Ikhlas

  ” Sesungguhnya Allah tidak akan melihat bentuk badan atau rupamu tapi langsung memperhatikan niat dan keikhlasanmu    (H.R Muslim).

” Rasulullah ditanya tentang orang yang jihad karena keberanian dan karena kebangsaan atau karena kedudukan, yang manakah diantara semua itu yang dapat disebut fisabillillah ? Jawab Nabi: Siapa yang berjihad semata-mata untuk menegakkan kalimatullah, maka itulah fisabillillah”    (H.R Buchari, Muslim)

   Rasulullah menatap satu persatu para sahabat yang sedang berkumpul dalam majelis, hening dan tawadlu. “Ya Rasulullah”, ujar salah seorang hadirin memecahkan keheningan. ” Bila pertanyaanku ini tidak menimbulkan kemarahan bagi Allah, sudilah engkau menjawabnya”. “Apa yang hendak engkau tanyakan itu”, tanya Rasulullah dengan nada suara yang begitu lembut. Dengan sikap yang agak tegang si sahabat itupun langsung bertanya: “Siapakah diantara kami yang akan menjadi akhli surga?” Tiba-tiba, bagai petir menyambar, jiwa-jiwa yang tadinya tawadlu, nyaris menjadi luka karena murka. Pertanyaan yang sungguh keterlaluan, setengah sahabat menilainya mengandung ujub (bangga atas diri sendiri) atau riya’. Adalah Ummar bin Khattab yang sudah terlebih dahulu bereaksi, bangkit untuk menghadrik si penanya. Untunglah Rasulullah menoleh ke arahnya sambil memberi isyarat untuk menahan diri.

   Rasulullah menatap ramah, beliau dengan tenangnya menjawab: “engkau lihatlah ke pintu, sebentar lagi orangnya akan muncul”. Lalu setiap pasang matapun menoleh ke ambang pintu, dan setiap hati bertanya-tanya, siapa gerangan orang hebat yang disebut Rasulullah akhli surga itu. Sesaat berlalu dan orang yang mereka tunggupun muncul. Namun manakala orang itu mengucapkan salam kemudian menggabungkan diri ke dalam majelis, keheranan mereka semakin bertambah. Jawaban Rasulullah rasanya tidak sesuai dengan logika mereka. Sosok tubuh itu tidak lebih dari seorang pemuda sederhana yang tidak pernah tampil di permukaan. Ia adalah sepenggal wajah yang tidak pernah mengangkat kepala bila tidak ditanya dan tidak pernah membuka suara bila tidak diminta. Ia bukan pula termasuk dalam daftar sahabat dekat Rasulullah. Apa kehebatan pemuda ini?  Setiap hati menunggu penjelasan Rasulullah. Menghadapi kebisuan ini, Rasulullah bersabda: “Setiap gerak-gerik dan langkah perbuatannya hanya ia ikhlaskan semata-mata mengharapkan ridla Allah. Itulah yang membuat Allah menyukainya”.

   Bagai sembilu, menusuk tajam dada mereka, serentak setiap hati bermuhasabah. Ikhlas, alangkah indahnya ma’na yang terkandung di dalamnya. Ikhlas bersih dari segala maksud-maksud pribadi, bersih dari segala pamrih dan riya’, bersih dari harap dan kecewa, bebas dari segala simbol-simbol pribadi atau kelompok, bebas dari pada perhitungan untung rugi material. khlas, bersih dari segala hal yang tidak disukai Allah. Ikhlas dalam menjadikan Allah sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara,  dan Penguasa alam raya, ikhlas dalam menjadikan Allah satu-satunya Dzat yang diharapkan, ditakuti, dicintai, diikuti. satu-satunya Dzat yang diabdi, disembah. Ikhlas menerima Muhammad SAW sebagai teladan, penjelas, penyampai risalah Islam yang sempurna, dan ikhlas menerima al Qur’an sebagai pedoman hidup.

   Semua hati kembali tawadlu, membisu berefleksi, sebagian berkaca-kaca, air mata mengembang, menelusuri niat dalam hati,
mencari was-wasil khannas yang mungkin diam mengendap di dasar kalbu, menutupi ikhlas.

   Ikhlas adalah salah satu tiang akhlaq islami, tanpanya maka amal akan lenyap bak buih membentur karang, tak ada manfaat. Inilah kualitas paripurna kemurnian hati, hanya karena Allah dan untuk Allah.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah  dengan memurnikan ketha’atan kepadaNya dengan lurus.”
 (QS. Al-Bayyinah: 5)

  1. Ikhlas merupakan suatu sifat yang sangat agung, suatu rahasia dari rahasia-rahasia yang dititipkan hanya di qalbu para hamba yang dicintai-Nya. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang benar-benar murni ketha’atannya serta bersih dari noda-noda syirik, terlindung dari karat-karat jahiliyyah, terbebas dari penyakit-penyakit jiwa. Mereka adalah jiwa yang  senantiasa berada dalam  kecintaan  kepada Al-Haq. Gerak-geriknya adalah dzikru ‘l-Laah. Senyum dan tangisnya  hanya karena Allah. Desah dan resahnya-pun karena Dia semata-mata. Shalatnya, ‘ibadahnya, hidupnya, matinya, dan semuanya demi  Allah Rabbu ‘l-‘Aalamiin.
  2. Ikhlas adalah tingkat ihsan, yang meyakini sekalipun dirinya tidak dapat melihat Allah tapi Allah melihat apa saja yang ia  kerjakan. Ia meyakini Allah bersama dengannya dimanapun ia berada. Desah nafasnya, getar hatinya, lintasan berfikirnya, resah jiwanya  selalu merasa dalam pengawasan Allah, sang Kekasih…. “Dan Dia bersama dengan kalian dimanapun kalian  berada, dan Allah Maha Melihat akan apa-apa yang  kalian kerjakan.” (QS. Al-Hadiid:4)
  3. Ikhlas itu tidak pernah memandang, menghitung-hitung apa-apa  yang telah diperbuat, tidak mengharap-harap balasan/ganjaran dan  tidak pernah merasa puas dengan ‘amal-‘amal yang telah dikerjakannya. Ia tidak membutuhkan pengakuan dirinya, hawa nafsunya, apalagi  orang lain. Ia tidak mencari keindahan. keuntungan, pujian, popularitas, fasilitas apalagi isi tas.  “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk  rupa  dan kekayaan kalian, tapi Allah melihat kepada  qalbu
     kalian dan ‘amal-‘amal kalian.” (H.R. Imam Muslim)
  4. Riya’ merupakan penyakit yang tidak akan berjangkit  didalam  hati hamba Allah yang selalu ikhlas, karena keduanya bertolak belakang. Penyakit Riya’ membuat seseorang ternoda dan tertolak ‘amal-‘amalnya, karena Allah tidak suka disaingi oleh apapun dan siapapun.  “Janganlah sekali-sekali kamu menyangka bahwa  orang- orang yang gembira dengan apa yang telah mereka  perbuat dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan. Janganlah kamu  menyangka bahwa terlepas dari siksa dan bagi mereka siksa  yang  paling pedih.” (QS. Ali ‘Imraan:188)
  5. Demikian pula nifaq, sikap pura-pura yang menampilkan  wajah  suci Islam tetapi sebenarnya kafir dan membenci Islam. Munafiq kategori ini jelas-jelas KAFIR !! Ia menyembunyikan identitas aslinya sebagai MUSUH ALLAH!!! dan MUSUH KAUM MUSLIMIIN!!! Bicaranya  DUSTA!!! Janjinya PALSU!!! Amanah yang ada padanya DIKHIANATI!!! Diskusinya TIDAK MENAMBAH IMAN!!!

 “Allah menjanjikan bagi orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, dan orang-orang kafir neraka  jahanam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka jahanam itu bagi mereka, Allah melaknat mereka, dan  bagi  mereka adzab yang kekal.” (QS. At-Taubah:68)

 “Sesungguhnya orang-orang munafiq  itu  (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka dan kamu tak akan memperoleh seorang penolongpun bagi mereka.”     (QS. An-Nisaa’:145)

Wallahu a’lam bisshowab.