Sang Guru (14)

by Bu Wiwik on Thursday, October 20, 2011 at 2:57pm

Aku pernah membaca sebuah “surat pembaca” di Majalah Sabili. Sayang aku tidak mencatat edisi nomor berapa dan tanggal berapa terbitnya.  Aku juga tidak memperhatikan, siapa nama pengirimnya dan di mana alamatnya. Satu hal yang tercatat di benakku adalah esensi masalah yang dituliskannya. Dia mengungkapkan  ”ketidak sukaannya sekaligus kritik”  terhadap Pondok Pesantren Nurul huda yang memperingati ulangtahunnya dengan menggelar dangdutan. (mudah-mudahan Sabili masih punya arsip tentang hal ini). Sekarang, surat pembaca itu menjadi inspirasi untuk menulis catatan kali ini.

Wajar saja orang tidak suka jika sebuah pondok menggelar dangdutan sebab gambaran yang melekat dalam pikiran banyak orang adalah bahwa pondok pesantren itu haruslah ”  mencitrakan sebuah  image  yang bagus-bagus, yang suci-suci…”  sedangkan dangdutan adalah ” sebuah gambaran yang mencitrakan murah,  kotor dan dosa” . Tapi, benarkah demikian?…….

Maka, beda sekali antara orang yang tahu dan orang yang tidak tahu. Beda sekali orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri  dan orang yang hanya “katanya, …katanya….”  ( hhmm…. tiru-tiru gayanya orang yang ngomong di televisi…..).

Dalam memperingati ulangtahun pondoknya, Sang Guru selalu menggelar berbagai hiburan rakyat. Bukan hanya dangdutan. Ada wayang kulit, reog Ponorogo, Gandrung Banyuwangi, Klenengan Purworejo, Kasidah Nasyida Ria, Lawak Yati Pesek cs, dan Campursari Pengamen. Masing-masing menggunakan panggung tersendiri sehingga kampung ini dipenuhi oleh panggung hiburan. Tontonan itu digelar gratis dan bebas, tidak usah bayar. Rakyat tinggal nonton saja. Dan Sang Guru tidak menutup pintu untuk orang-orang yang mengambil kesempatan mengais rejeki di malam peringatan ulangtahun itu. Pedagang kaki lima berdatangan entah dari mana memenuhi gang-gang sempit di Desa Plosorejo. Permainan anak-anak seperti komidi putar atau “dremolen” ( permainan yang muternya ke atas) juga ada di kompleks pondok.  Pedagang bakso, makanan dan minuman juga bermunculan di area itu. Suasana kampung itu seperti pasar malam. Organisasi Pemuda Karang Taruna juga diuntungkan oleh kegiatan ini. Mereka membuka lahan penitipan sepeda, sepeda motor dan mobil.

Rangkaian kegiatan ulangtahun biasanya dimulai malam Jum’at pahing berupa pengajian khususiyah. Kemudian dilanjutkan acara berikutnya hingga 10 hari ke depan dan berakhir pada hari H yaitu Sabtu Kliwon malam Minggu Legi. Sabtu pagi jam 6  tepat dilaksanakan Upacara Bendera yang diikuti oleh seluruh keluarga pondok dan tamu yang hadir. Selesai upacara dilanjutkan  dengan menyanyikan lagu-lagu Nasional sambil membentuk lingkaran seperti permainan anak jaman dulu yang kita kenal dengan “jamuran”. Setelah menyanyi  barulah kendali acara dipegang langsung oleh Sang Guru. Biasanya beliau berpidato membakar semangat para santri untuk tetap di jalur kebenaran, membangun keberanian dan menjaga kesucian. Selain itu beliau juga mengundang perwakilan tamu untuk menyampaikan sambutan.Ada dari kalangan pejabat, seniman atau pendatang dari daerah lain dan tidak lupa dari kalangan politisi. Dalam momen ini para santri dari luar Jawa juga berdatangan. Mereka adalah santri lama yang sekarang bermukim di luar Jawa.  Masing-masing mereka dipanggil dan diberi waktu antara 3 – 7 menit untuk berbicara di depan umum. Oh iya , perwakilan Motor Antik juga hadir dan pasti diberi waktu. Sekitar jam 11 rangkaian upacara itu selesai. Peserta upacara bubar dilanjutkan acara menurut selera masing-masing. Dalam kesempatan ini biasanya Sang Guru berkeliling  ”menyapa” para pedagang kecil, pemilik  warung dan penjual jasa permainan anak yang bermunculan  di sekeliling pondok.

Ba’da ashar atau  sekitar jam 4 sore dilaksanakan lomba tayub. Pesertanya adalah bapak-bapak yang sudah tua dengan pakaian beskap dan blangkon. Gaya jogednya lembut perlahan. Gamelannya pun lembut perlahan. Tidak ada penari wanita di acara itu. Suasana tayub di pondok ini jauh dari gambaran maksiat yang selama ini melekat di benakku. Dan mungkin melekat juga di benak banyak orang. Dulu kalau aku mendengar kata  ”tayub” maka yang muncul di ingatanku adalah nama sebuah desa yang gersang di wilayah utara kabupaten Sragen. Tayub adalah tarian lelaki dan perempuan yang beradu sensualitas dan memancing syahwat. Untuk menyemarakkan suasana tayub  panitia atau tuan rumah akan menyediakan  minuman keras. Lengkaplah suasana maksiat itu. Adakalanya ( menurut kabar burung ) tayub itu akan diakhiri dengan sebuah transaksi antara penari wanita dengan pria yang menginginkannya.

Jam 5 sore lomba tayub selesai. Sang Guru akan mengambil mik dan memberi komando kepada seluruh tamu yang hadir “silakan makan” dan setelah makan semua sholat maghrib di masjid. Selesai sholat maghrib semua diminta duduk di kursi yang sudah disediakan di depan panggung utama.

Setelah sholat maghrib, Sang Guru berdiri  di panggung utama untuk menyampaikan orasi. Tidak jauh berbeda dengan orasi saat upacara pagi, intinya memotivasi seluruh hadirin untuk mempertahankan kebenaran, meningkatkan keberanian dan menjaga kesucian. Di tengah-tengah orasinya kadang-kadang Sang Guru juga menyelipkan ajakan ” ngrogoh kanthong dikekke uwong” dengan peragaan dan lagu yang khas,  di iringi suara gamelan yang membahana.

Sambutan dari para tokoh, mulai dari tingkat RT sampai tingkat Nasional yang hadir diberi waktu walaupun hanya 3 menit. Tamu  yang unik juga diberi waktu untuk memberi sambutan  seperti Pak Samuel dari Papua dan Naomi dari Jepang.   Di antara deretan sambutan kadang diselingi dengan lawakan dan tarian dari grup lawak Markaban dan Yati Pesek atau Cak Dikin dan istrinya dan kadang juga ada grup tari dari  Banyuwangi.

Acara yang langsung dipimpin oleh Sang Guru ini selesai sekitar jam 22.00 lalu diserahkan kepada dalang Enthus Susmono dari Tegal untuk menggelar Lakon Wayang Kulit.

Sepanjang pengamatanku selama hampir 10 tahun terhadap acara-acara kesenian di pondok  ini aku mendapatkan pelajaran sebagai berikut :

(1) Pagelaran wayang kulit tidak sampai subuh seperti kebanyakan pagelaran wayang yang lainnya. Sang Guru mengajarkan tidak boleh mengganggu kewajiban sholat subuh. Paling lambat jam 2 dini hari lakon wayang harus selesai.

(2) Bentuk “tayub” yang sangat berlawanan dengan norma dan kebiasaan tayub lainnya.

(3) Penyanyi dangdut harus berbusana muslim menutup aurat. Musik dangdut dibuat sepanggung dengan musik kasidah.

(4) Grup Campursari Pengamen tidak boleh menampilkan pemain atau penyanyi wanita.

(5) Semua kegiatan pasar malam baik pagelaran musik maupun penjaja dagangan harus sudah berhenti pada jam 24.00.

(6) Sepanjang acara , tidak pernah ada kerusuhan. Aku pernah mendengar Sang Guru naik panggung campursari untuk menyapa pengunjung. Ucapan beliau antara lain begini, ” pripun sedulur-sedulur….. sami seneng nopo mboten?”. Penonton menjawab ” seneng……”. –  ” aman nopo mboten?…” – mereka menjawab lagi,” amaaaan.?”.

Sang Guru mengakhiri tanya jawab itu dengan ungkapan kata yang bernada nasehat , ” nek ora ana sing mendem yo mesti aman…”  ( kalau tidak ada yang mabuk pasti aman )……

Dari pelajaran yang kuperoleh itu aku menyimpulkan sendiri, rupanya Sang Guru sedang melaksanakan dakwah melalui kegiatan kesenian yang disukai oleh masyarakat. Beliau tidak melarang berkesenian  tetapi efek buruk dalam gelar kesenian itu yang harus  dihapuskan.

Hal lain yang tercatat di hatiku tentang kebiasaan Sang Guru setelah acara “pesta rakyat”  itu selesai  adalah, dibereskannya semua urusan dan penataan sehingga segala sesuatu kembali seperti semula. Semua barang pinjaman dikembalikan, seluruh halaman dan lokasi dibersihkan. Esok pagi saat adzan subuh berkumandang kondisi pondok dan sekitarnya normal seperti sediakala. Tidak ada tanda-tanda bahwa semalam ada “pesta”.

One thought on “Sang Guru (14)

  1. Abah Syarief Hidayatulloh sosok fihur yang patut di tiru – yg tidak suka tdk usah komentar khususnya yg ISIS dan yg bukan sesuai aliranya .MINGGAT

Komentar ditutup.