai RRC. Masih banyak yang percaya, sistem sentralisasi politik yang dikuasai Partai Komunis China akan rontok dan beralih secara perlahan menuju model demokrasi yang bisa diakui seperti pada sistem politik negara-negara Barat.

Desakan yang paling terasa untuk bisa memaksa China sekarang ini setidaknya mengakui dan mengikuti norma dan nuansa global yang dianut sejumlah negara adalah memaksa negara dengan penduduk sekitar 1,5 miliar orang ini untuk membuka pintu bagi perusahaan asing beroperasi di daratan China memiliki kesetaraan dengan perusahaan lokal dan memaksa diberlakukannya undang-undang kekayaan hak intelektual.

China kini memiliki sekitar 750 juta pekerja. Dari jumlah itu, 375 juta orang bekerja di perusahaan-perusahaan milik negara. Angka ini cukup menggambarkan kontrol Pemerintah RRC atas pekerjaan masih sangat signifikan. Persoalan lapangan pekerjaan menjadi serius, China dipastikan melakukan relokasi pekerjanya di negara-negara Afrika atau Timur Tengah dalam beberapa tahun mendatang.

Fenomena China

Pilihan skenario lain, China akan tumbuh bersamaan kecepatan seimbang secara ekonomi dan politik seperti negara-negara Asia lain yang jadi pesaingnya, seperti Jepang, Korsel, ASEAN, atau India. Skenario ini mengisyaratkan terjadinya kompetisi sumber daya dan pasar, atau munculnya berbagai pakta ekonomi perdagangan regional, memaksa AS dan Eropa atau negara-negara Benua Amerika meningkatkan kerja samanya.

Apa pun yang terjadi pada skenario jenis ini, menjadikan globalisasi atau pergerakan bebas barang, jasa, dan orang menghadapi berbagai ancaman persoalan. Akan muncul kawasan-kawasan ekonomi perdagangan yang terkotak-kotak dalam lingkungan kawasan saja.

Skenario lain, China tetap tumbuh pesat, melakukan tekanan (atau mengakomodasi secara damai) keresahan dalam negeri dan menjadikan RRC sebagai adidaya dominan. Skenario ini membuat China berhenti membeli utang AS, ekonomi AS rontok, dan mata uang yuan menjadi uang favorit menggantikan dollar AS atau euro.

Apa pun skenarionya, pertumbuhan tinggi atau kegagalan karena situasi internasional dan keresahan dalam negeri, banyak korban negara disebabkan fenomena China modern ini. Ini setidaknya teori yang berkembang di berbagai meja lembaga riset, seminar internasional, atau berbagai buku yang membahas fenomena pertumbuhan China.

Baik Beijing maupun Washington saling membutuhkan, karena interdependensi ekonomi yang kuat di antara keduanya. Para pemimpin kedua negara tidak ingin masuk ke dalam situasi kegagalan sistem globalisasi baik karena kebijakan dalam negeri maupun lingkungan internasional, yang menyeret masing- masing negara.

China harus menggeser fokus ekonomi berbasis manufaktur yang mengopi rancang desain dan mengembangkan inovasi yang menjadi kekuatan inti negara-negara Barat. Apakah memang memungkinkan untuk melakukan pergeseran budaya yang dipimpin inovasi dan kewiraswastaan tanpa kebebasan politik secara penuh?

Menjadi sangat krusial bagi China untuk bisa membangun ekonomi berbasis pengetahuan sebagai kekuatan paradigma ekonomi baru pada era globalisasi sekarang ini. Dan China yang semakin kuat dan kaya harus mencari terobosan baru bagaimana melakukannya tanpa membebaskan aliran pengetahuan itu sendiri.