" OJO NEKO-NEKO, OJO LENO, OJO NAKAL "

—- Create By : Santri ne —- Since 8 Juli 2010

Jiwa, Raga, Sukma, Nyawa, Moksa, Ngahiyang, Mukswa Atau Kamuksan

JIWA MENURUT KI AGENG SURYO MENTARAM

Ilmu jiwa sebagaimana diungkapkan Ki Ageng Suryo Mentaram dikenal dengan dua macam jiwa. Yakni jiwa KRAMADANGSA, dan jiwa BUKAN KRAMADANGSA. Apa yang disinyalir sebagai jiwa kramadangsa adalah jiwa yang tidak abadi disebut pula sebagai rasa “Aku Kramadangsa”. Aku kramadangsa termasuk di dalamnya adalah “rasa nama” atau ke-aku-an, misalnya aku bernama Siti Ba’ilah. Aku adalah seorang musafir, aku seorang satrio piningit, aku adalah seorang kaya raya. Ki Ageng Suryo Mentaram mensinyalir adanya “rasa jiwa” yang bersifat abadi. Dimaknai sebagai Aku bukan kramadangsa. Menurut Ki Ageng Suryo Mentaram, rasa aku kramadangsa adalah ke-aku-an (naari atau “unsur api”) yakni aku yang masih terlena, terlelap dalam berbagai rasa aku yang terdapat di dalam lautan kramadangsa. Sebaliknya aku bukan kramadangsa adalah aku yang telah otonom yang sudah memiliki KESADARAN memilih mana yang BENAR dan mana yang SALAH sehingga ia dapat dinamai “Aku kang jumeneng pribadi”.

Menurut Ki Ageng Suryomentaram alat manusia untuk mendapatkan pengetahuan terdiri dari tiga bagian yakni pancaindera, rasa hati dan pengertian.

Pertama, pancaindera, seperti yang telah kita ketahui yaitu alat penglihatan (mata), alat pendengaran (telinga), alat penciuman (hidung), alat pencecap (lidah) dan alat peraba (kulit, misalnya: jari- jari tangan merasa panas kena api, kulit merasa gatal terkena bulu ulat, dll).

Kedua, rasa hati, adalah suatu kesadaran diri tentang keberadaan aku di mana aku dapat merasa senang, susah dan lain-lain.

Ketiga, adalah pengertian, kegunaan pengertian dapat menentukan tentang hal-hal yang berasal dari pancaindera dan juga dari rasa hati. Pengertian di sebut pula sebagai persepsi, yang pada gilirannya akan menentukan mind-set atau pola pikir. Dengan demikian alat pengertian ini dapat dikatakan sebagai alat yang tertinggi tingkatan otonominya bagi manusia karena ia sudah melampaui pengetahuan yang didapat dari alat pertama dan kedua. Ia sudah merupakan suatu refleksi kritis, kontemplasi, endapan yang didapat dengan cara menyeleksi hal-hal yang tidak diperlukan kemudian hanya memilih yang berguna atau bermanfaat saja. Sedangkan alat di luar ketiga tersebut tak diketahui karena di dalamnya terdapat banyak hal yang masih mysteré sulit terjangkau oleh kemampuan alat manusia.

 

JIWA YANG MERDEKA (KAREPING RAHSA)

Jiwa adalah nafas, nafs, hawa atau nafsu. Jiwa yang telah merdeka barangkali  artinya sepadan dengan apa yang dimaksud jiwa yang mutmainah (an-nafsul mutmainah). Rasanya sepadan dengan apa yang dimaksud dalam konsep Ki Ageng Suryo Mentaram sebagai aku bukan kramadangsa. Aku bukan kramadangsa selanjutnya saya lebih suka menyebutnya sebagai JIWA yang NURUTI KAREPING RAHSA, lebih mudah dipahami bila saya analogikan sebagai  JIWA yang TUNDUK KEPADA SUKMA SEJATI. Sebaliknya apa yang disebut sebagai jiwa  kramadangsa, aku kramadangsa, tidak lain adalah jiwa yang NURUTI RAHSANING KAREP. Lebih tegas lagi saya sebut sebagai JIWA yang DITAKLUKKAN OLEH JASAD.

Barangkali perlu dipahami bahwa jiwa kramadangsa (rasa nama) kesadarannya lebih dari jiwa yang berhasil diidentifikasi oleh Aristoteles sebagai jiwa yang ikut mati. Saya kira Aristoteles hanya menangkap jiwa-jiwa sebagaimana jiwa binatang dan tumbuhan yang ikut mati. Dan Sementara itu jiwa kramadangsa di sini adalah jiwa dengan kesadaran rendah, yang dimiliki manusia. Jiwa kramadangsa hanya terdiri dari kumpulan seluruh catatatan di dalam memori jasad manusia yang berisi semua tentang dirinya dan semua yang pernah dialaminya. Tidak seluruh memori itu bersifat abadi karena banyak catatan-catatan in memorial dapat terlupakan bahkan lenyap bersama jasad yang mati. Berbeda dengan “aku bukan kramadangsa”, berarti yang dimaksudkan adalah “aku yang dapat mengatasi kramadangsa” karena itu “aku” adalah aku yang dapat mengatur dengan baik kramadangsa-ku.

 

JIWA, ROH, JASAD

Tulisan saya di sini mencoba untuk membantu menjabarkan apa sejatinya di antara ke tiga unsur inti manusia yakni jiwa, roh dan jasad. Tentu kami yang miskin referensi buku hanya bisa menyampaikan berdasarkan pengalaman pribadi sebagai data mentah untuk kemudian saya rangkum kembali dalam bentuk kesimpulan sejauh yang bisa diketahui. Pengalaman demi pengalaman batin, memang bersifat subyektif, artinya tak mudah dibuktikann secara obyektif oleh banyak orang, namun saya yakin banyak di antara para pembaca pernah merasakan, paling tidak dapat meraba apa sesungguhnya hubungan di antara jiwa, roh, dan jasad. Walaupun jiwa dan roh berkaitan dengan gaib, namun bukankah entitas gaib itu berada dalam diri kita. Diri yang terdiri dari unsur gaib dan unsur wadag (fisik), tak ada alasan bagi siapapun untuk tidak bisa merasakan dan menyaksikan “obyektivitas” kegaiban. Mencegah diri kita dari unsur dan wahana yang gaib sama saja artinya kita mengalienasi (mengasingkan) dan membatasi diri kita dari “diri sejati” yang sungguh dekat dan melekat di dalam badan raga kita.

Sukma-Raga

Hubungan antara roh/sukma dengan raga bagaikan rangkaian perangkat internet. Sukma atau roh dapat diumpamakan IP atau internet protocol, yang mengirimkan fakta-fakta dan data-data “gaib” dalam bentuk “bahasa mesin” yang akan diterima oleh perangkat keras atau hardware.  Adapun hardware di sini berupa otak (brain) kanan dan otak kiri manusia. Sedangkan tubuh manusia secara keseluruhan dapat diumpamakan sebagai seperangkat alat elektronik bernama PC atau personal komputer, note book, laptop dst yang terdiri dari rangkaian beberapa hardware. Hardware otak tak akan bisa beroperasional dengan sendirinya menerima fakta dan data gaib yang dikirim oleh sukma. Hardware otak terlebih dulu harus diisi (instalation) dengan perangkat lunak atau sofware berupa “program” yang bernama spiritual mind atau pemikiran tentang ketuhanan, atau pemikiran tentang yang gaib.

Sukma-Jiwa

Namun demikian, hardware otak tidak akan mampu memahami fakta-fakta gaib tanpa adanya jembatan penghubung bernama jiwa. Jiwa merupakan jembatan penghubung antara sukma dengan raga. Aktivitas sukma antara lain mengirimkan bahasa universal kepada raga. Bahasa universal tersebut dapat berupa sinyal-sinyal gaib, pralampita, perlambang, simbol-simbol, dalam hal ini saya umpamakan layaknya bahasa mesin, di mana jiwa harus menterjemahkannya ke dalam berbagai bahasa verbal agar mudah dimengerti oleh otak manusia. Tugas jiwa tak ubahnya modem untuk menterjemahkan “bahasa mesin” atau bahasa universal yang dimiliki oleh sukma menjadi bahasa verbal manusia.

Namun demikian, masing-masing jiwa memiliki kemampuan berbeda-beda dalam menterjemahkan bahasa universal atau sinyal yang dikirim oleh sukma kepada raga,   tergantung program atau perangkat lunak (software) jenis apa yang diinstal di dalamnya. Misalnya kita memiliki program canggih bernama Java script, yang bisa merubah bahasa mesin ke dalam bentuk huruf latin atau bahasa verbal, dan bisa dibaca oleh mata wadag.

Jiwa-Raga

Setelah jiwa berhasil menterjemahkan “bahasa mesin”, atau bahasa universal sukma ke dalam bahasa verbal, selanjutnya menjadi tugas otak bagian kanan manusia untuk mengolah dan menilainya melalui spiritual mind atau pemikiran spiritual. Semakin besar kapasitas random acces memory (RAM) yang dimiliki otak bagian kanan, seseorang akan lebih mampu memahami “kabar dari langit” yang dibawa oleh sukma, dan diterjemahkan oleh jiwa. Itulah alasan perlunya kita meng upgrade kapasitas “RAM” otak bagian kanan kita agar supaya lebih mudah memahami fakta gaib secara logic. Sebab sejauh yang bisa saya saksikan, kenyataan gaib itu tak ada yang tidak masuk akal. Jika dirasakan ada yang tak masuk akal, letak “kesalahan”  bukan pada kenyataan gaibnya, tetapi karena otak kita belum cukup menerima informasi dan “data-data gaib”. Dimensi gaib memiliki rumus-rumus, dan hukum yang jauh lebih luas daan rumit daripada rumus-rumus yang ada di dalam dimensi wadag bumi. Contoh yang paling mudah, misalnya segala sesuatu yang ada di dalam dimensi wadag bumi, mengalami rumus atau prinsip terjadi kerusakan (mercapadha). Merca berarti panas atau rusak, padha adalah papan atau tempat. Mercapadha adalah tempat di mana segala sesuatunya pasti akan mengalami kerusakan. Sementara itu di dalam dimensi gaib, rumus kerusakan tak berlaku. Sehingga disebutnya sebagai dimensi keabadian, atau alam kehidupan sejati, alam kelanggengan, papan kang langgeng tan owah gingsir. Sekalipun organ tubuh manusia, apabila dibawa ke dalam dimensi kelanggengan, pastilah tak akan rusak atau busuk. Sebaliknya, sukma yang hadir ke dalam dimensi bumi, pastilah terkena rumus atau prinsip mercapadha, yakni mengalami rasa cape, sakit, rasa lapar, ingin menikmati makanan dan minuman yang ia sukai sewaktu tinggal di dimensi bumi bersama raga. Hanya saja, sukmanya merupakan unsur gaib, maka tak akan terkena rumus atau prinsip mengalami kematian sebagaimana raga.

 

RUMUS-RUMUS KEHIDUPAN WADAG DAN GAIB

Jiwa yang terlahir ke dalam jasad manusia merupakan software yang merdeka dan bebas menentukan pilihan. Apakah akan menjadi jiwa yang mempunyai prinsip keseimbangan, yakni seimbang berdiri di antara sukma dan raga, menjadi pribadi yang seimbang lahir dan batinnya. Ataukah akan menjadi jiwa yang berat sebelah, yakni tunduk kepada sukma, ataukah jiwa yang menghamba kepada raga saja. Untuk menjadi pribadi yang dapat meraih keseimbangan lahir dan batin, jiwanya  harus memperhatikan dan menghayati apa saran sang sukma (nuruti kareping rahsa). Tak perlu meragukan kemampuan sang sukma sebab ia tak akan salah jalan dalam menuntun seseorang menggapai keseimbangan lahir dan batin. Pribadi yang seimbang lahir dan batinnya akan mudah menggapai kemuliaan hidup di dunia dan kehidupan sejati setelah raganya ajal. Sementara itu bagi jiwa yang mau diperbudak oleh raga berarti menjadi pribadi yang hidup dalam penguasaan lymbic section, atau insting dasar hewani, selalu mengumbar hawa nafsu (nuruti rahsaning karep). Tentu saja kehidupannya akan jauh dari kemuliaan sejak hidup di mercapadha maupun kelak dalam kehidupan sejati.

Sebaliknya, bagi jiwa yang terlalu condong kepada sukma, ia akan menjadi pribadi yang fatalis, tak ada lagi kemauan, inisiatif, dan semangat menjalani kehidupan di dimensi wadag planet bumi ini. Seseorang akan terjebak ke dalam pola hidup yang mengabaikan kehidupan duniawi. Hal ini sangatlah timpang, sebab kehidupan duniawi ini akan sangat menentukan bagimana kehidupan kita kelak di alam keabadian. Apakah seseorang akan menggapai kemuliaan bahkan kemuliaan Hidup di dunia merupakan bekal di akhirat. Sebagaimana para murid Syeh Siti Jenar yang gagal dalam memahami apa yang diajarkan oleh gurunya. Para murid menyangka kehidupan di planet bumi ini tak ada gunanya, bagaikan mayat bergentayangan penuh dosa. Kehidupan dunia bagaikan penghalang dan penjara bagi roh menuju ke alam keabadian. Jalan satu-satunya melepaskan diri dari penjara kehidupan dunia ini adalah jalan kematian. Sehingga banyak di antara muridnya melakukan tindakan keonaran agar supaya menemui kematian.

 

NYAWA, KEMATIAN, DAN MERAGA SUKMA

Banyak orang, melalui berbagai referensi, menganggap nyawa sama dengan jiwa. Bahkan dipahami secara rancu dengan menyamakannya dengan roh atau sukma. Nyawa, jiwa, roh, sukma, diartikan sama. Tetapi manakala kita menyaksikan peristiwa meraga sukma, perjalanan astral, lantas timbul tanda tanya besar. Bukankah saat terjadi peristiwa kematian, sukma seseorang keluar dari jasadnya ?! Kenapa orang yang meraga sukma tidak mengalami kematian ?! Sejak lama saya bertanya-tanya dalam hati saya sendiri. Apa gerangan yang terjadi dan bagimana duduk persoalannya. Bagaimanakah sebenarnya rumus-rumus tuhan yang berlaku di dalamnya ?

Butuh waktu puluhan tahun hingga saya menemukan jawaban logis, paling tidak nalar saya bisa menerimanya. Nyawa ibarat “lem perekat” yang menghubungkan antara sukma dengan raga manusia. Pada peristiwa kematian seseorang, nyawa sebagai lem perekat tidak lagi berfungsi alias lenyap. Jika lem perekatnya sudah tak berfungsi lagi maka lepaslah sukma dari jasad.  Lain halnya dengan meraga sukma, lem perekat masih berfungsi dengan baik, sehingga kemanapun sukma berkelana, jasadnya yang ditinggalkan tidak akan mati. Hanya saja lem perekat bernama nyawa ini sistem bekerjanya berbeda dengan lem perekat pada umunya yang benar-benar menyambung merekatkan antara dua benda padat. Nyawa merekatkan antara jasad dan sukma  secara fleksibel, bagaikan dua peralatan yang dihubungkan oleh teknologi nir kabel. Namun demikian nyawa tentu saja jauh lebih canggih ketimbang teknologi bluetooth yang bisa menghubungkan dua peralatan dalam jarak dekat maupun jauh. Dalam khasanah spiritual Jawa, para leluhur di zaman dulu menemukan adanya keterkaitan masing-masing unsur gaib dan wadag manusia. Raga supaya hidup harus dihidupkan oleh sukma,  sukma diikat oleh rasa. Ikatan rasa akan pudar dan lama-kelamaan akan habis apabila rasa tidak kuat lagi menahan penderitaan dan trauma yang dialami oleh raga. Bila seseorang tak kuat lagi menahan rasa sakit, kesadaran jasadnya akan hilang atau mengalami pingsan, dan bahkan kesadaran jasadnya akan sirna samasekali alias mengalami kematian. Di sini peristiwa kematian adalah padamnya  “alat nirkabel” atau semacam “bluetooth” bikinan tuhan sehingga terputuslah hubungan antara jasad dan sukma. Lain halnya dengan aksi meraga sukma, sejauh manapun sukma berkelana ia tetap terhubung dengan raga melalui “teknologi” bluetooth bikinan tuhan bernama nyawa.

 

MOKSA, NGAHIYANG, MUKSWA ATAU KAMUKSAN

Berbicara moksa, ngahiyang, mukswa, kamuksan, merupakan sebuah peristiwa perpindahan manusia dari dimensi planet bumi/wadag ke dalam dimensi gaib, alam kelanggengan atau keabadian. Biasa di sebut sebagai peristiwa kematian. Sama halnya dengan peristiwa kematian, tetapi kematian untuk menunjuk raganya saja. Sedangkan sukmanya masih akan terus hidup selamanya di alam keabadian. Kematian yang sudah bersifat umum, tentu saja yang mati raganya saja. Sedangkan kamuksan, moksa raga tidak mati, melainkah masuk ke dalam dimensi keabadian. Syaratnya cukup “sederhana” asalkan raga kita bersih atau suci dari segala macam kesalahan, terutama terhadap sesama manusia dan seluruh makhluk, dan selama hidup di dalam dimensi wadag planet bumi kita sangat memberikan manfaat seluas-luasnya kepada seluruh makhluk, maka akan memenuhi syarat untuk pindah tempat ke alam keabadian melanjutkan suatu kehidupan model baru. Secara singkat peristiwa ini digambarkan sebagai warangka manjing curiga, atau selongsong keris masuk ke dalam pamornya. Raga yang menyatu ke dalam sukma. Agak aneh dibayangkan, tetapi anda akan manggut-manggut begitu mafhum bila telah memahami rumus-rumus yang berlaku di alam gaib khususnya tentang hal ini. Sebab tak ada hal gaib yang tidak masuk akal. Jika masih belum masuk akal, ibarat dongeng, dapat dipastikan anda belum lengkap mengetahui rumus-rumus tuhan yang berlaku di alam gaib, khususnya peristiwa ini. Untuk mempermudah pengertian, peristiwa moksa sebagai kebalikan dari peristiwa kelahiran. Peristiwa lahir digambarkan secara simpel sebagai curiga manjing warangka, atau sukma yang manjing, menyatu ke dalam raga. Peristiwa ini tidaklah aneh, karena anda telah memang telah memahami rumus-rumusnya.

  1. Ada seseorang sudah memiliki rohnya sendiri yang asli. Ciri-ciri rohnya yang asli jika dilihat/tampak maka bentuk, gambaran, tubuh, wajah dan wujud rohnya sangat mirip dengan raganya. Nah, di samping itu raga tersebut sering digunakan oleh leluhurnya sendiri dan atau leluhur besar utk berkomunikasi dgn jagad wadag termasuk dgn sesama manusia. Sukma sejati leluhur tersebut seringkali masuk ke dalam raga seseorang tersebut, serta menjiwai dan mensifatinya. Kasus semacam ini kemudian saya pahami sebagai roh leluhur yang menitis ke dalam raga anak turunnya, bisa juga raga orang yang bukan anak turunnya.
  2. Ada seseorang dengan rohnya sendiri yang asli. Tapi banyak leluhurnya sendiri dan atau leluhur besar yang selalu membimbing dan mengarahkan langkah-langkanya dalam menapaki kehidupan ini. Kasus seperti ini saya sebut dijangkung dan dijampangi (dibimbing dan diasuh/diarahkan). Leluhur tersebut berfungsi ibarat sebagai guru besarnya.
  3. Ada pula seseorang yang selalu didampingi oleh seorang leluhur, bisa satu bisa dua leluhur sebagai pendamping intensif seseorang tersebut. Kasus ini ada yang menyebut sama dengan no 2, leluhur yang njangkung, tetapi secara khusus bisa disebut sebagai sang pamomong atau sing momong.
  4. Masing-masing orang, pasti memiliki guru sejati. Guru sejati tidak lain adalah sukma sejati kita sendiri. Wujud dan suaranya, mirip dengan wujud raga kita. Hanya bedanya sifat dan tabiatnya sangatlah arif dan bijaksana, karena guru sejati tidak terikat oleh raga kita yang seringkali banyak terkena polusi nafsu dan angkara murka.  Guru sejati merupakan wujud kesatuan antara sukma (ruh) dan rasa sejati (sir). Saat berkomunikasi dengan raga kita, bisa dilihat dalam wujud pada saat terjadi peristiwa di mana kita ketemu dan berdialog dengan “diri kita” (yang tampak sebagai badan halus).  Bagi yang tak bisa melihat, bisa merasakan getaran nurani kita sendiri, karena guru sejati biasanya mengirim sinyal kebenaran melalui getaran nurani. Guru sejati bersifat langgeng, abadi, dan tidak pernah melakukan kesalahan. Sebab  ia  berujud gaib dan sangat mudah berinteraksi di dalam alam kehidupan yang sejati (alam kelanggengan) di mana tak ada lagi tabir yang menutupi mana kebenaran sejati dan manapula “halusinasi” nafsu. Jadi sebenarnya setiap orang sudah memiliki sensor untuk memilah dan memilih mana kebenaran sejati dan manapula hanyalah “getaran” nafsu. Hanya saja, banyak orang yang tidak telaten mengolah batin sehingga jiwanya cenderung dikuasai oleh unsur-unsur ragawi (nuruti rahsaning karep). Celakanya, tidak sedikit orang yang kemudian salah menyangka bahwa getaran nafsunya dianggap sebagai getaran nurani. Ini lah sumber kesalahkaprahan. Sumber dari wolak-waliking jaman. Untuk itu, kita perlu suatu upaya untuk Mengolah dan Mempertajam Nurani.

 

Sumber Kutipan : Sabdalangit

Filed under: 6. Semua Arsip

One Response

  1. Harsono says:

    sangat luar biasa pemikiran Anda utk mudah menjelaskan dengan gambaran/simulasi dgn menganologkan kinerja perangkat komputer sehingga orang yang mau menyimak akan menjadi ada gambaran dan wawasan tentang sukma. jiwa dan raga. Terima kasih banget keterangan tersebut saya menjadi sangat tertarik dengan uraian hal tersebut. Kapan ya ada bimbingan atau semacam panduan agar saya bisa ikut-ikutan belajar melakukan mukswa/ngaraga sukma, saya tunggu lo uraian penjelasan berikutnya. Salam hormatku

Tulis Komentar Anda

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender Hijriah

Alih Bahasa / Translate

.

support by Google Translate

Daftar Isi

Status Pengunjung Blog

  • 62,317 Pengunjung
free counters

MASUKKAN ALAMAT EMAIL ANDA UNTUK BERLANGGANAN BLOG INI DAN MENERIMA PEMBERITAHUAN TULISAN / ARTIKEL TERBARU MELALUI EMAIL

Join 13 other followers

Twitter Updates

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: