China-Rusia di Puncak Kemesraan

SHANGHAI, — Presiden Rusia Dmitry Medvedev, Selasa (28/9/2010), mengatakan, hubungan antara China dan Rusia telah mencapai “titik tertinggi” saat ia melakukan kunjungan kenegaraan ke China dan tur ke World Expo di Shanghai.

Medvedev tiba di pusat keuangan China itu dari Beijing. Ia bertemu dengan Presiden Hu Jintao dan pemimpin lainnya untuk pembicaraan yang berfokus pada kerja sama energi “Sino-Rusia” (sebutan bentuk kerja sama bagi China dan Rusia). Kedua belah pihak—yang bermusuhan selama Perang Dingin—merayakan selesainya jaringan pipa minyak yang sudah lama ditunggu-tunggu yang melintasi perbatasan dan menghubungkan Rusia selaku produsen minyak terbesar dunia dengan China selaku konsumen energi terbesar.

“Hubungan Rusia dan China berada pada titik tertinggi sekarang ini. Kami benar-benar menjadi mitra strategis,” kata Medvedev pada acara peluncuran Rusia Day di Expo itu, sebuah pameran budaya dan teknologi dunia yang mulai pada 1 Mei lalu. “Kenyataan (bahwa saya) mengunjungi pameran ini adalah demonstrasi lain dari persahabatan antara Rusia dan China,” katanya seraya menambahkan bahwa acara tersebut menunjukkan, kedua negara serius mendorong modernisasi ekonomi.

“Inovasi merupakan pilihan untuk negara kami,” kata Medvedev. Dirnya dan Wakil Presiden China Xi Jinping, dianggap banyak pihak sebagai bakal pengganti Hu, datang untuk meninjau paviliun China dan Rusia di Expo itu dan mengadakan pembicaraan sebelum Medvedev kembali ke Moskwa.

Kremlin sangat ingin meniru resep Beijing dalam keberhasilan ekonomi dan modernisasi.

Senin, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, Hu menyampaikan kepada Medvedev bahwa investor China sangat antusias untuk menjadi bagian dari pembangunan pusat inovasi masa depan di luar Moskwa, proyek kesayangan pemimpin Rusia itu. Sejauh ini, energi menjadi penyumbang sebagian besar kerja sama “Sino-Rusia”. Menurut Kremlin, minyak Rusia yang dikirim ke tetangganya itu dalam 20 tahun mendatang akan bernilai 150 miliar dollar AS.

Kedua negara itu masih menyelesaikan sebuah kesepakatan yang bisa mencakup 70 miliar meter kubik gas alam Rusia dengan tujuan China setiap tahun. Mereka telah mengumumkan rencana untuk bersama-sama membangun kilang minyak senilai 5 miliar dollar AS di China utara.