Sang Guru (4)

SANG GURU (4)

by Bu Wiwik on Thursday, August 11, 2011 at 11:30pm
 
 
Setelah tersimpan cukup lama, akhirnya pertanyaan itu lepas juga dari mulutku.

Saat itu kami berdua bercakap-cakap di ruang tamu. Tetapi sebelum masuk ke pertanyaanku baiknya aku cerita dulu tentang ruangan ini. Di ruang ini ada seperangkat meja kursi yang terbuat dari batang pohon jati yang dipotong sedemikian rupa hingga membentuk meja dan kursi. Asli, tanpa plitur, hanya diamril saja sehingga serat dan tekstur kayu jati itu masih tampak dengan jelas. Uniknya, ada satu kursi yang sandarannya sangat tinggi dan lebar. Aku mengira kursi yang ini pasti dari batang pohon yang berdiameter sekitar 2 atau 3 meter sehingga tempat duduknya bisa menampung 3 orang. Aku sering melihat tamu-tamu berpose di kursi itu. Di sebelah kiri kursi itu ada seekor “harimau” yang berdiri gagah menghadap ke utara. Aku tidak tahu dari mana dan  bagaimana harimau itu bisa berdiri di situ. Di belakang kursi besar ada dinding anyaman bambu kulitan yang menjadi penyekat antara ruang tamu dengan ruang tengah. Ada pintu kecil yang menghubungkan  kedua ruang itu.  Baik ruang tamu maupun ruang tengah berlantai tanah. Kalau di ruang tamu disediakan kursi, maka di ruang tengah disediakan hamparan anyaman bambu kulitan untuk lesehan.Pekerjaan menganyam bambu dilakukan di tempat. Di ruang ini Sang Guru biasa menjamu makan tamu- tamunya. Beberapa tamu yang pernah kulihat hadir di ruangan ini antara lain  Akbar Tanjung,  Adi Sasono,  Prof Subur Budi Santosa (Wantimpres, pendiri Demokrat), Prof Damarjati Supajar dosen filasafat UGM, pengamat ekonomi Faisal Basri dan yang terakhir berkunjung sekitar 2 bulan yang lalu adalah Iwan Fals dan Sastro Blangkon ( dulu asprinya Gus Dur)

Kembali ke pertanyaanku. Saat itu aku bertanya kepada sang guru, kenapa pakaiannya selalu standard, celana panjang kaos oblong?  Sama sekali tidak mencerminkan seorang pimpinan pondok pesantren. Sarung, hem dan peci hanya dikenakan saat menyampaikan  pengajian di masjid 2 kali dalam 5 minggu yang dalam bahasa Jawa disebut selapan dina. Bahkan saat ulangtahun pondok yang diselenggarakan setiap  malam Minggu Legi bulan Muharam sang guru menge nakan sarung dan  peci tetapi atasannya hanya kaos oblong lalu selembar sarung yang lain dikalungkan di leher. Baju koko yang kian hari kian modis justru tak pernah disentuhnya.  Orang yang baru pertama kali mengenal sang guru pasti kecele karena mengira sang guru adalah sosok tua,bersarung dan berjubah. Ini pula yang aku usulkan  kepada sang guru kenapa tidak berbusana seperti umumnya pimpinan pondok pesantren atau kyai lainnya.

Sang guru menjawab, ” aku ini bukan kyai bu wiwik, aku adalah pelayan bagi siapa yang membutuhkan. Ibarat sopir bis, aku ini sopir bis umum, tidak pernah membedakan asal usul penumpang, siapapun boleh naik, sukur-sukur sampai tujuan, kalau mau turun di jalan….. ya , itu urusan dia….”

Mendengar jawaban ini, aku tidak tahu harus merespon dengan kalimat apa…. Aku hanya mengangguk dan bergumam  untuk diriku sendiri. “iya…. iya…. iya…..” begitu seterusnya hingga sang guru selesai bicara.

Penjelasan yang juga masih kuingat adalah….” kalau aku pake baju koko, duduk bersila di ruang tertutup  pegang tasbih… apa mungkin “orang-orang kotor” itu berani  mendekatiku? Siapa yang akan merawat mereka?  Padahal mereka juga membutuhkan tempat berteduh dari lelahnya menjalani hidup.

Rasanya aku ingin menangis mendengar kalimat ini karena aku belum pernah mendengarnya dari orang lain, bahkan dari seorang kyai sekali pun.

Pada pengajian berikutnya, seolah ingin memperjelas keterangan yang pernah disampaikan kepadaku, materi tentang busana itu dibahas kembali. Bahkan pada pidato ulangtahun pondok yang ke 20 di tahun 2006, di mana pesertanya ada ribuan orang, materi itu diungkap kembali. Kalimat sang guru antara lain ” aku mempertahankan pakaian yang seperti ini karena aku lebih mementingkan isi jiwaku. Sebagai hamba Allah, jiwaku, ruhku hanya terikat padanya. Setiap saat setiap detik waktuku aku harus taat dan taubat padaNYA. Itulah hablun min Allah. Sedangkan hablun minanas, ragaku haruslah memberi manfaat kepada sesama. Apa artinya memakai jubah kalau jiwa dan ruhnya tidak menuju ke SANA?. Aku berjanji di hadapan Allah, jika hatiku, jiwaku, ruhku tidak terus bergantung kepadaMU, tidak terus menyebut NAMAMU, atau berhenti sedetik saja UNTUKMU, maka matikan saja aku Ya Allah…..yang dalam bahasa Jawa beliau ucapkan dengan ” Panjenengan pejahi kemawon kula  Gusti”……. Dan aku benar-benar menangis karena degup jantungku menyentuh jiwaku yang paling dalam.

Dan dari perjalananku selanjutnya aku menemukan beberapa kejadian yang membuatku meyakini bahwa penjelasannya itu bukanlah omong kosong.

Suatu hari aku melihat seorang pria dari Kecamatan Mondokan,  sekitar 15 Km dari kota Sragen datang kepada sang guru dan melaporkan bahwa sapinya hilang. Untuk menolong lelaki itu,sang guru minta agar istrinya menulis surat untuk Dan Ramil setempat. Isi surat itu  ditulis dengan bahasa jawa kromo, “Katur Dan Ramil Mondokan. Kula, kawula alit saking plosorejo gondang ngaturi pirsa bilih setunggaling wargo panjenengan kecalan sapi.Nyuwun tulung supados dipun rencangi madosi wonten sekitar dusun mriku. Atas kesaenan panjenengan mugi Gusti Allah paring kesaenan ingkang  kathah dateng panjenengan”  ( kepada Dan Ramil Mondokan. Saya, orang kecil dari Plosorejo Gondang memberitahukan bahwa ada warga Mondokan yang kehilangan sapi. Tolong dibantu mencari di sekitar kampung itu. Atas kebaikan hati anda, semoga Allah membalas dengan kebaikan yang banyak”). Surat dilipat lalu dimasukkan amplop, diserahlkan kepada pria itu untuk kemudian dikirim kepada Komandan Koramil Mondokan.

Aku tidak tahu berapa lama proses pencarian itu, yang jelas pria itu datang kembali kepada sang guru dan melaporkan bahwa sapinya sudah ketemu.

Kejadian yang lain aku saksikan juga di ruang tamu ini. Saat itu aku bersama seorang teman sedang menghadap sang guru. Tidak lama kemudian ada 3 orang pria bertubuh kekar memanggil nama sang guru dengan nada berteriak tetapi suaranya  parau.  Matanya juga kelihatan  merah. Aku menduga mereka baru saja mabuk. Sang guru segera berdiri menyambut kedatangannya. Aku melihat pemandangan yang “aneh dan asing”. Ketiga orang itu mengerubuti sang guru menyalami dan menciumi tangannya terus berlanjut mencium lutut hingga ke ujung kakinya. Sang guru mengangkat tubuh ketiga pria itu lalu mendudukkannya di kursi. Sang guru memintaku masuk ke ruang tengah. Aku mentaatinya. Aku tidak tahu isi pembicaraan mereka. 10 menit kemudian mereka pulang dan aku diminta kembali ke ruang tamu.

Kejadian lain kutemui saat sang guru mengawali pembangunan masjid di Jalan Raya Sragen- Ngawi Km7 sekitar tahun 2007. Di lokasi itu setahun sebelumnya sang guru mendirikan Rumah Makan dengan nama “Yu Sri” , cabang dari “RM Pecel Yu Sri” Simpang Lima Semarang. Pemilik Rumah Makan ini memang biasa mengaji kepada sang guru.

Dalam waktu setahun tanah di lokasi itu meluas hingga beberapa ratus meter ke belakang. Ternyata sang guru memang berencana mendirikan masjid di belakang rumah makan. Persiapannya cukup lama. Tanah calon masjid itu ditirakati oleh beberapa orang pilihan dalam waktu tertentu. Tirakatnya berupa, tidur di atas tikar tepat di tengah-tengah calon bangunan masjid, dipergunakan untuk sholat tahajud dan untuk berdzikir kepada Allah. Bagi yang sudah pernah mendapat tugas seperti itu, mereka akan bercerita dengan bangga tentang pengalamannya diterpa angin malam, tentang dzikirnya yang mengharu biru atau tentang tahajudnya yang membuatnya serasa terbang ke awan. Pas bulan Rojab dimulailah pembangunan masjid itu. Namun sebelum penggalian tanah untuk fondasi dimulai,  pada hari Jum’at paing setelah malamnya mengaji, ba’da subuh ada ritual dzikir LAA ILAAHA ILLA ALLAH sambil mengelilingi calon lokasi masjid. Acara ini langsung dipimpin sang guru diikuti keluarganya dan para santrinya.

Jam 6.30 acara ini selesai dan aku mohon pamit karena harus segera ke kantor. Oleh sang guru aku “dititipi” seseorang untuk numpang di mobilku hingga ke terminal Pilangsari. Kupersilakan dia duduk di belakang sementara aku pegang setir di depan. Dia, pria sekitar 40th tinggi besar, rambutnya ikal dengan wajah yang terkesan kotor. Bajunya pun warna hitam sehingga secara keseluruhan mengesankan  kesedihan dan kehinaan. Dalam perjalanan yang hanya 4 km, kami ngobrol banyak. Dari obrolan itu aku mendengar bahwa dia asli dari PurwodadiL. Mengenal sang guru sekitar 2 tahun yang lalu saat dia ingin melakukan pertaubatan setelah sepanjang hidupnya diisi dengan berbagai macam kemaksiatan. Saat itu dorongannya sangat kuat untuk bertaubat. Dia lelah menjalani kehidupan seperti yang selama ini dia jalani.Suatiu malam dia datang ke sebuah masjid lalu duduk di tempat yang agak tersembunyi. Dia tidak tahu bagaimana caranya mengawali masuk masjid. Dia terus saja  mengikuti ceramah yang sedang disampaikan oleh kyai  di masjid itu. Tetapi ketika materinya menyangkut pelaku maksiat dan hanya neraka tempatnya, dia menangis sedih. Sedih sekali. Dalam hati dia bertanya, apakah tidak ada tempat kembali bagi kami yang tersesat?…. Dia membatalkan diri masuk masjid. Berdiri di pinggir jalan tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Saat itulah ada mobil berhenti di hadapannya lalu salah satu penumpang bertanya, “mau ke mana?”. Sebelum sempat menjawab, penumpang mobil itu segera melontarkan ajakan ” ayo ikut saya….” . Dia tidak punya pikiran apapun selain mengikuti ajakannya. Ternyata penumpang mobil itu adalah sang guru. Dia dibawa ke masjid sang guru , disuruhnya dia mandi keramas , ganti baju lalu diajari bertaubat dan melakukan sholat. Setelah beberapa hari di pondok dia diminta pulang dengan sebuah pesan untuk menjalani kehidupan dengan cara lebih baik.. Karena dia hanya punya keterampilan terapi pijat maka dia hidup dari pekerjaan itu. Itupun, dia tidak boleh menyebut besarnya bayaran yang dia inginkan, bahkan kalau ada bayaran yang dirasa terlalu besar, dia harus ikhlas mengembalikannya. Prinsipnya, dia harus lebih banyak menolong orang daripada mencari uang.

Semalam dia dipanggil sang guru untuk melakukan terapi pijat karena sang guru kelelahan. Dan pagi ini diikutsertakan dalam proses pembangunan masjid. ” Jadi, kalau ketemu sang guru saya tidak bisa berbuat apapun kecuali menangis. Apalagi kalau sang guru melantunkan tahlil seperti tadi pagi….. tidak ada yang saya inginkan kecuali menangis. Saya bersyukur sudah diantar bertaubat dan menjalani kehidupan yang lebih baik”

Aku melepasnya turun di depan terminal Pilangsari dengan penuh rasa empati. Wajah sang guru terbayang di mataku. Aku akan terus mengikutimu, kataku…….