Al ‘Ilaan

” Katakanlah, “Hai ahli Kitab, marilah kita kepada kalimat yang sama antara kami dan kamu yaitu bahwa TIDAK ADA YG KITA SEMBAH SELAIN ALLAH, dan tidak kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun juga. Dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain dari Allah. Maka jika, mereka berpaling katakanlah, SAKSIKANLAH BAHWA SESUNGGUHNYA KAMI ADALAH MUSLIM” (Ali ‘Imran: 64)

Kalau mahasiswa dari universitas madinah tamat, maka ijazah atau graduasi kadang disebut sebagai syahaadah. Syahaadah, syahid, dapat juga bermakna sungguh-sungguh dan kesungguhan atau bersangatan. Namun paling tidak dari kata syahaadah ada 3 kandungan makna yang dapat difahami;

1. Al ‘ilaan ( al ikrar)

2. Al Qosam

3. Al Wa’du Al ‘ilaan, ikrar, iklan atau pernyataan.

Maka seorang manusia saat memasuki pintu gerbang Islam mengiklankan, menyatakan diri TIDAK ADA ILAH SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD ADALAH RASUL ALLAH. Ini bukan kata-kata kosong, tanpa makna dan konsekuensi, tapi kata yang konsekuensinya adalah neraka dan syurga, antara azab yang pedih atau kenikmatan yang panjang. Kata yang bukan saja sarat makna namun demikian berat dan tinggi konsekuensi yang ada di belakangnya. Kata-kata perjanjian itu diikrarkan agar secara sosial segera terbedakan mana pengikut Allah dan mana pengikut taghut (setan), siapa yang meyakini Muhammad SAW adalah Rasulullah, dan siapa yang tidak percaya akan kerasulan Muhammad SAW, siapa yang kufar dan siapa yang beriman, siapa-siapa yang Ilah-nya Allah saja dan siapa-siapa yang ilah-nya Uzair, Isa AS, berhala dlsb.

Secara SUBSTANSIAL kalimat syahadah itu adalah pernyataan iman kepada Allah dan Rasul-Nya sekaligus pengukuhan Allah sebagai ilah dan Muhammad SAW sebagai tauhidul uswah (satu-satunya contoh/teladan). Inilah titik kemurnian aqidah dan kemurnian contoh.

1. Hai orang-orang beriman, tetaplah beriman kepada Allah, dan Rasul-Nya… (An Nisaa’: 136)

2. Muhammad tiadalah bapak salah seorang dari laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. (Al Ahzaab:40)

3. Sungguh pada diri Rasulullah itu uswattun hasanah bagi kamu, bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan hari kemudian dan banyak mengingat Allah (Al Ahzaab:21)

Adalah jelas keimanan kepada Allah menuntut keimanan kepada Rasul-Nya, sebagai pembawa risalah dan contoh. Kejelasan ini nirkaca, bukan saja secara logika tapi juga bersandar nash qur’an serta sejarah awal dien ini. Keimanan kepada Rasulullah adalah perintah Allah, dan Muhammad SAW sebagai Rasulullah adalah deklarasi Allah sendiri. Karenanya dari segi esensi, hakekat kalimat syahaadah menyertakan keimanan kepada Rasulullah SAW adalah suatu kejelasan.

Secara TEKSTUAL sendiri kalimat syahaadah dicontohkan Rasulullah SAW, serta janji setia para sahabat awal, pada saat keislaman mereka. Karenanya mengakui Allah sebagai ilah dan menolak Muhammad SAW sebagai Rasulullah adalah suatu kemustahilan; mengakui Allah sebagai ilah tapi juga mengakui Uzair, atau Isa AS sebagai ilah adalah suatu hal yang janggal bagi kemurnian aqidah; menerima Muhammad SAW sebagai Rasulullah namun menolak perintahnya (yang dikatakan hadits), menihilkan contoh-contoh yang diberikan (sunah), hal-hal yang didiamkan, serta sirahnya, berarti tak mengharap rakhmat dari Allah. Rakhmat Allah di dunia adalah kemenangan dalam pentas peradaban baik skala pribadi maupun kolektif. Rakhmat diakhirat adalah jannah, syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.

Dengan sikap al ‘ilaan atas kalimat syahaadah, maka secara pribadi seorang manusia telah masuk dalam golongan beriman, dan secara sosial dia termasuk pengikut Rasulullah dengan segala haq dan kewajibannya.

Dalam periode Makkah sikap al ‘ilaan ini segera diikuti konsekuensi nyata. Kita lihat bagaimana ‘izzah (kebanggan iman) Bilal bil Rabbah r.a., ammar bin yasir r.a., Musha’ib bin Ummair r.a. dll. dalam mengikrarkan keislaman mereka dan dahsyatnya ujian yang segera mereka terima.

Semua ini adalah teladan yang tetap berbunga dalam hati dan kita cita-citakan hati ini untuk dapat meniru sikap mereka (insya Allah). Inilah al ‘ilaan yang mengawali perubahan status; pribadi maupun sosial. Contoh sikap al ‘ilaan yang ditampilkan dengan ‘izzah yang kuat digambarkan al qur’an pada para hawariyyun (para pengikut nabi Isa AS) manakala Nabi Isa AS diingkari dan dimusuhi oleh masyarakatnya.

” Maka tatkala Isa merasa diantara mereka ada yang mengingkar, dia berkata, siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku ke jalan Allah? Hawariyyun menjawab kamilah penolong-penolong agama Allah. Kami telah beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah Muslim” (Ali ‘Imran:52)

Isyaddu bi annaa Muslimuun, saksikanlah kami adalah Muslim. Inilah sikap ‘ilaan, menampakkan, unjuk sikap dengan bangga. “Saksikan bahwa saya Muslim” dengan seluruh karakter dan atributnya, dengan seluruh ‘izzah, percaya diri dan ketinggian status. Karena Islam ya’lu wala yu’la alaih (Islam tinggi dan tak ada yang lebih tinggi darinya), innad diina ‘indallaahil Islam (agama disisi Allah hanya Islam), barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu, dan diakhirat dia termasuk orang-orang yang merugi (Ali Imran: 85).

Isyaddu, saksikan! bahwa kita Muslim dengan karakteristik yang dipersyarat kan Allah, umat yang layak memegang hegemoni bumi,mengayomi seluruh manusia dan menjadi saksi atas mereka, yang mampu bersikap nahi munkar, tidak hanya diam tertekan atau sikap takut-takut dan berharap-harap cemas terhadap musuh-musuh Allah. Sikap yang sama ditampilkan para sahabat Rasulullah SAW ketika meghadapi para ahlul Kitab untuk kembali beriman kepada Allah saja, pada kalimat yang satu, kalimat tauhid, untuk menyembah kepada Allah saja dan tidak enyekutukan-Nya dengan yang lain.

 ” Katakanlah, “Hai ahli Kitab, marilah kita kepada kalimat yang sama antara kami dan kamu yaitu bahwa TIDAK ADA YG KITA SEMBAH SELAIN ALLAH, dan tidak kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun juga. Dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain dari Allah. Maka jika, mereka berpaling katakanlah, SAKSIKANLAH BAHWA SESUNGGUHNYA KAMI ADALAH MUSLIM” (Ali ‘Imran: 64)

Isyaddu, saksikan! bahwa kami Muslim dengan karakteristik yang dipersyaratkan Allah, dan kalian berpaling (kufar), sedang antara kamu dan kami berbeda dalam jarak iman. Inilah syaahadah yang lurus, sikap tegas karena yakin akan kemuliaan diri dan ingin hanyut dalam kemuliaan itu. Saksikanlah kami berserah diri kepada Allah dan kalian ingkar!

Sikap al ‘ilaan adalah keterbukaan dan keberanian. Dalam skala pribadi sikap ini muncul dalam pakaian dan penutupan aurat, dalam bicara dan penampilan (suluk), dalam duduk mengambil sahabat, dalam kekuatan pribadi dan azzam (kemauan), dalam penyerahkan loyalitas, dalam mencintai benda dan manusia lain, dalam forum-forum yang diikuti, dalam diskusi-diskusi yang dihadiri, serta dalam fikrah (fikiran) dan ghirah (kecemburuan, semangat).

Pada titik inilah muncul sikap marah dan benci, merah padam dan linangan air mata, gigi-gemertak dan kata salam yang halus dan penuh kasih. Tak dapat ditutup-tutupi.Dia muncul secara serentak, reflek, karena dia adalah bagian dari diri kita, dan bahkan jati diri kita itu sendiri. Namun, manakala Islam dihinakan, Muslimahnya diperkosa, kaum mu’minin dijagal kepalanya dipotong kemaluannya, dimurtadkan hanya dengan selembar kain atau sebungkus indomie, syahaadah kita tak bergolak, perjanjian kita kepada Allah dan Rasul-Nya adem-adem saja, pertanda apa dengan diri kita ini? Dimana ‘izzah, dimana ghirah, dimana syahaadah, dimana Allah?

Dalam skala kolektif al ‘ilaan nampak dalam sikap politik, kepada kita siapa kita membela, kepada siapa kita membantu, kepada siapa kita bekerjasama, aktifitas apa yang boleh dilaksanakan dan mana yang harus ditinggal. Seluruh karakteristik Islam mestilah muncul dalam permukaan kolektif, dalam sebuah peradaban, tatanan, dan sistem. Amar ma’ruf dalam skala kolektif, nahi munkar.

Inilah sikap ‘ilaan yang lurus, yang tidak tanggung-tanggung, sikap ‘ilaan seorang Muslim, seorang yang berserah diri untuk diatur oleh aturan Allah, berserah diri menerima pedoman hidup dari Allah, berserah diri akan keputusan Allah. Maka, mari kita berkaca, dapatkah kita dengan lantang berkata isyaddu bi anna Muslimun?

Wallahu ‘alam bishowwab

Iklan