Syaja’ah (Berani)

” Dan siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang-orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan ‘amal shaleh dan berkata: sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri”    (Fussilat: 33)

   Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri adalah seorang ulama di jaman Khalifah Harun Al Rasyid. Alkisah pada suatu hari Khalifah sedang melaksanakan ibadah haji, sebagaimana lazimnya penguasa yang ada sekarang, seluruh tempat yang akan dilaluinya tertutup untuk untuk umum. Pada saat Khalifah melakukan sa’i antara bukit Marwah dan Shofa seorang diri, sambil disaksikan, ribuan jamaah haji, berangkatlah Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri ke tempat sa’i.Sesampainya di Shofa, kebetulan Khalifah baru saja tiba di sana. Berteriaklahlah beliau, “Haruuuun…!”, tanpa menyebut embel-embel kekhalifahan.  Mendengar jeritan tadi, seluruh jamaah termasuk Khalifah terkejut melihat ke arah datangnya suara. Melihat wajah yang memanggil, menjawablah beliau, “Labbaika ya ‘amm”.

   “Naiklah ke bukit Shofa! Lihatlah ke Ka’bah, berapakah jumlah manusia di sana ?”. “Tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah”, jawab Khalifah.  “Ketahuilah, setiap orang dari mereka akan dimintai pertanggung-jawabannya nanti di hadapan Allah,dan kamu akan diminta pertanggung-jawabanmu oleh Allah atas dirimu dan seluruh rakyatmu.  Lihatlah kepada dirimu, apakah pantas engkau perlakukan ummat seperti ini ?”. Mendengar ucapan Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri tersebut, menangislah Khalifah seraya mengakui kesalahan yang beliau lakukan.

   Inilah profil ulama akhirat yang tak butuh penguasa namun penguasa membutuhkan nasihatnya, ulama yang kental dengan ruhhul aqidah, yang pekat dengan akhlaq islami. Ulama yang sebenar-benarnya ulama.

   Syaja’ah (berani) berkata akan kebenaran dan berani bertindak membelanya adalah salah satu ciri dan inti akhlaq islami itu. Ciri yang dimiliki para Nabi, Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri, Hasan Al Basri ketika menghadapi Al Hajjaj, Ibnu Taimiyyah dlsb. Ciri yang muncul atas penuhnya tsiqobillah (kepercayaan kepada Allah), dalam hati seorang Muslim, keyakinan akan kebenaran Allah.

   Hati yang telah terwarnai oleh celupan Allah (sibghatullah) dan memiliki tsiqoh tak akan ragu, apalagi bersangka buruk terhadap Allah.  Dalam satu detik di tengah kegagalan usaha, tak pernah ia melemparkan kesalahan diri pada Allah, meragukan keadilan Allah dsb. Dia percaya dengan sepenuh percaya akan Allah dengan segala asmaNya.  Dia percaya tindakannya selalu dalam pengawasan Allah dan mendapat perlindungan dariNya.  Dia percaya Allah akan membelanya baik di dunia maupun kelak di pengadilan akhirat, hari dimana semua pembela pun turut diadili, saat dimana tak ada lagi pembela selain Allah.

   Rasa percaya itulah yang melahirkan keberanian, tsiqoh yang kuat membuahkan syaja’ah yang benar–berani bukan untuk pujian, kelompok atau sesuatu yang lain, tetapi berani karena itu, tindakan itu untuk Allah, untuk membela agama Allah semata, dan tidak untuk yang lainnya.

   Dalam titik tsiqoh ini, dalam hati seorang Muslim, kebenaran Al Qur’an dan sunah tak memerlukan lagi legalitas ilmiah dari para orientalis. Tidak lagi keyakinan baru tumbuh setelah orang-orang kafir juga mengakuinya. Tsiqoh kepada Allah dan RasulNya memutus ketergantungan pada selain Allah. Kebenaran Allah adalah benar, meski ia dibenarkan atau tidak oleh para hamba taghut. Al Haq adalah haq, meski seluruh musuh Allah berkonspirasi untuk menolaknya. Kebenaran Allah adalah cahaya yang menerangi hati dan akal yang
fitri.  Dia tidak memerlukan pembenaran, karena dia benar adanya. Dia akan terang dan menjulang meski mulut-mulut pendusta mengingkarinya. Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

   Syaja’ah, keberanian.  Lalu siapakah yang lebih baik perkataannya ? Siapa ? Jawabnya tak lain dari mereka yang berani menyampaikan al Haq, menyeru kepada Allah sehingga tidak ada lagi fitnah (penyembahan manusia pada sesuatu selain Allah), dan semua penyembahan hanyalah ditujukan kepada Allah Rabbal ‘alamiin. Inilah manusia-manusia yang berakhlaq islami, akhlaqul kharimah, manusia yang disayangi Rasulnya.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil.

Iklan