AS-China Saling Serang

Amerika Serikat dan China kembali saling serang. Kali ini terkait dengan perdagangan, yang bisa membuat kedua negara pemilik kekuatan ekonomi terbesar dunia terjebak perang dagang. Hal ini dipicu persetujuan 348 anggota DPR AS atas HR 2378, Rabu (29/9) di Washington.

HR 2378 adalah rancangan undang-undang yang bertujuan membuat Pemerintah AS mengenakan sanksi dagang tambahan atas China. Hanya 79 anggota DPR menolak HR 2378, terutama Partai Republik, yang secara empiris antiproteksionisme.

HR 2378 memungkinkan AS mengenakan sanksi dagang pada negara yang dianggap memanipulasi kurs. Ini adalah pertama kali dalam sejarah AS memberlakukan sanksi dagang dengan alasan manipulasi kurs.

Namun, HR 2378 juga akan mencecar China soal dugaan pelanggaran hak cipta dan pengenaan tarif dan nontarif yang makin keras dicanangkan China terhadap produk-produk AS.

Ketua DPR AS (House of Representatives) Nancy Pelosi mengatakan, defisit perdagangan AS terhadap China dulunya hanya 5 miliar dollar AS per tahun, tetapi kini ada defisit 5 miliar dollar AS setiap minggu.

AS menilai 2 juta lapangan kerja AS hilang karena serbuan produk China. Dengan pengenaan sanksi, produk China akan lebih mahal 10 persen dan berpotensi menciptakan sejuta lapangan kerja baru di AS.

Menteri Keuangan AS Timothy Geithner dan Presiden Barack Obama mengatakan, China tak memenuhi janji reformasi kurs yuan, yang dianggap 40 persen lebih lemah dari seharusnya. Satu dollar AS setara dengan 6,8 yuan.

Membahayakan hubungan

Partai Demokrat kini juga sedang terancam kehilangan mayoritas di Kongres AS. Hal ini menakutkan Demokrat menjelang pemilu Kongres pada November 2010.

HR 2378 itu bisa dipastikan belum akan menjadi undang-undang karena masih harus disepakati Kongres, setelah November. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Jiang Yu, mengatakan, sanksi AS berpotensi merusak hubungan bilateral AS-China. ”Kami ingin agar semua bentuk hubungan bilateral tak terganggu,” kata Jiang.

Dia mengatakan, sanksi lewat HR 2378 itu jelas tak sesuai dengan peraturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Belum pernah dalam sejarah sebuah sanksi dagang dikenakan dengan alasan manipulasi keuangan.

Pihak China menilai AS telah berbuat semena-mena dengan menerapkan langkah apa saja yang memungkinkan negara itu mengenakan sanksi dagang. Jiang mengatakan, defisit perdagangan AS tidak bisa menjadi alasan untuk menindak China dengan alasan kurs yuan terlalu lemah.

AS mengalami defisit sekitar 495 miliar dollar AS, setengahnya dengan China. Namun, AS juga mengalami defisit dengan Jerman. Negara yang dipimpin Kanselir Angela Merkel ini juga pernah menjadi sasaran.

Merkel pernah balik mengecam AS. Kurs euro terus menguat terhadap dollar AS, sejak diluncurkan tahun 1999, tetapi tidak mencegah AS mengalami defisit perdagangan dengan Jerman.