Sang Guru (6)

SANG GURU (6)

by Bu Wiwik on Monday, August 22, 2011 at 12:02am
 
 

Banyak orang berfikir bagaimana pekerjaan sebesar itu dikerjakan “sendiri” tanpa bantuan orang lain?. Dari mana uangnya. Bagaimana manajemennya?….. Sulit dinalar.  Aku pun pernah berpikir  seperti itu. Tetapi  aku yakin bahwa orang-orang yang “bersih” tentu ada fasilitas tambahan dari Allah yang diberikan padanya untuk menjalani kehidupannya. ” Sesungguhnya bumi ini diwariskan kepada hambaKU yang soleh” ( QS 21 : 105). Aku berhenti berfikir tentang hukum sebab akibat yang bersifat materiil matematis.

Kalau kita hanya melihat sang guru dari jauh, tidak melihat sendiri dari dekat, apalagi jika kita sudah termakan oleh dugaan buruk, maka yang muncul adalah kesimpulan yang buruk juga. Bahwa sang guru punya dhemit atau jin untuk mencuri uang.  Bahwa sang guru main sulap dari daun menjadi uang. Dan yang lebih seru, bahwa  sang guru mencetak uang sendiri. Gambaran tentang  orang  kaya kan mesti kelihatan punya usaha yang sukses dan terkenal. Rumahnya mesti  bagus, tanah  luas,  mobil  keren, deposito di berbagai  bank atau perhiasan  yang berkilau dan mencolok mata. Tapi semua gambaran ini tidak ada pada sang guru……

Setelah beberapa tahun aku mendekat dan mengikuti perjalanannya, barulah aku tahu, sang guru punya beberapa usaha. Ada 12 ricemill yang tersebar di seluruh Kabupaten Sragen, ada usaha  pertanian yang ketika panen semangka bisa mengirim ke Jakarta senilai Rp 100 juta, ada 5 unit Bus Pariwisata, ada kerjasama dengan Cina tentang pengolahan pasir besi di pantai selatan, ada super market di Jakarta, ada tambang pasir merapi sekaligus 3 unit bego, ada tambang batubara di Kalimantan, bahkan ada tambang emas di Papua. Tetapi semua itu hanya kutahu secara sekilas. Aku mendengarnya dari berbagai sumber yaitu dari orang yang lebih lama dekat dengan sang guru. Tapi pernah juga aku melihat sendiri sang guru sedang menerima seorang tamu lalu mengangkat telpon beberapa saat, lalu berkata kepada tamunya , ” hehe ….orang nggak ada yang  tahu kalau aku ini pengusaha……”. Aku menyaksikan adegan itu dari jarak sekitar 5 meter.

Usaha sang guru yang aku lihat dan ikuti perjalanannya adalah rumah makan di Jalan Raya Timur Km7 Sragen.

Rumah makan yang buka 24 jam ini memang selalu ramai dikunjungi orang. Rombongan wisata dan ziarah walisongo biasa singgah di sini. Masakan jawa dengan model prasmanan disertai masjid yang luas, bebas, kamar kecil yang banyak dengan air berlimpah  rupanya menjadi daya tarik bagi pengunjung. Kamar kecil dan tempat wudlu di masjid ini tidak ditunggu oleh petugas yang menarik bayaran. Semua seikhlasnya saja. Konon, waktu muda sang guru pernah punya pengalaman pahit tentang  kamar kecil yang  ditarik bayaran. Saat itu beliau masuk kamar kecil tapi tidak punya uang, maka terjadilah perang mulut dengan penjaga kamar kecil. Dan sekarang, setelah berhasil membangun masjid dengan puluhan kamar kecil dengan infaq seikhlasnya, beliau sempat berseloroh, “kalau hanya untuk cari makan untuk keluarga, aku cukup jaga wese itu….sebulan bisa mencapai Rp 15 juta.”

Tentang kepemilikan, beliau sering menyebut dengan kata “kita”. Masjid kita, pondok kita, bus kita, tanah kita dsb. Ketika  bus pariwisata baru datang beliau menawariku dengan kalimat , ” ….sekarang kita punya bus wisata  bu wiwik… kalau mau dipakai silakan tinggal bayar bensin sama sopirnya saja……” . Demikian juga ketika tanah masjid ini diperluas ke arah timur, beliau memberi kabar padaku dengan kalimat , ” ….bu wiwik, tanah kita akan tambah luas ….yang 15m ke timur ini sudah jadi , tinggal bayar… Rp 150juta.. , tapi  belum ada uangnya…..he he he ….”

15m ke timur membujur dari jalan raya ke utara sampai jalan desa….. luas sekali ….., kataku dalam hati. Sementara itu sang guru dengan nada bercanda berkata, ” sebenarnya kalau setiap santri Rp1 juta saja, sehari beres ya bu?…..”  ”Benar sekali  Guru, saya juga mau…..”, jawabku dengan semangat… tapi beliau  segera menyahut….”biar saja lah, nanti juga beres sendiri…..”.

Mepet di garis batas tanah ini dengan jalan desa, sang guru mendirikan sebuah bangunan. Semula aku menduga gedung itu untuk ruang pengajian anak-anak sekitar. Sementara ini aku melihat setiap ba’da ashar ada  kegiatan TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) yang berlangsung di masjid ini dan dibimbing oleh ustadz / ustadzah yang merangkap sebagai pengelola rumah makan. Tetapi di  lain waktu, gedung itu sudah berfungsi untuk kegiatan lain. Aku melihat ada semacam mesin pemecah batu (?) ada beberapa  tukang yang sedang menerima penjelsan dari   sang guru. Aku bersama isteri sang guru duduk agak jauh dari mereka. Setelah tukang- tukang itu pergi meninggalkan sang guru sendiri, aku mencoba mendekat dan bertanya, ” ini mesin apa Guru?……” . Dengan santai beliau menjawab “… kalau aku terangkan paling bu wiwik juga nggak akan ngerti…..”.  Aku melongo…. tahu diri…. Aku baru sadar, terlalu banyak bertanya….

Yang kemudian membuatku  merenung  adalah, bagaimana mungkin orang dengan usaha yang  banyak, yang dapat memberinya harta berlimpah dan bisa  hidup mewah, sudah merasa cukup dengan rumah sederhana,  tidur di atas tikar, baju standard kaos oblong, dan sering puasa. Hartanya lebih banyak untuk membangun  masjid di sana-sini. Juga untuk menyenangkan banyak orang saat momen tertentu di pondok pesantren. Demikian juga  isterinya,  tidak ada yang menuntut minta busana atau perhiasan yang “wah”.   Anak-anaknya?  Tidak seorang pun yang tampil sebagai remaja yang gaul yang membutuhkan penampilan yang gaya dan trendi. Malah sebaliknya mereka sangat santun dan lembut. Pernah dalam satu kesempatan setelah selesai perayaan ulangtahun pondok aku bercerita  kepada sang guru  bahwa ada seorang kyai yang hadir dan mengatakan ” kaya sekali sang guru ini……” . Beliau tersenyum padaku dan melontarkan jawaban pendek , ” Allah yang kaya……”.

Ini semua membuatku yakin, ada kekuatan lain yang diberikan Allah kepada sang guru.